Program ADD di Siberut Tengah Belum Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Program ADD di Siberut Tengah Belum Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat Musyawarah program ADD dengan Pemerintah Desa,Kecamatan dan BPD Saibi Samukop. (Foto: Rinto/Mentawaikita.com)

SAIBI SAMUKOP -Sejak tahun 2015 sampai 2018 program Dana Desa (APBN) maupun ADD (APBD) di Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, masih belum jadi Penggerak kemajuan Peningkatan Perekonomian Desa.

Berdasarkan data pendamping profesional, ADD Siberut Tengah tahun 2015, Saibi Samukop Rp1.676.699.050, tahun 2016 Rp2.403.599.400, tahun 2017 Rp2.233.492.900, dan tahun 2018 Rp4.204.920.200. Desa Cimpungan tahun 2015 Rp1.447.423.000, tahun  Rp2.253.476.000, tahun 2017 Rp2.252.457.900 dan tahun 2018 Rp2.403.938.400. Sementara Desa Saliguma di tahun 2015 Rp2.237.323.900, tahun 2016 Rp2.733.163.300, tahun 2017 Rp2.808.767.400 dan tahun 2018 Rp3.709.831.000.

Pendamping Desa Pemberdayaan Siberut Tengah Aranlius mengatakan sejak tahun 2015 hingga 2018 anggaran yang terkucur masih sangat minim jadi penggerak ekonomi desa di tiga desa wilayah Siberut Tengah.

Ekonomi warga dari anggaran Desa, jelas Aran dinikmati berupa padat karya tunai ketika kegiatan proyek ADD berjalan warga jadi pekerja dan diupah. Selama ini anggaran tersebut diprioritaskan pembagunan fisik infrastruktur desa yang berjalan dalam 3-4 tahun sebelumnya. “Arah dananya untuk penggerak ekonomi masih lemah, belum menyentuh kesana sehingga kemajuan itu tidak terlihat,” katanya pada Mentawaikita.com, Sabtu (26/1/2019).

Upaya yang dilakukan, lanjut Aran dari pendamping bersama Inovasi Desa melakukan pemantauan dan pencarian produk unggulan desa yang mengacu hasil pertanian dengan memprogramkan penanaman pinang dalam 1 kk tanam pinang 200 batang. “Tahun 2018 sudah mulai diarahkan desa dengan memberikan bantuan pertanian berupa bibit pinang kepada warga untuk menggenjot perekonomian,” ujarnya.

Selain itu, Aran menyebutkan Bumdes yang sudah dibentuk tahun 2017 yang mendapatkan dana penyertaan modal tahap ke-3 tahun 2018 di setiap desa belum mampu berjalan dengan produk unggulannya. “Tidak jalannya Bumdes dana penyertaan modalnya baru diserahkan dan tahun ini di harapkan dapat berjalan usahanya,” katanya.

Sementara itu di Desa Saibi Samukop ADDnya untuk di arahkan penggerak ekonomi tak berjalan maksimal. 

Ketua BPD Saibi Samukop Melki Sanenek mengatakan sesuai visi-misi kepala desa yang tertuang peningkatan dan mensejahterahkan ekonomi tidak ada gebrakan yang secara nyata.

Ekonomi warga berputar hanya menjadi pekerja bangunan proyek itupun beberapa masyarakat saja yang bekerja. “Ketika ada program pemerintah baru masyarakat diberdayakan dengan bekerja, kalau peningkatan penghasilannya itu yang belum terlihat secara signifikan,” katanya.

Inovasi dan Bumdes yang sudah ada belum jalan maksimal untuk menjawab persoalan perekonomian tersebut. “Inovasi tak ada gerakan sekarang, Bumdes pun belum ada kegiatannya, kerajinan tangan yang di programkan tidak terlaksana,” katanya.

Kepala Desa Saibi Samukop Binsar Saririkka mengakui ADD belum menyentuh ekonomi warga, dari 2015 awal terpilihnya Kades masih dalam penyesuaian transisi kepemimpinan yang terpilih. “Penyesuaian karena saya terpilih jadi kades yang jadinya dana kita terlambat,” katanya.

Tahun 2016 pun demikian, jelas Kades anggaran dari pemberdayaan yang ada ketika dikurang honor aparatur, lembaga yang akhirnya dana pengembangan ekonomi tidak ada.

Pada tahun 2017 diberikan bantuan pertanian sawah sebesar Rp10 juta kepada kelompok berupa bibit padi namun tidak menghasilkan gabah padi yang disebabkan gagal panen. “Tahun 2018 kita juga membantu salah satu kelompok nelayan untuk pembelian peralatannya, setelah saya cek hasilnya juga tidak berkembang yang disebabkan di dalam anggota kelompok ada sebagian yang bukan profesinya. Bantuan lainnya ada tahun lalu hanya pemberian bantuan bibit pinang memang kedepan kelompok ini kita evaluasi kembali agar benar-benar serius,” ujarnya.

Inovasi desa, tambah Kades tidak berjalan sesuai yang diinginkan dengan programnya yang sedikit jalan mengenai inovasi menggerakan warga menanam pinang. “Bumdes kita yang di bentuk 2017 dan modalnya diberikan 2018 sudah jalan tapi belum maksimal lagi,” tutupnya.

Carles Situmeang(47), salah seorang warga Saibi mengatakan dari segi kemajuan perekonomian masyarakat desa dari program ADD benar-benar belum menyentuh dan mensejahterahkan. “Dari Inovasi Desa, apalagi Bumdes, bahkan saya yakin walau Bumdes sedang jalan karena masih skala kecil belum bisa menghasilkan,” terangnya. 


BACA JUGA