Desa Sikabaluan Cari Pasar Produk Masyarakat

Desa Sikabaluan Cari Pasar Produk Masyarakat Produk ikan asin dari Bose, Kecamatan Siberut Utara. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Kepala Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Aprijon mengatakan untuk peningkatan ekonomi masyarakat dalam program pemberdayaan ekonomi akan terfokus pada pasar tempat penjualan hasil produk masyarakat yang sudah ada. 

"Kita lebih fokus mencari pasar dari komoditi dan produk masyarakat karena dengan adanya pasar yang jelas hasil produk dan komoditi yang ada dimasyarakat akan terjual, " katanya pada Mentawaikita.com, Senin (21/1/ 2019).

Dicontohkan Aprijon seperti ikan kering Bose yang ada di Dusun Bose. Dusun yang sebagian besar masyarakatnya beraktifitas sebagai nelayan selain bertani memiliki potensi ikan yang banyak.  "Ikan kering Bose terkenal namun belum terkelolah dengan baik karena tidak ada pasaran yang jelas," katanya. 

Untuk tahun ini pemerintah desa akan membantu kelompok nelayan yang ada seperti bantuan alat tangkap dan hasil tangkapan nelayan akan dijadikan sebagai ikan kering selain dijual dalam bentuk ikan basah. "Sudah dibentuk satu kelompok nelayan dengan anggota 20 orang, " katanya. 

Dari anggota kelompok yang ada masing-masing nelayan dalam satu bulan mesti menghasilkan ikan kering minimal 30 kg sehingga dalam satu bulan kelompok nelayan menghasilkan 600 kg ikan kering. "Kalau dipasaran nilai jualnya Rp50 ribu per kilogram maka dalam satu bulan itu penghasilan kelompok nelayan sekitar Rp30 juta. Tentunya pasarnya harus jelas dulu, " katanya. 

Untuk keripik yang dibuat ibu-ibu dikatakan Aprijon mesti dicarikan pasar yang jelas karena ibu-ibu yang sudah membuat keripik selama ini kesulitannya terkendala dari pasar. "Kita sudah tanya pusat oleh-oleh Cristine Hakim dan mereka harus mencoba hasil ibu-ibu sesuai standar. Target kita bagaimana hasil ibu-ibu ini bisa ditampung disana, " katanya.  

Untuk memulai dan memberikan pelatihan bagi kelompok masyarakat, dikatakan Aprijon sangat menjadi pertimbangan karena beberapa pelatihan yang diberikan baik dalam program desa maupun kabupaten tidak ada yang berjalan secara berkesinambungan karena tidak adanya pasar yang jelas. 

"Misalnya komoditi seperti kelapa, keladi dan lainnya akan dipertimbangkan dan akan diarahkan dalam Bumdes yang dimiliki desa," katanya. 

BACA JUGA