Lokan Katurei Laris Manis Dijual di Siberut Selatan

Lokan Katurei Laris Manis Dijual di Siberut Selatan Lokan milik ibu dari Sarausau yang laris dibeli warga. (Foto : Hendikus)

PURO—Hutan mangrove yang luas dan tumbuh subur di sepanjang teluk Katurei, Desa Katurei, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi berkat tersendiri bagi warga setempat. Selain menawarkan pemandangan teluk yang indah, di lumpur-lumpur hutan mangrove Katurei menjadi habitat bermacam lokan yang enak dimakan.

Daerah ini memang terkenal sebagai tempat penghasil lokan seperti tainungtuk, sikkora, dan menggu. Jenis lokan ini sangat digemari warga di Siberut pada khususnya dan hampir seluruh penduduk Mentawai.

Kaya akan lokan, ibu-ibu dari Katurei memanfaatkan hal itu sebagai sumber pendapatan dengan menjual lokal ke Muara Siberut, Maileppet, Muntei dan Puro.

Ibu-ibu dari Katurei yang meliputi Sarausau, Tiop dan Torolaggo menjual lokan dengan cara menjajakan lokan yang diangkut dengan gerobak. Dari kampungnya, mereka naik pompong yang menempuh perjalanan sekira sejam melalui terusan Monaci kemudian sampai di Puro, Desa Muara Siberut, Mentawai. 

“Kami naik perahu pompong dari Sarausau menuju Muara Siberut mengangkut sikkora untuk dijual di sana,” kata Anje, penjual sikkoira asal Sarausau kepada Mentawaikita.com.

Anje mengatakan, lokan tainungtuk dan sikkoira ini diambil di bagian tepi bakau, lokan ini gampang diambil ketika pasang surut.

Biasanya Anje dan kawan-kawannya menjual lokan tersebut sebanyak dua kali seminggu. Namun jika lokan yang dicari banyak, maka penjualan lokan akan lebih banyak.

“Kami hanya jualan keliling saja dengan menggunakan gerobak kalau di pasar Muara kami jarang menitipnya,” ujarnya.

Lokan yang dijajakan Anje dibungkus dengan plastik yang mencapai 30 kantong plastik. Tiap kantung dijual Rp10 ribu. 

Jika terjual habis maka Anje mendapat uang Rp300 ribu. “Hasil dari penjualan sikkoira untuk membeli kebutuhan rumah tangga beli beras, dan kebutuhan dapur lainnya, dan biaya untuk anak anak sekolah,” jelasnya. 

Menurut Anje, meski hasil penjualannya tidak banyak namun sudah membantu menutupi sebagian kebutuhan keluarganya. 

Anti, pembeli lokan dari Puro, Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan mengatakan, lokan sikkoira ia beli dari ibu-ibu dari Tiop dan Sarausau. Biasanya penjual lokan ke Muara Siberut pada hari Sabtu.

“Sekantong plastik dibeli Rp10 ribu, isi dalam 1 plastik cukup banyak,” ujarnya, Jumat (11/1/2019).

Namun saking banyaknya peminat, kadang Anti tidak kebagian mendapat lokan karena telah dibeli warga lain. Ia mengaku sangat menggemari lokan dari Katurei. 

BACA JUGA