Usaha Pengolahan Sagu di Muntei Butuh Pasar

Usaha Pengolahan  Sagu di Muntei Butuh Pasar Pengusaha Sagu Muntei

MUNTEI-Warga yang mengelola sagu di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai mengeluh sulitnya memasarkan hasil produk mereka karena tidak punya pengetahuan tentang pasar di luar Mentawai.

Mereka berharap pemerintah mau memberikan pembinaan kepada mereka agar bisa memasarkan hasil olahannya di luar sehingga nilai jualnya lebih tinggi.

Hanafi Satottotakek, salah seorang pengolah sagu di Muntei mengatakan, mereka kesulitan mencari penampung hasil olahan sagu di luar Mentawai. Selama ini hasil produksi mereka berupa tepung sagu yang masih basah hanya dijual di tingkat lokal seperti di Desa Muntei dan Muara Siberut dengan jumlah yang terbatas karena pembelinya sedikit.

"Kami kesulitan menjual hasil sagu mentah ke luar Mentawai karena tidak mengenal pasar," katanya kepada Puailiggoubat, Senin, 21 Desember.

Menurut Hanafi, pemerintah saat ini hanya fokus di bidang pertanian padi dan mengabaikan pengembangan makanan lokal seperti sagu. Meski tak memiliki data pasti, Hanafi memperkirakan jumlah warga yang mengkonsumsi sagu jauh berkurang terbukti jumlah pembeli yang terus menyusut karena terpengaruh dengan beras. Padahal menurut Hanafi, harga beras jauh lebih mahal ketimbang sagu.

Harga jual sagu yang dipatok Hanafi Rp2 ribu per kilogram dan jika dibanding harga beras yang mencapai Rp11 ribu per kilogram tentu harga sagu jauh lebih murah. Masuknya beras miskin (raskin) yang disalurkan Bulog Sumatera Barat sekitar Desember 2015 turut menyurutkan jumlah penjualan sagu.

Pengolahan sagu menjadi tepung sagu yang dilakukan di Muntei menggunakan mesin sederhana sehingga hasil produksi sehari tidak banyak. Hanafi menyebutkan, hasil produksi sagu dalam sehari mencapai 15 karung isi 30 kilogram yang djual Rp60 ribu per karung. Satu tual sagu berukuran sekitar 1 meter dapat menghasilkan sagu sebanyak 25 kilogram. Kurangnya modal usaha untuk mengembangkan peralatan dan membayar tenaga kerja membuat produks mereka minim, belum lagi persoalan solar yang habis di pasaran sehingga mesin tidak bisa dioperasikan.

Hanafi berharap pemerintah memberikan pembinaan kepada mereka tentang ruang pasar sekaligus aneka makanan yang bisa dibuat dari sagu agar nilai jualnya lebih tinggi. "Kami juga butuh promosi agar produk kami dikenal masyarakat luas," ujarnya.

Hal ini tentu berbeda dengan pabrik pengolahan sagu yang dimiliki salah seorang pengusaha dari Padang yang beroperasi di daerah Tiop, Desa Katurei, Kecamatan Siberut Barat Daya. Di pabrik itu, kata Julisanti Tasirisokut, salah seorang pekerja pabrik, dalam sehari mereka mampu mengolah 20 batang sagu karena telah menggunakan mesin canggih. Tepung sagu ditampung dalam bak yang sanggup menampung 5 ton tepung. Harga jual kepada masyarakat Rp1.500 per kilogram.

Julisanti menyebutkan, bahan baku sagu dibeli kepada masyarakat sekitar dengan harga Rp12 ribu per tual. "Hasil produksi telah dijual di luar Mentawai dengan kapal pribadi," ujarnya.Hendrikus(hd/g)

BACA JUGA