Demi Kuliah Anak, Marlise Sakerebau Jadi Penambang Pasir

Demi Kuliah Anak  Marlise Sakerebau Jadi Penambang Pasir Marlise Sakerebau dibantu putranya mengangkut pasir di sungai Matobe (Foto : Supri/MentawaiKita.com)

MATOBE—Tak mau kalah dengan bapak-bapak yang ada di kampungnya, Marlise Sakerebau (46), ibu rumah tangga warga Dusun Sarere, Desa Matobe, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai ikut menambang pasir di sungai Matobe.

Marlise ingin mendapat uang dari penjualan pasir, uang itu ingin ia gunakan membayar kuliah anaknya Tetius Randi di Lampung. Ia menambang pasir pada saat air sungai surut sekitar pukul 08.00 WIB, kemudian istirahat pada 11.30 WIB. Usai istirahat ia kembali masuk ke sungai berendam selama berjam-jam dan menyelam mengambil pasir di dasar sungai hingga pukul 16.00 WIB.

Pasir yang ia ambil dari dasar sungai di tampung di atas perahu yang berukuran panjang 4 meter dan lebar sekitar 45 cm.

Setelah perahunya penuh dengan pasir, Marlise kemudian menepi ke sungai. Pasir itu kemudian diangkatnya menggunakan ember yang diangkut dengan gerobak kemudian ditumpuk di tepi jalan.

Saat libur, Marlise Sakerebau dibantu dua orang anaknya yang duduk di kelas 3 SDN 07 Matobe dan seorang lagi kelas 2 SMP. Saat air sungai deras Marlise tidak menambang pasir. Pasir yang diambilnya di jual kepada pemilik proyek pembangunan di Matobe.

Pasir yang diambil Marlise Sakerebau dijual kepada pembeli dengan harga Rp150 ribu per kubik, dalam satu minggu ia mengumpulkan pasir sebanyak 6 kubik.

“Berkat kerja keras kami sekeluarga sebentar lagi anak tertua saya yang kuliah di Lampung dengan jurusan Manajemen Ekonomi akan diwisuda, kalau tidak ada halangan dalam tahun ini, sebab kemarin kami sudah mengirimkan uang kepadanya untuk biaya wisuda Rp10 juta,"kata Marlise Sakarebau kepada MentawaiKita.com, Kamis (4/4/2019).

Meski harus membanting tulang, Marlise Sakerebau tetap bertahan agar  putranya, Tetius Randi menjadi sarjana. “Terus terang dialah yang menjadi kebanggaan kami, walaupun ekonomi kami bisa dibilang kurang mampu, demi anak-anak apapun akan kami lakukan, selain menjadi penambang pasir suamiku Frans Firo juga berkebun pisang, petai, dan jengkol, kalau tidak sekolah anak-anak dan suami ikut membantu mengambil pasir di dalam sungai Matobe,” ujarnya.

Yohannes (10), anak Marlise Sakerebau mengaku kasihan melihat ibu dan ayahnya mengambil pasir di sungai. “Kami merasa kasihan juga tapi apa boleh buat demi sekolah kami dan abang, kalau tidak sekolah kami membantu mamak dan bapak untuk mengambil pasir di dalam sungai, kalau hari sekolah kami membantu mama setelah pulang sekolah,” katanya.(


BACA JUGA