Cengkeh dan Pinang, Komoditi Andalan Petani Siberut Tengah

Cengkeh dan Pinang Komoditi Andalan Petani Siberut Tengah Lukpin, petani cengkeh di Saibi Samukop sedang membersihkan ladangnya. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

SAIBISAMUKOP-Hembusan angin terasa sejuk pagi itu di bukit Sigaitaligei,cuaca yang cerah membuat pemandangan laut dari bukit lepas tanpa batas. Suasana yang indah tersebut tak membuat Lukpin Jalismar Sikatsila(40), seorang petani lelah bekerja, dia membersihkan rumput kebun cengkehnya.

"Kita mau membersihkan rumput ini karena sudah lama bersemak, apalagi buah cengkeh tahun ini banyak dari sebelumnya, sambil juga menjaga dan menunggu panen,kalau tidak sering ke sini buahnya yang belum panen ini sudab dicuri orang," ujar Lukpin sambil mengayunkan parangnya membabat rumput, Sabtu (9/3/2019).

Dia memiliki 30 batang cengkeh dan sudah berbunga lebat sekira 20 batang sedang sisanya masih belajar berbunga. Biasanya tiga kali setahun, pohon-pohon cengkeh panen bunga, rata-rata, tiap pohon bisa menghasilkan 100 tekong susu bunga mentah (yang belum kering). “Jika kering, bisa dijual Rp80 ribu per kilo, biasanya 100 tekong susu kalau dikeringkan bisa mendapat 5 kilogram cengkeh kering," katanya.

Karena hasil yang bagus, cengkeh menjadi tanaman andalan Lukpin untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sekali panen, hasilnya bisa untuk ditabung, selain untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga. “Sekali panen saja sungguh sangat luar biasa membantu  ekonomi kita di saat situasi serba sulit ini," ucapnya.

Dari menjual cengkeh, Lukpin bisa mendirikan rumah dan membiayai sekolah anak-anaknya. “Anak-anak kita kini masih sekolah tingkat SMP dan SMA, kalau mau ke jenjang lebih tinggi, cengkeh inilah yang diharapkan ,sama halnya juga petani lainnya, bisa menyekolahkan anak-anaknya hasil cengkeh ini," katanya berharap.

Penduduk Saibi Samukop terutama yang berada di pusat kecamatan rata-rata punya kebun cengkeh di Sigaitaligei dan Masoggui. Panen cengkeh tahun ini diperkirakan April dan Mei mendatang.

Selain cengkeh, tanaman pinang juga andalan ekonomi warga sehari-hari. Adrianus Sagaragara (38), seorang warga memiliki 1.000 batang pinang di kebunnya seluas 2 hektar di Simoilaklak.

Pinang tersebut sudah berbuah sejak 5 tahun lalu. Setiap hari panen bisa mencapai 30-60 kilogram pinang kering yang bisa dijual Rp9ribu hingga Rp10 ribu per kilogram. "Hanya saja panen kali ini produksinya sudah sedikit berkurang sekira 20 kilogram ke bawah," ujarnya di ladang pinangnya.

Dijelaskan Adrianus, selain pinang tak ada lagi yang mesti diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meski harga tidak menentu. "Kalau tidak saya tanam pinang, mungkin keluarga saya sulit perekonomian, selain selain pinang juga saya tanam juga gaharu dan karet untuk kebutuhan ke depannya," ucapnya.

BACA JUGA