BBM Satu Harga Jauh dari Impian di Siberut Barat

BBM Satu Harga Jauh dari Impian di Siberut Barat Salah seorang warga Simatalu sedang mengisi bahan bakar sepeda motor (Foto : Bambang/MentawaiKita.com)

SIBERUT BARAT—Kebijakan bahan bakar minyak (BBM) satu harga yang dikeluarkan oleh pemerintah belum menyentuh seluruh daerah di Kabupaten Kepulauan Mentawai seperti di Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat.

Josef (23) salah seorang warga Dusun Simalibbeg Desa Simatalu mengatakan, harga premium di Simalibbeg dan Muntei yang menjadi pusat desa Rp15 ribu -16 ribu per liter. Harga ini bisa melambung bila persediaan bensin di tingkat pedagang menipis karena faktor tidak masuknya kapal dagang, boat dan musim badai. 

"Harganya bisa mencapai Rp25 ribu per liter, masyarakat juga tetap beli. Yang penting ada bensin, soal harga itu nomor dua," kata Josef kepada MentawaiKita.com, Jumat (22/3/2019). 

Namun, sejak 2017 keberadaan bensin di Simatalu tidak lagi mengalami kendala seperti tahun sebelumnya dimana bensin sering mengalami kelangkaan di tengah masyarakat karena bensin yang diambil pedagang yang ada di wilayah Simatalu dari Pokai, Kecamatan Siberut Utara mengalami kelangkaan. 

"Pedagang Simatalu dapat bensin dari pengecer di Pokai yang dibawa menggunakan kapal dagang atau boat," katanya. 

Selain harga bensin yang mahal, harga minyak tanah sebanding dengan harga bensin. Yang membedakan hal ukuran. Bila harga bensin satu liter Rp15 ribu, harga minyak tanah Rp15 ribu per botol ukuran botol bir bintang. 

"Yang penting ada. Kalau tidak ada maka masyarakat akan sulit ke ladang, ke dusun lain, ke pusat kecamatan karena sudah tidak biasa lagi mendayung, jalan kaki. Memang ada masyarakat yang menggunakan sampan dayung dan jalan kaki tapi tidak seperti dulu," ujarnya.

Kepala Dusun Polauruan, Saverius menyebutkan, minyak tanah penting untuk lampu dinding dan menghidupkan api. “Tapi sejak adanya lampu program Presiden Joko Widodo (lampu tenaga surya hemat energi) biaya minyak tanah jadi tertutupi," kata Saverius. 

Sebagai pemantik api tungku untuk memasak, kata Saverius, warga membakar platik kresek atau bahan-bahan yang menggunakan plastik, seperti pembungkus mie instan, makanan ringan dan lainnya. 

"Jadi tidak lagi pakai minyak tanah. Tapi masyarakat yang memasak pakai kompor minyak tanah ya harus rela beli minyak tanah," katanya. 

Suwandi, warga Simalibbeg lainnya mengatakan, setiap harinya untuk keperluan penerangam membutuhkan bensin satu hingga dua liter dengan biaya Rp15-30 ribu per malam. Bensin tersebtt digunakan untuk menghidupkan mesin genset agar dapat menghidupkan televisi di rumahnya. 

"Kalau soal lampu sudah sangat terbantu dengan lampu tenaga surya. Namun untuk televisi yang sudah ada di rumah mesti dihidupkan dengan mesin genset. Harga bensin memang mahal", katanya. 

Saat Suwandi sesekali ke Sikabaluan (Siberut Utara) membeli keperluan, ketika kembali ke Simatalu menggunakan kapal dagang atau boat akan membawa stok bensin yang harga di Sikabaluan jauh lebih murah. Pada tingkat pengecer di Sikabaluan saat ini Rp10 ribu, di tingkat pangkalan Rp6500-7000 per liter. 

"Kalau lagi ada uang kita beli 30 liter, minimal dapat bawa 10 liter", katanya. 

Tak hanya di wilayah Desa Simatalu, di Desa Simalegi, khususnya Betaet sebagai pusat kecamatan bensin menjadi persoalan mulai dari stok di tingkat pedagang dan harga. Harga normal premium di Betaet Rp10 ribu per liter, namun bila terjadi kelangkaan harga bisa menjadi Rp12-13 ribu per liter. 

"Apalagi dengan adanya SPBU di Pokai yang mewajibkan pembeli hanya bisa maksimal 5-10 liter. Sementara kebutuhan minyak boat saja untuk menjemput bensin sudah menghabiskan 150-400 liter bensin,"kata Juanda, salah seorang warga. 


BACA JUGA