Pilih Sagu ketimbang Sawah

Pilih Sagu ketimbang Sawah Dua orang warga melintas di arel persawahan di Mariet Betaet, Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat yang gagal panen. (Foto : Bambang/MentawaiKita.com)

SIBERUT BARAT—Warga Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai memilih mempertahankan tanaman pangan lokal berupa sagu daripada beras. Alasannya selain lahan pertanian tidak ada, ketersediaan sagu cukup untuk kebutuhan pangan masyarakat.

Kepala Desa Simatalu, Stefanus Siribere mengatakan, pemerintah desa tak ingin mengubah pertanian yang menjadi ketahanan pangan masyarakat selama ini, misalnya membuka lahan sawah dengan membabat habis kebun sagu. 

"Tidak ada lokasi yang kosong untuk bersawah, yang kita pertahankan itu adalah kebun sagu dan memberdayakan masyarakat untuk mengolahnya," kata Stefanus Siribere kepada MentawaiKita.com, Selasa (19/3/2019). 

Stefanus menyebutkan, pemberdayaan yang dimaksud yaitu membantu masyarakat dari segi pembelian mesin penggiling sagu agar masyarakat yang selama ini mengolah sagu dengan cara memarut tradisional dibantu dengan mesin. 

"Masyarakat jadi terbantu, biasanya mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengolah sagu, dengan dibantu menggunakan mesin waktu lebih singkat sehingga waktu lainnya bisa dimanfaatkan untuk ekonomi lainnya," kata Stefanus yang juga pernah menjadi penyuluh lapangan Dispangpan Mentawai. 

Selain soal lahan, mempertahankan sagu sebagai pangan lokal menjadi salah satu langkah dalam menjaga ketahanan pangan lokal dibanding membiasakan masyarakat mengonsumsi beras yang didatangkan dari luar Simatalu. 

"Bayangkan kalau masyarakat sudah tergantung dari beras dan kapal dengan tidak masuk satu hingga tiga bulan karena badai. Masyarakat akan kelaparan karena tidak ada beras. Kalaupun ada stok disaat badai maka harganya akan melambung", katanya. 

Stefanus menyebutkan, warga Simatalu umumnya masih mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, sementara beras masih sebagai makanan tambahan.

Sedangkan di Desa Simalegi yang menjadi tetangga Simatalu memilih menanam sawah melalui Program Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangpan) Kabupaten Kepulauan Mentawai  dalam bentuk cetak sawah yang bertujuan memenuhi kebutuhan beras lokal namun pelaksanaan tujuan kegiatan itu tidak tercapai sebab sawah gagal panen.

"Belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, jangankan untuk masyarakat, untuk kebutuhan kelompok sawah tidak terpenuhi," kata Kepala Desa Simalegi, Piator pada MentawaiKita.com, Selasa (19/3/2019).

Piator mengatakan, sawah yang dibuka untuk kelompok sawah di Betaet Desa Simalegi pada 2017 di lokasi Mariat seluas 5 hektar terus mengalami gagal panen. Akibatnya masyarakat yang bersawah mulai meninggalkan sawah yang mereka buka. 

"Mestinya anggota kelompok sawah dapat menutupi kebutuhan berasnya sendiri apalagi dengan harga beras yang mahal di wilayah Kecamatan Siberut Barat," ujarnya. 

Sementara harga jual beras di wilayah Kecamatan Siberut Barat berkisar Rp15 ribu-18 ribu per kg saat kondisi normal seperti kapal dagang dan boat dari Pokai ke Siberut Barat lancar dalam satu bulan sekali. Namun bila musim badai yang membuat jalur transportasi laut terganggu harga beras melambung menjadi Rp20 ribu-25 ribu per kg. 

"Mestinya dilihat kendala yang terjadi itu terletak dimana, apakah dari segi bibit, pengolahan lahan atau bagaimana sehingga langkah yang diambil kelompok sawah dan pemerintah desa tepat," kata Stefanus Tanggau, Kepala Seksi Kesejahteraan masyarakat pada Kantor Desa Simalegi. 

Stefanus Tanggau menyebutkan, akses masyarakat menuju sawah sudah dibantu dan difasilitasi dari program pembangunan infrastruktur di tingkat Kecamatan Siberut Barat berupa jalan rabat beton pada 2018.


BACA JUGA