Warga Muntei Simulasi Bencana Gempa dan Tsunami Menggunakan Tutdukat

Warga Muntei Simulasi Bencana Gempa dan Tsunami  Menggunakan Tutdukat Warga Muntei sedang memukul tutdukat Simulasi dini gempa dan tsunami. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MUNTEI-Warga Desa Muntei kecamatan Siberut Selatan telah melakukan simulasi dengan menggunakan alat komunikasi tutdukat yang diadakan langsung dijalur evakuasi di hadiri puluhan warga dengan mendengar aba-aba dari suara tutdukat yang dibunyikan oleh sikebbukat uma di Muntei.

Sikebbukat Uma dari suku Sakukuret, Aman Lima Kok mengatakan, setuju simulasi ini digunakan dengan menggunakan tutdukat karena mudah dipahami dan alat ini pun biasa digunakan oleh masyarakat, tinggal menyepakati suara dan ketukannya seperti apa sehingga bisa dipahami oleh masyarakat semuanya.

"Tutdukat di Mentawai sebenarnya hanya digunakan tiga fungsi untuk memberikan kabar kematian, buruan, dan peringatan bahaya, namun karena seringnya bencana dimentawai maka tutdukat ini akan dicoba dijadikan sebagai alat simulasi dini dan sukses, sudah diuji coba dan dibunyikan suara tutdukatnya dan suara tutdukat mencapai beberapa kilometer, semakin tinggi tutdukat diletakkan semakin jauh juga jangkauan suaranya," kata Aman Lima Kok, Jumat (22/3/2019).

Zulfadrim pelaksana simulasi dini mengakui masyarakat juga tidak sulit untuk diajak melakukan simulasi ini, jadi tingkat pemahaman, dan kesadaran masyarakat Mentawai sudah ada tinggal melanjutkan dan mengingatkan kembali agar tetap waspada dalam menghadapi bencana.

Puluhan warga Muntei telah mengikuti simulasi dini dengan menggunakan alat komunikasi tutdukat sanggar yang dibunyikan oleh warga setempat, ternyata setelah tutdukat dibunyikan warga langsung naik ke bukit dengan waktu dua menit lebih untuk mendaki bukit.

"Ternyata masyarakat lebih memahami suara tutdukat dan pendengaran mereka lebih tajam dan cepat sehingga laripun di atas bukit lebih cepat, hannya saja yang harus diperbaiki adalah jalur evakuasi karena ada beberapa jalur evakuasi yang licin, dan bersemak," kata Zul.

Kalau memungkinkan juga tutdukat akan fasilitasi kalau ada yang membantu disetiap titik akan di letakkan tutdukat, dan juga di bukit pengungsian terakhir akan diletakkan satu buah, saat gempa dan tsunami tutdukat dibawa akan dibunyikan. Setelah warga sampai di bukit juga dibunyikan beberapa kali agar masyarakat semua mendengar dan ini akan tetap ditindak lanjuti agar apa kendala yang ditemukan di lapangan dapat cari jalannya bersama.

"Saya berharap masyarakat bisa terbiasa dan tutdukat ini akan kita jadikan sebagai alat simulasi dini dalam mengurangi resiko bencana dimentawai,” katanya.

Sementara itu tutdukat adalah salah satu alat komunikasi di uma Mentawai salah satu fungsinya untuk memberi informasi untuk hasil buruan. Dulu membuat tutdukat tidaklah gampang dilakukan karena butuh biaya dan ada acara ritual tertentu karena alat itu sakral bagi orang Mentawai, yang menggunakan tutdukat juga mereka yang paham bagaimana bunyinya sesuai apa yang disampaikan.

Saat pembuatan tutdukat sipemilik Uma akan mencari bahan kayu (kulip) karena jenis kayu ini tahan lama dan tutdukat bisa dipakai turun temurun dalam satu suku.

Kepala Desa Muntei Agustinus Sagari mengatakan, sangat setuju tutdukat sebagai alat simulasi dini di Mentawai, tutdukat ada khususnya di Muntei masih digunakan oleh beberapa suku seperti suku Salakkopak, Sakukuret,dan beberapa suku lain, jadi bunyi tutdukat sudah disetujui ketika gempa atau stsunami ada akan dibunyikan dengan nada (bebeilek matat sigegeugeu) dan ketika stsunami akan dibunyikan (bebeilek matat onu)

"Dua nada inilah yang digunakan saat gempa dan stsunami datang, jadi ketika masyarakat mendengar suara tutdukat yang dibunyikan salah satu warga maka itu pertanda ada bencana yang mengancam segara evakuasi dibukit yang sudah ditentukan," kata Agustinus kepada Mentawaikita.com, Kamis (21/3/2019).

Suara tutdukat ini juga akan dipelajari oleh anak anak mudah dan orang tua agar semua warga bisa mengetahui suaranya dan fungsinya apa agar saat bencana ketika mendengar tidak kesulitan. “Tutdukat ini juga sudah diuji coba jika dibunyikan diatas bukit semua warga Muntei akan mendengar jadi, kecuali berada dilaut atau ditempat tempat lain yang jauh,” katanya.

Sedangkan untuk jalur evakuasi di Desa Muntei ada tiga jalur kondisinya sudah dibeton namun belum memadai jalannya masih licin dan bersemak, tahun ini akan dibersihkan. “Harapannya tutdukat yang digunakan simulasi dini ini bisa berfungsi dan berguna bagi masyarakat Mentawai khususnya muntei," katanya.

Camat Siberut Selatan Hijon, setuju tutdukat akan digunakan sebagai alat simulasi dini karena memang dari dulu orang Mentawai setiap ada bencana atau informasi mendadak tutdukat akan dibunyikan diuma.

"Dengan adanya kerja sama pemerintah dan masyarakat mencari solusi bahwah tutdukat juga bisa difungsikan sebagai alat komunikasi untuk sumalasi dini, saya berharap setiap daerah bisa dilakukan agar pengetahuan ini bisa dinikmati oleh masyarakat banyak disiberut," kata Hijon. 

BACA JUGA