Murid SD Bekkeiluk Terpaksa Libur Saat Ada Rapat Dusun

Murid SD Bekkeiluk Terpaksa Libur Saat Ada Rapat Dusun Anak-anak Dusun Bekkeiluk (Foto : Hendrikus/MentwaiKita.com)

BEKKEILUK-Murid SD Bekkeiluk terpaksa libur ketika bangunan yang mereka pakai sehari-hari untuk belajar digunakan masyarakat melaksanakan rapat dusun sebab rumah yang mereka gunakan adalah balai Dusun Bekkeiluk, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulaun Mentawai

SD Bekkeiluk merupakan filial dari SD Santa Maria Muara Siberut yang berdiri pada 2010. SD Santa Maria membuka pendidikan di dusun yang masuk daerah Silak oinan tersebut sebab prihatin melihat banyak anak usia sekolah yang tidak bersekolah sebab tidak ada sekolah di daerah tersebut.

“Pada saat pemerintah dusun menggunakan balai untuk kepentingan umum seperti ada rapat dan kepentingan umum lainnya terpaksa siswa harus diliburkan. Ini kendala kami khususnya di dusun Bekkeiluk,” kata Eriana Sagoiso Uma, Guru SD Bekkeiluk kepada MentawaiKita.com, Minggu (24.2.2019).

Eriana Sagoiso Uma mengatakan, telah tiga tahun mereka menggunakan balai dusun menjadi tempat belajar. Balai dusun itu tidak memiliki dinding pembatas layaknya kelas belajar meski SD itu terdiri dari 3 kelas. Murid di sekolah itu sebanyak 16 orang yang diajar oleh 2 orang guru.

“Mebeler balai juga kami gunakan untuk belajar, sebelum pindah ke balai, anak anak belajar di gereja lama,” katanya.

Setelah tamat sampai kelas III di sekolah itu, mereka harus melanjut ke kelas IV di Dusun Salappak, yang bertetangga dengan Bekkeiluk. Anak-anak Bekkeiluk menempuh perjalanan selama 1 jam berjalan kaki untuk mencapai Dusun Salappak.

Kepala Dusun Bekkeiluk, Nikodemus Sagulu mengaku prihatin melihat kondisi sekolah di kampungnya karena tidak memiliki gedung sendiri. Sebelum memakai balai dusun, murid-murid itu memakai gereja Katolik untuk belajar namun pada 2015 gedungnya rusak sehingga mereka pindah ke balai dusun yang dibangun Pemdes Muntei.

Selain gedung, Nikodemus kasihan melihat anak-anak yang melanjut ke kelas IV tiap hari pulang pergi berjalan kaki ke Salappak yang memiliki kelas yang lengkap. 

"Setiap hari anak-anak, setiap pagi mereka berjalan kaki selama 1 jam lebih melewati jalan semen dan menyeberangi jembatan yang kondisinya sudah mulai rusak, dan kendala lain juga ketika banjir anak-anak tidak akan sekolah dan kadang di antar dengan orang tua,” kata Nikodemus.

Tak hanya Bekkeiluk, murid SD Magosi juga melanjut di kelas IV SD Salappak sebab di dusunnya hanya sampai kelas III. Kepala Dusun Magosi, Boas Sabojiat mengatakan, anak-anak harus menyusuri perladangan warga melalui jalan setapak yang berlumpur untuk sampai di Salappak.

“Namun saat ini dengan adanya pembukaan jalan Salappak-Magosi sudah mempermudah anak-anak untuk menuju lokasi sekolahnya,” kata Boas saat ditanya di Desa Muntei. 

BACA JUGA