SMAN 1 PUS Akan Bangun Sanggar Seni dan Terapkan Bahasa Mentawai

SMAN 1 PUS Akan Bangun Sanggar Seni dan Terapkan Bahasa Mentawai SMAN 1 Pagai Utara Selatan, Kecamatan Sikakap (Foto : Leo/Mentawaikita.com)

BERKAT—SMAN 1 Pagai Utara Selatan (PUS), Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai berencana mendirikan sanggar seni budaya Mentawai dan menerapkan bahasa Mentawai di sekolah.

Simei Suganda, wakil hubungan masyarakat (humas) SMAN 1 PUS mengatakan, tahun ini sekolah merencanakan membangun sanggar seni sekolah khusus budaya Mentawai. Tujuan rencana ini untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya Mentawai.

Saat ini, kata Simei Suganda, sekolah sedang menyusun langkah-langkah persiapan seperti  mendatangi para kepala kepala suku atau pun tua-tua kampung yang mengerti dengan berbagai macam  tari dan alat alat musik tradisional Mentawai.

“Para tetua kita akan undang mereka untuk ajarkan siswa, hal ini kepala sekolah setuju untuk membangun sanggar seni budaya Mentawai di sekolah ini, mudah-mudahan kita berhasil, ke depannya siswa  akan siap tampil pada acara atau pun ada Festival Budaya Mentawai,” katanya kepada Mentawaikita.com, Jumat (1/2/2019).

Kepala SMAN 1 PUS Musyofah membenarkan, selain sanggar, sekolahnya akan menerapkan pemakaian bahasa daerah Mentawai baik sesama guru maupun siswa. “Saya pun mau belajar berbahasa Mentawai, penerapan yang direncanakan penerapan bahasa Indonesia pada hari Senin sampai Rabu, kemudian hari Kamis Bahasa Inggris dan bahasa Mentawai Jumat dan Sabtu,” jelasnya.

Penerapan bahasa ini, kata Musyofah akan dilakukan perlahan-lahan dan nanti akan menjadi ciri khas SMAN 1 PUS. “Perlunya bahasa Mentawai  diterapkan di sekolah agar siswa diingatkan bahwa bahasa ataupun  budaya Mentawai jangan terlupakan,”  katanya

Simei Suganda  mengakui penerapan pelajaran muatan lokal Budaya Mentawai di SMAN 1 Pagai Utara Selatan belum maksimal sebab buku referensi pelajaran sangat minim. Buku yang dimiliki hanya dua dalam bentuk fotokopi dari sekolah lain.

Tema pelajaran disamakan antara kelas 1 sampai kelas 3 sebab tidak ada buku khusus berdasarkan tingkatan kelas. Simei menyebutkan, sekolah masih kebingungan menentukan format penilaian budaya Mentawai kepada siswa. 

“Selama ini untuk menambah nilai, sekolah menugaskan siswa membuat kerajinan tangan khas Mentawai seperti keranjang, motif dari kayu sampan-sampan kecil, pendayung, rumah-rumah adat dan lainnya,” ujarnya.

BACA JUGA