Air Terjun Singunung Bersiap Jadi Destinasi Ekoturisme

Air Terjun Singunung Bersiap Jadi Destinasi Ekoturisme Penyerahan desain wisata air terjun Singunung. (Foto : Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN—Air terjun Singunung  yang berada di Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai akan menjadi salah satu destinasi ekoturisme yang menarik.

Desain wisata air terjun yang telah diserahkan kepada Pemerintah Desa Malancan tersebut, memadukan konsep keindahan alam yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung dan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. 

Riki Hendra,  perancang desain wisata air terjun Singunung mengatakan, objek wisata Singunung memiliki banyak keunggulan dan keunikan yang menjadi daya tarik dan nilai jual pada wisata lokal maupun manca negara. 

Riki Hendra menyebutkan, dokumen rancangan dan desain ekowisata Singunung dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Desa Malancan dengan langkah konkrit. 

"Misalnya pertemuan dengan pemilik tanah ulayat yang ada di jalur air terjun, menentukan arah pengelolaan ekowisata serta pembentukan peraturan desa terkait pengelolaannya," katanya. 

Dalam pengelolaan sebuah wisata selain promosi dan kampanye kepada masyarakat luas, juga diperlukan persiapan sumber daya manusia yang sadar akan wisata. 

"Jangan sampai ketika wisatawan sudah datang pelayanan tidak baik. Banyak pungutan liar dan pengunjung tidak nyaman. Ini yang harus dijaga, " katanya. 

Riki Hendra menilai, potensi wisata air terjun Singunung dan Malancan pada umumnya cukup banyak.

"Banyak sekali potensi yang dimiliki. Memang selama ini tidak terkelola dan belum memiliki nilai jual yang dapat menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat setempat," katanya kepada Mentawaikita.com, Rabu (16/1/2019). 

Riki Hendra menyebutkan, kegiatan wisata tersebut akan memberi peluang ekonomi kepada masyarakat lokal yang memiliki keterampilan dalam membuat beberapa jenis kerajinan tangan yang berbahan dari hutan masyarakat sekitar. 

Hasil kerajinan seperti opa (keranjang), roigen (long), jarakjak (tikar dari rotan), tempat membersihkan ampas beras, gelas, panah, cangkir, tikar dan kerajinan lainnya dapat dijual kepada wisatawan yang datang berkunjung.

"Masyarakat yang punya kreativitas ini tinggal diarahkan dan diberikan pendampingan lebih lanjut agar hasil kerajinan tangan mereka lebih baik dan sesuai kebutuhan pasar," katanya. 

Selain kerajinan, akan diperlukan tempat penginapan baik di rumah penduduk maupun sekitar jalur air terjun. 

"Syaratnya bagi wisatawan ada air bersih, kamar mandi yang layak serta hunian yang bersih. Tidak mesti mewah tapi layak, bersih dan nyaman karena wisatawan membutuhkan keaslian," jelasnya. 

Air terjun Singunung memiliki daya tarik karena terdiri dari tiga tingkat, selain itu lingkungan hutan yang asri memberi kesan natural dan menenangkan.

"Oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup telah mengeluarkan kawasan ini dari konsesi IUPHHK-HA (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu - Hutan Alam) PT. Salaki Summa Sejahtera," katanya. 

Untuk menuju lokasi air terjun selama perjalanan, wisatawan akan dapat menikmati kondisi jalan yang masih alami berbentuk tanah berlumpur dan titian dari kayu panjang yang tentunya memberikan kesan tersendiri. 

Pengamatan satwa dapat dilakukan dalam perjalanan menuju air terjun. Misalnya monyet, burung, rusa, tupai dan binatang lainnya. Termasuk tumbuh-tumbuhan yang tumbuh alami di sepanjang jalur menuju air terjun. 

"Kebun sagu dan pengolahan sagu secara tradisional menjadi daya tarik wisata tersendiri. Bagi masyarakat lokal ini biasa, tapi bagi orang luar itu hal yang luar biasa," kata Riki. 

Selain itu, wisatawan yang punya kegemaran untuk mendirikan tenda kamping terdapat lokasi yang terbuka yang memiliki kemiringan lahan yang cocok untuk melakukan kamping bersama dan dekat dengan sumber air. Siswa pencinta alam dan anak pramuka cocok dengan lokasi ini. 

