Buah Sedikit, Warga Sirilogui Tak Semangat Panen Cengkeh

Buah Sedikit Warga Sirilogui Tak Semangat Panen Cengkeh Warga Sirilogui, Kecamatan Siberut Utara menjemur cengkeh (Foto : Bambang/MentawaiKita.com)

SIKABALUAN—Panen cengkeh awal 2019 tak begitu menggairahkan warga Desa Sirilogui,  Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai sebab buah yang dihasilkan tidak banyak. 

Kepala Desa Sirilogui, M.Abetnego mengatakan, jika dibandingkan panen kali ini dengan tiga tahun lalu sangat berbeda. Pada tiga tahun lalu masing-masing warga mendapat sekitar 500 kilogram cengkeh kering namun sekarang tidak.

"Panen kali ini tidak ramai, tidak seperti tahun 2014-2015 lalu yang rata-rata pemilik kebun cengkeh di Sirilogui menghasilkan setengah ton cengkeh kering," katanya kepada MentawaiKita.com, Minggu (17/3/2019).

Abetnego menyebutkan, pohon cengkeh yang berbuah hanya bagian Uai, perkebunan cengkeh warga arah Puran, Desa Muara Sikabaluan. Meski begitu buahnya tak selebat seperti panen raya. 

"Kadang dalam satu bidang itu hanya berbuah beberapa pohon saja. Ada juga yang berbuah semua tapi tidak lebat," katanya. 

Pada panen raya 2014-2015 lalu, kata Abetnego masyarakat kewalahan untuk memanen. Sehingga untuk membantu melakukan panen beberapa pemilik kebun cengkeh mendatangkan warga tetangga menjadi buruh petik buah cengkeh. 

"Setidaknya 200 kepala keluarga yang punya kebun cengkeh punya tenaga buruh masing-masing. Bahkan ada yang nekad jual buah di batang karena takut tidak terpanen," katanya. 

Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat pada waktu itu meningkat, banyak masyarakat yang membuka usaha jualan kebutuhan warga dan makanan, minuman yang didominasi warga pada waktu panen raya seperti roti, kue dan minuman kaleng. 

"Saya juga sempat buka kedai waktu itu karena banyaknya uang beredar di masyarakat," ujarnya. 

Selain itu, warga yang memiliki uang karena panen raya seakan berlomba membeli barang elektronik dan sepeda motor. Setidaknya, pada panen raya waktu itu jumlah sepeda motor di Sirilogui melebihi 30 unit dari harga Rp5 juta hingga harga Rp35 juta. 

"Bibit cengkeh yang baru juga dibeli masyarakat di Padang sehingga luas kebun cengkeh menjadi bertambah dua kali dari luas sebelumnya," katanya. 

Hal yang sama terjadi dibagian perkebunan cengkeh wilayah Bose, Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara. Masyarakat yang berkebun cengkeh di wilayah Bose, Babaluan pada tahun ini terlihat sepi. 

"Tidak merata dan tidak banyak. Paling dalam satu batang itu hanya dapat 1 kg cengkeh kering dari beberapa pohon," kata Firdaus (28), warga Bose.

Sementara harga beli cengkeh kering di tingkat pengumpul antara Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kg.

Berdasarkan data pokok di kantor camat Siberut Utara, kebun cengkeh terluas dari enam desa yang ada yaitu Desa Sirilogui dengan luas 276 ha dari 318 kepala keluarga, lalu Desa Muara Sikabaluan seluas 95 hektar dari 642 kepala keluarga, Desa Malancan seluas 22 hektar dari 586 kepala keluarga, Desa Monganpoula seluas 10 hektar dari 262 kepala keluarga dan Desa Sotboyak seluas 5 hektar dari 181 kepala keluarga. 


BACA JUGA