(CEK FAKTA) Benarkah Kondisi BUMN Goyah?

CEK FAKTA Benarkah Kondisi BUMN Goyah Calon Presiden Prabowo Subianto dan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat Debat Capres, Sabtu (13/4/2019) malam. (Foto: ist)

JAKARTA- Prabowo Subianto, calon presiden dalam debat putaran terakhir Pilpres, Sabtu (13/4/2019) menyatakan bahwa kondisi BUMN di Indonesia saat ini goyah, padahal BUMN menjadi benteng terakhir ekonomi Indonesia. Dia mencontohkan kinerja Garuda Indonesia yang morat marit.

Benarkah kondisi BUMN di Indonesia goyah?

Mengutip dari Beritagar.id, kinerja bisnis Garuda Indonesia cenderung tak stabil. Pada 2014, perusahaan maskapai pemerintah ini merugi $371,9 juta. Namun pada 2015 dan 2016, Garuda sempat untung masing-masing $77,9 juta dan $9,3 juta. Pada 2017, maskapai ini kembali rugi $213 juta dan tahun lalu, Garuda bisa meraup margin $5,01 juta atau 0,11 persen dari penjualan $4,37 miliar.

Meski kinerja beberapa BUMN di Indonesia masih bermasalah namun setoran deviden menunjukkan kenaikan tipis. Berdasar data BUMN.go.id, pada 2014 hanya Rp36,2 triliun atau mengalami kekurangan Rp3,8 triliun. Tahun berikutnya, naik menjadi Rp37,13 triliun dan 2017 menjadi Rp43 triliun.

Gulfino dari Seknas Fitra menyatakan bahwa kinerja BUMN di Indonesia belum maksimal karena kontribusi deviden kepada negara hanya sekitar 5,6 persen saja. Sementara permodalan yang digelontorkan cukup besar.

“Besarnya modal belum berdampak pada kinerja BUMN, kondisi ini disebabkan karena BUMN kita menjadi bancakan elit dan menjadi alat politik,” katanya usai debat capres di Jakarta.

Menurut dia, BUMN harusnya menjadi benteng perekonomian negara karena dengan keterlibatan negara melalui PMN seharusnya mampu menambah pemasukan bagi negara melalui deviden. “Nyatanya, berdasarkan LKPP 2017, laba BUMN yang masuk pada APBN hanya 6,39% dari total PNBP. Padahal setiap tahun negara memberikan PMN. Tahun 2018 saja total PMN sebesar Rp2,3 triliun, 2017 PMN sebesar Rp6,4 triliun. Tata Kelola BUMN yang dikelola secara tidak profesional lah yang membuat BUMN tidak maksimal dalam mendatangkan deviden bagi negara,” katanya.

Senada dengan itu, Gurnadi Ridwan yang juga dari Seknas Fitra menambahkan, aset dan kekayaan BUMN sangat besar, Pada 2015 tercatat jumlah BUMN Indonesia sebanyak 116 dengan total aset mencapai Rp5.752 Triliun. 116 BUMN tersebut memiliki total pendapatan usaha mencapai Rp1.780 triliun.

“Karena itu sudah semestinya BUMN dikelola profesional, siapapun presiden terpilih nanti, tata kelola BUMN harus diperbaiki,” katanya.

KESIMPULAN:

Meskipun belum kokoh namun BUMN di Indonesia mencatat kenaikan setoran deviden yang tipis. Namun kondisi ini menjadi sinyal untuk memperbaiki kinerja BUMN agar lebih profesional.

BACA JUGA