Kelas Unggul Tak Lagi Ditanggung Pemda Mentawai

Kelas Unggul Tak Lagi Ditanggung Pemda Mentawai Salah satu siswa asrama kelas unggul sedang piket membersihkan lantai. (Foto: Toro/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tak lagi membiayai anak-anak Kelas unggul yang ada di Sekolah Menengah Atas Negeri(SMAN) 2 Sipora sejak tahun 2017 lalu. Hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Sipora, Helimursida saat ditemui di ruang kerjanya Jumat (22/2/2019), ia mengatakan bahwa sebelum SMA dipindahkan ke Provinsi, kelas unggul yang terdiri dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sisoal (IPS), masih ditanggung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

“Kalau sekarang tidak lagi, kalau dulu kelas unggul itu masih dibiayai Pemda, pengurusnya dari Dinas terkait waktu itu, namun setelah SMA ini pindah ke Provonsi, tidak ada lagi,” kata Helimursida.

Lebih lanjut dijelaskannya, kelas unggul ini mulai sejak tahun 2014 sampai 2017 lalu, kurang lebih tiga tahun berjalan akhirnya SMA ditarik oleh Pemerintah Provinsi hingga saat ini. “Dulu selalu diurus sama orang dinas, pagi diantar sarapan anak-anak, sekitar jam 10.00 WIB diantar lagi makanan ringan mereka, kalau sudah siang diantar makan siangnya, kemudian sore dan makan malam selalu diantar,” ujar Kepala Sekolah SMAN 2 Sipora.

Ia menyebutkan kemungkinan Pemprov tidak memiliki biaya untuk anak-anak kelas unggul dan juga pihak Pemda Mentawai tidak melimpahkan pembiayaan anak-anak ke Pemprov atau Disdikbud Provinsi.

“Kalau sekarang masih ada kelas unggul, tapi bukan lagi biaya dari Pemda, itu biaya pribadi lagi, cuma kita masih menampung anak-anak yang tidak punya keluarga disini (Tuapeijat), jadi kita sediakan tempat dari pada kosong begitu saja kan asramanya, ya kita manfaat untuk anak-anak yang sekolah disini dari jauh, seperti Siberut atau Sikakap,” ungkap Helimursida.

Bukan hanya itu, kegiatan sekolah seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Olimpiade Sains Nasional (OSN), Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) serta kegiatan-kegiatan sekolah SMAN 2 Sipora tidak ada lagi, bahkan tidak diikutkan karena biaya untuk siswa mengikuti lomba tidak ada.

“Kalau biaya pendamping atau guru-gurunya masih bisa kita carikan, tapi kalau biaya untuk anaknya tidak ada, kalau dulu kita masih di Pemda selalu ada dan anak-anak selalu diikutkan lomba,” ujar Helimursida.

Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kortanius Sabeleake menyayangkan hal ini terjadi, sebab baru tiga tahun berjalan kelas unggul, akhirnya SMA ditarik ke Provinsi.

“Sebenarnya kita kecewa, tujuan kita ini kan nanti anak-anak yang tamat SMP juara 1, 2 dan 3 bisa kita masukkan di sini (kelas unggul) tapi sekolah diambil alih oleh Provinsi, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Ia menambahkan, semua fasilitas sekolah masih biaya Pemda Mentawai sebelum pindah, baik gedung sekolah maupun fasilitas UNBK atau Komputer.

Sementara pengawas asrama putra kelas unggul, Aris Rusman, dia menyampaikan bahwa sebelumnya anak-anak SMA unggul hanya tinggal sekolah saja dan tidak perlu memikirkan uang makan dan biaya lainnya, sebab semua sudah ditanggung oleh Pemda Mentawai.

“Kalau dulu mereka tinggal sekolah, tidak perlu mikir makan dari mana atau biaya lainnya, semuanya disediakan oleh Pemda, tapi sayang sekali sejak pindah SMA ke Provinsi tidak ada lagi pembiayaan,” ujarnya.

Saat ini anak-anak SMA unggul yang tinggal di asrama kurang lebih 21 orang, 11 dari itu merupakan laki-laki sisanya perempuan. Sementara anak-anak yang tinggal di asrama harus memasak sendiri dan menunggu kiriman makanan dari orang tuanya di kampung halaman.

Orfaina Saleleusik (19) asal Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya salah satu siswa kelas unggul yang masuk tahun 2016 silam, ia pernah mengalami dibiayai Pemda selama 6 bulan lamanya sebelum SMA diambil alih oleh Provinsi tahun 2017.

Orfaina menceritakan selama 6 bulan ia dan teman-temannya serasa hidup mewah, bagaimana tidak, semuanya dipenuhi oleh Pemda Mentawai, baik makanan, snack, selalu diberikan, namun setelah SMA diambil alih Provinsi semua terasa berubah.

“Enak ! Makan dikasih, snack, sekolah sore ada, semuanya diperhatikan, pulang sekolah istirahat, setelah itu pergi les atau sekolah sore, tapi sekarang kami masak sendiri, pulang sekolah memasak dulu, waktu kami istirahat tidak ada lagi, tidak sempat, belum lagi memasak, buat tugas, jadi itulah,” ungkapnya haru.

Dia juga menyampaikan ingin kembali seperti dulu, meski stok makanan di asrama selalu ada dikirim orang tua, tapi ia ingin merasakan kembali adanya waktu istirahat. Ia juga menyebutkan pernah menangis karena kehabisan uang belanja sama sekali, kiriman orang tua dari kampung terlambat datang.

“Pernah, kosong sekali, sempat nangis. Kalau makanan sih jarang habis tok, kalau pisang habis atau keladi, masih ada beras meskipun lauknya tidak ada. Kalau asrama kami tidak bayar” tuturnya.

Ia masuk kelas unggul sebelumnya dilakukan tes dan penyaringan dari beberapa sekolah, di Siberut, dan akhirnya dia salah satu yang lulus dan sekolah di SMAN 2 Sipora sebagai siswa kelas unggul.

Orfaina yang duduk di bangku kelas XII (dua belas atau kelas tiga SMA) sebentar lagi akan mengikuti UASBN-BK dan UNBK yang mendatang.

BACA JUGA