Sadar Ancaman Tsunami, Warga Saibi Mulai Pindah ke Bukit

Sadar Ancaman Tsunami Warga Saibi Mulai Pindah ke Bukit Katarina Siriratei (65) di depan pondoknya yang berada di bukit Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah, Mentawai. Dia pindah ke bukit karena khawatir dengan ancaman tsunami. (Foto: Rinto/Mentawaikita.com)

SAIBISAMUKOP-Areal dataran tinggi yang menjadi lokasi evakuasi saat gempa dan ancaman tsunami di Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah Kepulauan Mentawai mulai dijadikan pemukiman tetap oleh masyarakat setempat. Dari pantauan Mentawaikita.com, saat ini ada lima pondok pengunsian yang masih ada di sana, lainnya mulai berdiri rumah-rumah warga terutama meunuju arah Kantor camat.

"Dulunya saat gempa beberapa tahun lalu, kita hanya buat pondok pengungsian di sini,tapi kini kita buatkan rumah langsung untuk tempat tinggal," ujar Sunardi Keletus Sakerebau (39), warga Saibi yang kini menetap di bukit, Rabu (20/2/2019).

Sudah hampir setahun lamanya Sunardi pindah ke dataran tinggi meskipun dia juga punya rumah di bawah yang berada dekat pantai. "Bila gempa yang pastinya kita aman di sini,selain itu juga kita bisa merawat dan membersihkan kebun cengkeh kita langsung yang sedang berbunga," ucapnya.

Selain yang di atas bukit, kiri kanan jalan yang menjadi jalur evakuasi ke perbukitan juga sudah dipenuhi rumah-rumah warga hingga ke perkebunan cengkeh. "Kita berkeinginan buat pondok atau rumah di bukit ini, dasarnya Mentawai rawan gempa, agar kita aman bila gempa terjadi," ujar Hendrikus Sageileppak(28) warga lainnya yang bermukim di bukit.

Dia mengaku membuat rumah di bukit bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya namun juga untuk orang lain. "Dulu waktu seringnya gempa,pondok saya penuh dengan warga lainnya yang datang mengungsi, jadi kalau gempa datang, warga yang belum punya pondok boleh mengungsi di tempat kita, jadi warga lainnya juga mulai berangsur-angsur membuat rumahnya di sini," katanya.

Katarina Siriratei (65) juga demikian. Dia sengaja menetap di bukit bersama suaminya karena takut dengan gempa. "Rumah kita ini dibuatkan anak-anak, karena kami yang sudah tua ini saat gempa datang nanti tentu capek ke bukit, lebih baik dibuatkan rumah dan nyaman tinggal dan tidak terlalu terpikirkan gempa itu lagi," ujarnya.

Dulu, sebelum pengetahuan soal megathrust Mentawai dan ancaman tsunami diketahui warga, areal perbukitan di Saibi jarang ditinggali warga kecuali pondok ladang untuk berkebun dan beternak ayam. Meskipun sudah banyak pondok dan rumah di dataran tinggi, namun masih banyak warga Saibi yang bermukim di pusat desa yang berada di dataran rendah dekat pantai.

Jika ada gempa, biasanya warga di bawah mengungsi ke bukit melalui enam jalur jalan evakuasi yang sudah ada. Namun dari enam jalur evakuasi itu, sebagiannya rusak parah sementara sebagian lainnya sudah diperbaiki Pemerintah Desa Saibi Samukop.

Hendrikus Sageileppak (28), warga Pangasaat mengatakan, jalur evakuasi dari Pangasaat sudah bagus karena sudah dibangun melalui dana APBDesa tahun lalu. "Kalau kita berlari mungkin tidak jauh kita sampai di bukit karena jalannya bagus, tapi lingkungan bukit di sini itu yang sudah rusak," katanya, rabu (20/2/2019).

Sementara di Masoggunei, menurut warga Rekno Dier Siribetuk (30),  jalannya tidak bagus karena sbanyak batu dan lubang. “Akan membahayakan keselamatan," katanya.

Menurut Rekno, jalan yang rusak akan menyuliskan saat evakuasi karena warga panic dan smeuanya mau cepat sehingga bisa terjadi kecelakaan. “Pemerintah harus perbaiki jalan ini,” katanya.

Hal sama dikatakan Charles(37), jalan evakuasi Masoggunei dekat pantai semuanya sudah hancur. "Mulai dari bawah menuju bukit itu ke utara ada 1 km sudah hancur," ujarnya.

Dia berharap pemerintah membangun kembali jalan yang bagus agar bisa dilewati termasuk memperlebarnya. “Jika tidak bukan gempa yang buat kita mati nantinya tapi kondisi jalan yang rusak karena kita berdesakan," katanya.

BACA JUGA