Agar Bertahan Selama Sekolah, Pelajar Simatalu Makan Hanya Sekali Sehari

Agar Bertahan Selama Sekolah Pelajar Simatalu Makan Hanya Sekali Sehari Pelajar Simatalu yang menempati asrama di Saibi, Kecamatan Siberut Tengah (Foto : Rinto/MentawaiKita.com)

SAIBI SAMUKOP—Pandangan mata Fabianus Sabelensirik (18), siswa kelas 8 SMPN 1 Siberut Tengah, asal Limau Barat, Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai lurus menatap pepohonan yang berada bukit Saibi sebelah utara asrama yang dia tempati. 

Ia duduk bersama dua orang temannya di teras lantai asrama yang berada di Koromimit Monga, Desa Saibi, Kecamatan Siberut Tengah bersama dua temannya, siang itu sepulang sekolah. Tatapannya sayu, mereka seakan menunggu seseorang yang akan datang mengunjungi mereka.

"Cuaca panas sekali Bang, jadi sejuk rasanya duduk di teras asrama ini, kebetulan baru pulang sekolah sambil menunggu sesuatu juga ini," kata Fabianus saat ditanya MentawaiKita.com, Selasa (19/3/2019).

Maksud Fabianus  mengatakan menunggu sesuatu merupakan bahasa khas anak-anak asrama yang tinggal jauh dari kampung asalnya. Yang ditunggu merupakan kiriman makanan dari orang tuanya di Simatalu yang tak kunjung datang padahal sudah lewat sebulan. 

“Tadi sepulang sekolah dapat makanan dari adik perempuan saya yang juga sekolah dan tinggal di rumah guru-guru di sini, iya lumayanlah dapat mengurangi rasa lapar," ucapnya.

Fabianus menyebutkan, biasanya sekali seminggu orang tuanya datang mengantar makanan berupa sekarung sagu ukuran 20 kilogram yang termasuk juga uang keperluan sekolah, minimal Rp50 ribu dan maksimal Rp100 ribu.

Sagu itu jika dihemat dapat bertahan selama seminggu setengah, tetapi terkadang seminggu sudah habis. “Tapi kali ini, orang tua saya tidak datang, saya dapat kabar, lagi sibuk di kampung dan sedang kerja di bangunan," tuturnya.

Kehabisan makanan memang sering kali dialami siswa yang bercita-cita jadi guru ini, ia sadar tak mudah orang tuanya mengantar makanan dengan akses jalur darat yang sangat sulit, belum ada jalan. Bagi orang yang biasa menempuh medan yang melewati bukit dan jalan setapk itu, dari Simatalu berangkat pukul 07.00 WIB dan baru sampai di Saibi sekira pukul 18.00 WIB.

Fabianus sadar betul kondisi itu, saat mengalami krisis seperti itu, ia terpaksa mencari pekerjaan dari warga agar dapat membeli makanan sambil menunggu kiriman orang tua. Pekerjaan yang ia lakukan serabutan, yang paling sering membersihkan ladang warga dengan upah Rp25 ribu setengah hari kerja.

"Sebenarnya kebutuhan untuk beli makanan tidak cukup, tapi dicukupkan saja, kadang pergi sekolah tidak sarapan, hanya bisa makan sekali dalam sehari, cuma cara ini kami bisa bertahan dan tetap sekolah," kata Fabianus sambil tersenyum kecut.

Ia tak bisa pulang kampung saat makanan habis sebab jaraknya sangat jauh. Menuju Simatalu Fabianus dan anak sekampungnya melewati jalan setapak yang membelah hutan  Taman Nasional Siberut kemudian menapaki perbukitan kemudian menyeberang sungai. Saat tak ada sampan untuk menyeberangi sungai mereka biasanya berenang agar tiba di seberang.

“Kalau cuaca kurang bagus, kita sering kena banjir sungai, tak ada alasan tetap kita seberangi karena sudah biasa aja, tantangan ini yang sangat banyak, tapi kalau saja dibangun jalan bagus itu sudah sangat luar biasa dari pada kita sekolah di Betaet yang aksesnya 2 hari baru sampai, mending sekolah di sini lebih dekat," tuturnya.

Fabianus dan teman-temannya hanya pulang saat libur sekolah selama seminggu seperti pada lebaran, natal dan tahun baru.

Lasan Hendri Saeppunu (18), siswa kelas 10 SMAN 1 Siberut Tengah asal Dusun Suruan Desa Simatalu menyebutkan, untuk kebutuhan makanan juga dikirim atau diantar orang tuanya sebulan sekali sebanyak 1 tampin sagu dan uang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

Sagu tersebut dapat habis selama 2-3 bulan dan pengiriman makanan ini juga tidak rutin dilakukan orang tuanya. “Pernah putus makanan, iya pilihannya harus berupaya cari kerja di sini," ujarnya.

Lasan mengaku sekolah di Siberut Tengah sejak tahun lalu setelah menamatkan SMP di Simatalu. "Yang kita harapkan kini mesti ada sekolah SMA lagi yang dibangun pemerintah di Simatalu, agar adik-adik kami dapat sekolah di kampung halaman, dan tidak susah seperti kami sekarang ini," ucapnya.

Jika libur hanya sekolah hanya seminggu, Lasan mengaku tak pulang kampung seperti temannya yang lain sebab jarak kampungnya lebih jauh dari yang lain. Dari Saibi ke kampung Lasan di Suruan menghabiskan waktu selama tiga hari perjalanan. Jadi jika pulang pergi menghabiskan selama enam hari.

“Saya pulang kampung itu saat libur panjang saja, jika seminggu libur lebih baik bertahan di sini sambil cari kerjaan," ujarnya.

Jika sudah libur panjang, pulang kampung pun di tengah perjalanan banyak tantangan yang dihadapi, misalnya hujan lebat di tengah perjalanan, belum lagi serangan lintah hutan yang mengisap darah.

“Ketemu ular berbisa juga sering kali, tapi dalam perjalanan ini jika kemalaman, terpaksa mencari pondok ladang warga untuk menginap dan bila lapar yang kami makan itu umbul pohon nibung," tuturnya.

Meski banyak kegetiran yang dilalui Lasan, dirinya bertekad menamatkan SMA di Siberut Tengah. "Saya tetap di sini sekolah sampai tamat, lalu melanjut ke perguruan tinggi, jadi kini biarlah kami begini, mau apa lagi, mau pindah sekolah di luar lagi tidak bisa, butuh biaya tinggi, kalau ada sekolah SMA di kampung yang pastinya lebih pilih di kampung dari pada di sini," ujarnya.

Pelajar asal Simatalu yang berada di Saibi sekira 20 orang dari tingkat SMP dan SMA. Kini pelajar-pelajar tersebut tinggal di Asrama Siberut Tengah yang dibangun sejak 2015. Beberapa masih tinggal di pondok-pondok peninggalan guru-guru asal Simatalu yang pindah ke daerah Mentawai yang lain. 


BACA JUGA