KOPAL dan IMPASS Pasang Plang Larangan Merusak Pantai Saibi

KOPAL dan IMPASS Pasang Plang Larangan Merusak Pantai Saibi KOPAL dan IMPASS memasang plang larangan menebang pinus dan menambang pasir di pantai saibi

SAIBI SAMUKOP—Komunitas Pencinta Alam Lingkungan (KOPAL) dan Ikatan Mahasiswa Pelajar Saibi Samukop (IMPASS) Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai memasang larangan menebang pohon serta pengambilan pasir dan kerikil di pantai Saibi.

Larangan tersebut ditulis pada plang seng plat yang bertuliskan “Dilarang menebang pohon pinus, bakau dan lain-lain. Dilarang melakukan penambangan pasir, kerikil, karang dan lain-lain”. Plang itu ditancapkan di pantai Saibi.

Ketua KOPAL, Mei Jasman Sakailoat menyebutkan, penebangan pohon pinus di lokasi pantai Kaleak dan Sibuddaoinan masih dilakukan setiap tahun. Penebangan tersebut dilakukan pada awal dan pertengahan tahun untuk dijadikan kayu api.

“Penebangan itu pernah kita saksikan langsung, ada juga penebangan kayu bakau besar-besaran yang dilakukan oknum pengusaha manau untuk kayu api penggorengan," kata Mei Jasman kepada MentawaiKita.com, Kamis (14/2/2019).

Selain menebang pinus, lanjut dia, warga masih suka mengambil kerikil, karang dan pasir. Pohon pinus ini mudah diambil karena dekat pantai dan aksesnya tidak sulit, apalagi di sekitar pantai tersebut jauh dari pemukiman warga.

Penambangan pasir dan kerikil ilegal itu dilakukan di sebelah utara pantai Saibi untuk kebutuhan pembangunan jalan dari program Alokasi Dana Desa dan proyek pembangunan pemerintah lainnya.

“Kami prihatin melihat kondisi itu, hingga kami KOPAL bersama IMPASS pasang plang larangan ini walau tak ada payung hukumnya seperti perdes (peraturan desa), minimal ada larangan sekaligus ajakan warga untuk sadar lingkungan,” ujarnya.

Menurut Jasman, penebangan kayu dan penambangan pasir sangat merusak lingkungan sebab memperparah abrasi tiap tahun, terutama pantai panjang di Kaleak dan Sibuddaoinan.

Komunitas mereka gencar menyampaikan ajakan kepada masyarakat agar sama-sama mencegah kerusakan ekosistem pantai sejak tahun lalu. Tahun lalu, KOPAL dan Forum Mahasiswa Mentawai (FORMMA) Sumatera Barat melakukan penanaman 1.500 pohon bakau di lokasi talud abrasi pantai Saibi Samukop.

“Pinus yang kita tanam sudah tumbuh sebagian, yang lain mati karena hempasan gelombang, kalau bakau yang kita tanam bersama FORMMA sekira 90 persen tumbuh, inilah upaya kita lestarikan lingkungan ini," ucap Jasman.

Jasman menyebutkan, kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Saibi Samukop yang turut mengeluarkan imbauan agar tidak mengambil pasir, kerikil dan karang di sepanjang pantai. Saat ini, komunitasnya mendorong agar Pemdes Saibi mengeluarkan perdes larangan merusak ekosistem pantai.

Sementara Ketua IMPASS, Redianes Sagaragara mengatakan, pemasangan plang larangan bersama KOPAL sebagai bentuk kepedulian lingkungan. “Kita pasang plang ini karena prihatin melihat kondisi pantai ini, saya pernah ketemu orang yang sedang mengambil pasir, dan saya tegur baik-baik namun tidak dihiraukan, karena jika tidak dihentikan lama-lama bangunan abrasi ini akan roboh,” ujarnya.

Meski masih ada warga yang nakal, kata Redi, ajakan menjaga keselamatan daerah pantai tetap dilakukan. “Bila tidak dihiraukan juga, perdes yang selama ini belum ada harus dibuat sebab ada sanksi bagi yang melanggar, agar ada efek jera," ujarnya.

Ke depan, lanjut Redi, IMPASS akan memprogramkan kegiatan sosialisasi lingkungan terutama Dusun Kaleak dan Sibuddaoinan. “Hanya waktu yang membatasi kita untuk sosialisasi, bila ada ruang itu kita siap melakukannya,” ujarnya.

Lauren Sakailoat, salah seorang mahasiswa Saibi menyebutkan, ada beberapa alasan untuk membuat larangan itu harus dipasang, salah satunya pantai Kaleak dan Sibuddaoinan akan di jadikan tempat Pariwisata.

“Jadi kami ikut prihatin, saat nanti pantainya rusak tentu pariwisata ini terkendala, karena lingkungannya yang sudah tidak bagus lagi," katanya.

Lauren berharap pemerintah setempat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) segera membuat perdes soal lingkungan. ”Jika sudah ada perdes, akan membuat kami makin kuat untuk bergerak lakukan penghijauan di sekitar pantai agar terjaga kelestariannya," ucapnya. 


BACA JUGA