Gagal Panen, Petani Matobe Menyesal Tanam Padi Jumbo

Gagal Panen Petani Matobe Menyesal Tanam Padi Jumbo Petani Dusun Keleu, Desa Matobe menjemur padi (Foto : Leo Marsen/MentawaiKita.com)

MATOBE—Petani sawah Desa Matobe, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai  menyesal menanam bibit padi jumbo atau padi gogo bantuan dari Pemerintah yang diterima pada Januari yang lalu sebab tak ada hasil yang mereka terima. Petani merugi karena menghabiskan waktu tanpa hasil.

Lindawati, salah satu petani sawah Dusun Keleu Desa Matobe mengatakan, dirinya rugi menanam bibit padi bantuan tersebut. Bibit tersebut didapat dari pengurus kelompok tani sawah Dusun Keleu pada Januari. 

Butir bibit padi jumbo tersebut berukuran lebih besar dari bibit yang mereka tanami seperti jenis pandan wangi dan siladang. “Melihat kemasan bertulisan padi jumbo, butirnya yang bagus dan besar awalnya kami tertarik dan memulai penyemaian bibit selama 3 hari, kemudian ditanami di sawah setelah 2 minggu tumbuh,” kata Lindawati kepada MentawaiKita.com, Senin (6/5/2019).

Luas lahan yang disiapkan Lindawati berukuran 10 x 20 meter yang memiliki tanah berlumpur. Jarak tanam 15-20 cm. sekira 1 bulan padi tersebut sudah berbuah dengan batang yang kerdil dan pendek yang berukuran tinggi sekira 30-40 cm. 

“Melihat keadaan padi yang tidak baik dan tidak ada tanda-tanda butir padi berisi maka saya tidak hiraukan lagi, saya dan petani sawah lainnya juga mengalami kegagalan yang sama dan kami menyesal,” ujarnya.

Tak berhasil dengan padi jumbo itu, Lindawati memutuskan akan menggarap sawah di daerah Sarere pada akhir Mei serentak dengan petani lain seluas 5 hektar. Bibit padi yang dipilih adalah pandan wangi yang berumur panen 2 bulan, siloreng dengan usia panen 2 bulan , simaingo umur panen 2 bulan, sokan umur panen 3 bulan, sibulau umur panen 3 bulan, siladang umur panen 4 bulan, beras merah usia panen 2 bulan, pulut hitam 2 bulan dan pulut putih 3 bulan.

"Biasanya saya pakai 9  jenis bibit ini, kami ada hasil misal ukuran lahan garapan 10x20 meter hasilnya gabah padi mencapai 2-3 karung ukuran 50 kg per karung, mudah-mudahan panen berikutnya berhasil,” katanya.

Regina Saogo, petani lain menyesal telah menanam bibit padi tersebut. Ia berharap seharusnya saat bibit diberikan disertai dengan petunjuk dan petugas penyuluh supaya tidak sia-sia.

”Kami bingung apa bibit jumbo tersebut pakai pupuk atau tidak kami tidak tahu, atau tanahnya di garap di tempat sawah berlumpur atau berair atau padi ditanam di darat atau kering, yang jelas kami semua yang menanam bibit jumbo bantuan tersebut kami  rugi dan menyesal satu ons beras saja tidak ada hasilnya," ujarnya.

BACA JUGA