Sekolah yang Terancam Bencana

Sekolah yang Terancam Bencana Pembukaan jalan tanah yang bersemak menuju Bukit Tamairang oleh siswa SMAN 1 Siberut Utara agar bisa menjadi jalur penyelamatan diri dari ancaman tsunami. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Keluarga besar SMAN 1 Siberut Utara yang terletak di jalan Sikabaluan-Pokai Kecamatan Siberut Utara Kepulauan Mentawai merasa tidak tenang dengan ancaman gempa megathrust Mentawai yang diprediksi berkekuatan M=8,9. Hal ini bukan tanpa alasan. Sekolah yang berhadapan langsung dengan laut, hanya berjarak sekira 15 meter menjadi ancaman nyata.

"Musim badai saja hempasan gelombang bisa sampai ke halaman sekolah", kata Yustinus Sabebegen, salah seorang guru SMAN 1 Siberut Utara pada Mentawaikita.com, Jumat, 15 Februari 2019.

Lebihlanjut dikatakan Yustinus, letak sekolah yang berjarak 1,5 Km arah Sikabaluan atau 5,5 Km arah Pokai membuat rentan terhadap ancaman gempa yanh disusul tsunami mengingat jarak tempuh untuk menyelamatkan diri yang cukup jauh.

Bila terjadi gempa dan ingin lari ke lokasi pengungsian Tamairang yang menjadi satu-satu datttaran tinggi tempat pengungsian warga Desa Muara Sikabaluan khususnya warga Dusun Nangnang dan Dusun Muara, siswa SMA dan guru mesti menempuh jarak sekitar 5 Km.

"Itu pun kita harus melewati jalan yang sejajar dengan pantai untuk sampai simpang menuju jalan Sikabaluan-Monganpouka sepanjang 1,5 Km. Dari simpang itu kita kembali bergerak menuju simpang Tamairang tempat mengungsi yang berjarak 3,5 Km, " katanya.

Berbeda dengan SMPN 1 Siberut Utara. Sejak Januari 2019, SMPN 1 Siberut Utara sudah melaksanakan proses belajar mengajar di lokasi sekolah yang baru yang terletak di jalan Sikabaluan-Monganpoula yang berjarak 4 Km dari sekolah lama. Awalnya SMPN 1 Siberut Utara berlokasi dekat pantai yang berjarak sekira 20-30 meter dari pantai dan menjadi langganan banjir rob atau pasang naik air laut.

Guna mengantisipasi ancaman megathrust yang berpotensi disusul tsunami, SMAN 1 Siberut Utara membuat jalur evakuasi darurat di depan sekolah menuju bukit Tamairang. Pembuatan jalur evakuasi ini berdasarkan instruksi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. "Sekolah mendapat instruksi dari dinas agar sekolah membuat tanda dan jalur evakuasi," kata Paulus Sikaraja, Kepala SMAN 1 Siberut Utara.

Dikatakan Paulus, pembuatan tanda dan jalur evakuasi dikerjakan oleh siswa yang dikoordinir oleh Sispala (Siswa Pencinta Alam), Osis (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Pramuka (Praja Muda Krana) karena tidak adanya anggaran yang tersedia. "Kita sudah coba koordinasi dengan desa untuk membantu anggaran pembukaan badan jalan jalur evakuasi, namun anggaran di desa sudah tidak ada karena sudah dianggarkan pada program yang disusun, " katanya.

Andrianus Nonong, pembina Osis SMAN 1 Siberut Utara mengatakan dari satu minggu melaksanakan goro pembuatan badan jalan jalur evakuasi, badan jalan yang berhasil dibuka sekira 1,5 Km. "Bentuknya masih sebatas menebang pohon dan memperjelas jalur karena kondisinya masih rawa dan belum bersih, " katanya.

Menurut perkiraan, bila jalur evakuasi yang dibuat ditargetkan hingga sampai ke bukit Tamairang maka berjarak sekira 5 Km yang bermedan hutan lebat dan rawa-rawa. Karena kondisi tersebut diperlukan waktu yang lama dan tenaga serta biaya untuk membuka jalur evakuasi yang bisa dilewati saat ancaman gempa dan tsunami terjadi. "Kalau dibuka masih bisa dipaksakan, namun untuk bisa dilalui dengan baik sepertinya sulit karena medannya berat," katanya.

Saat ini jumlah siswa SMAN 1 Siberut Utara 449 orang yang terdiri dari 204 orang putra dan 245 orang putri. Ini belum termasuk majelis guru, TU (Tata Usaha), warga yang membuka kantin sekitar sekolah.

Ketua BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Muara Sikabaluan, Mateus Siribere mengatakan saat ini pembangunan jalut evakuasi penting dilakukan seperti halnya jalur evakuasi dari SMAN 1 Siberut Utara menuju bukit Tamairang. "Masing-masing mata anggaran yang diprogramkan bisa dikurangi untuk anggaran pembuatan atau pembangunan jalur evakuasi, " katanya.

Untuk jalur evakuasi Tamairang, dikatakan Mateus sudah tidak layak karena jalan rabat beton yang ada sudah retak dan tidak terawat sehingga sangat penting untuk dibangun kembali. "Kalau untuk Pokai jalan menuju tempat pengungsian sudah ada jalan trans Pokai-Sirilanggai. Untuk Puran dan Bose pemukimannya sudah jauh ke dalam dan dekat jalur evakuasi, " katanya.

Lebihlanjut dikatakan Mateus, dilihat dari tingkat prioritas pembangunan saat ini SMPN 1 Siberut Utara yang memdapat program pembangunan jalan rabat beton dari sekolah menuju sungai sepanjang 200 meter belum begitu prioritas dibanding pembukaan atau pembangunan jalan evakuasi dari SMAN 1 Siberut Utara menuju Tamairang. "Setidaknya tahun ini ada bantuan untuk pembukaan badan jalan," katanya.

Di Sikabaluan, selain SMAN 1 Siberut Utara ada beberapa sekolah yang masih berada di pesisir pantai atau yang masih berada di jarak 500 meter dari pantai yaitu SDN 09 Muara Sikabaluan, SDN 08 Muara Sikabaluan, MTs Al-Muthadin, SD Fransiskus Sikabaluan, TK Margaretha, TK Riuriu Ake dan TK Kasih Bunda serta TK YBTI. 

BACA JUGA