Kemudian di Desa Malancan terdapat ritual budaya yang disebut pakandei, pakandei adalah acara perkawinan adat yang menyatukan kedua keluarga besar kedua pengantin. Acara ini berlangsung antara tiga hingga satu minggu dengan tahapan yang telah diatur secara adat. 

Momen ini menjadi suguhan yang akan menarik wisatawan berkunjung ke Malancan dan daerah sekitarnya selain berwisata ke air terjun.

Musyawarah Pemilik Tanah

Kepala Desa Malancan, Jalimin menyambut baik rancangan dan desain yang dibuat oleh YCM Mentawai termasuk pendampingan kelompok dan pemuda setempat. Kedepannya pemerintah desa melalui aparatur pemerintah desa yang baru akan mencoba mendiskusikan langkah selanjutkan yang akan diambil dalam pengelolaan ekowisata Singunung. 

"Dengan adanya gambaran dari teman-teman YCM Mentawai sekaligus desainnya akan sangat membantu pihak pemerintah desa dalam mengambil langkah untuk mengembangkan dan mengelolah wisata air terjun Sirilanggai,” kata Jalimin.

Langkah selanjutnya, kata Jalimin, pihaknya akan bermusyawarah dengan masyarakat yang menjadi pemilik tanah di lokasi objek wisata untuk mendapatkan masukan seperti apa pengelolaannya nanti.

Pemberdayaan Kelompok Ekonomi Perempuan

Reza Fernanda, manager program peduli Kemitraan YCM Mentawai mengatakan, pemberdayaan kelompok ekonomi perempuan seperti dasawisma penting dilakukan agar mampu mendapat manfaat dari kegiatan wisata yang ada di kampung mereka.

Misalnya dua kelompok yang sudah dibentuk dan sedang berjalan saat ini, diantaranya kelompok kerajinan tangan dan kelompok usaha makanan. 

"Kalau ekowisata jalan, kelompok ibu-ibu dapat mengambil peran dengan berjualan kerajinan dan makanan olahan pangan lokal. Namun pelatihan terus dilakukan agar kualitas dan mutu yang dihasilkan lebih baik," katanya. 

Tahun 2018 YCM Mentawai membentuk dan memdampingi kelompok ibu-ibu tiga dusun yang ada di Sirilanggai, yaitu Ukra, Sirilanggai dan Sibeuotcun yang diberi nama kelompok ibu-ibu tri dusun yang diintegrasikan dengan kelompok dasawisma. 

Kelompok ini sudah berkumpul dan berlatih bersama membuat kerajinan tangan dan beberapa jenis keripik dari bahan ubi dan keladi dan pisang. 

"Kelompok ini akan terus berlanjut dan berlatih bersama sehingga komoditas yang ada di masyarakat ked epannya dapat dijual dalam bentuk produk yang memiliki nilai tambah dalam ekonomi keluarga," katanya. 

Jual Cangkir Bambu

Hendrik (30), warga Dusun Sirilanggai, Desa Malancan menyambut baik pembangunan wisata di daerahnya.

Menurut Hendrik, itu akan membuka peluang ekonomi bagi warga setempat, apalagi dirinya saat ini telah mulai membuat kerajinan berupa cangkir dari bambu. Beberapa cangkir yang dibuat Hendrik telah dibeli orang di luar Malancan.

Meski jumlahnya belum terbilang banyak, namun membuatnya makin bersemangat untuk terus membuat dan mencoba mencari inovasi dan kreatifitas serta ciri khas yang mencirikan khas buatan Sirilanggai. 

"Masih seperti itu bentuknya. Masih jauh dari yang dibuat orang lain. Paling tidak saya sudah mulai membuat daripada tidak," kata Hendrik dengan nada semangat. 

Hendrik akan coba memodifikasi cangkir buatannya dengan menambah ukiran motif Mentawai dan memperhalus pembuatannya. 

"Mungkin kalau ada kita lihat contoh kreatifitas yang lain akan menjadi pendorong kreatifitas kita dan tentunya kita harus punya ciri khas tersendiri," katanya. 

Hendrik berharap, ekowisata air terjun Singunung dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah desa dan kunjungan wisatawan mulai berdatangan kerajinan tangan hasil produk masyarakat lokal, salah satunya gelas cangkir dari bambu makin banyak terjual.

BACA JUGA