Pemda Mentawai Masih Tunggu Serah Terima Proyek Listrik Biomassa Bambu

Pemda Mentawai Masih Tunggu Serah Terima Proyek Listrik Biomassa Bambu Pembangkit Listrik Biomassa di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Mentawai yang belum beroperasi. (Foto: Rahmadi/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT--Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet menyatakan proyek pembangunan pembangkit listrik energi biomassa bambu yang didanai hibah dari Millennium Challhenge Account Indonesia (MCAI) sudah rampung sejak pertengahan tahun. Namun belum bisa dioperasikan karena Pemerintah Daerah Mentawai masih menunggu serah terima dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Kalau biomassa itu rencananya paling lambat akan beroperasi Februari 2019, karena saat ini kita belum ada serah - terima dari pihak Bappenas, jadi kita sekarang masih menunggu info selanjutnya,” katanya pada Selasa (18/12/2018).

Pembangkit biomassa dibangun di tiga desa di Kepulauan Mentawai, yaitu Desa Saliguma, Desa Matotonan dan Desa Madobag, dimana biomassa ini merupakan bantuan kepada desa yang sulit dijangkau oleh aliran listrik dari PT. PLN (Persero) karena kondisi geografis.

Yudas menambahkan, jika sudah resmi diserahkan kepada kepada pihak Pemda Mentawai maka selanjutnya akan kembali diserahkan ke Perusahaan Daerah milik Kepulauan Mentawai (Perusda) untuk dikelola termasuk pemeliharaannya.

“Kalau sudah ada serah - terimanya, kita akan serahkan kepada Perusda, Perusda nanti yang kelola, bekerja sama dengan pihak PT. PLN (Persero) Rayon Tuapeijat atau Siberut,” ujarnya.

Sementara itu, warga tiga desa yang memiliki pembangkit biomassa bambu bertanya-tanya kapan listriknya akan menyala. Sebagian dari mereka sudah menanam bibit bambu yang dibagikan untuk bahan biomassa pembangkit saat sudah layak tebang.

“Beberapa bulan lalu, kita sempat ada pertemuan bersama pemerintah desa setempat di Rogdok membicarakan bagaimana mensiasati agar biomassa bambu ini bisa menyala sementara, keputusannya masing - maaing warga atau KK harus mengumpulkan kayu 60 kg, pokoknya harus bisa mencapai 12 ton atau lebih,” kata salah satu warga Rogdok, Aloisius Budom beberapa waktu lalu kepada wartawan di Tuapeijat.

Aloisius juga menyampaikan keluhannya sebab sejak pembangunan biomassa selesai dan jaringan listriknya terpasang banyak kabel listrik yang hilang serta kontak dan bola lampu dirusak warga. "Ada kabel hilang, kontak lampu juga dijalan hilang, bola lampu untuk penerangan jalan dilempar, jadi sayang sekali kalau ini lama beroperasi,” ucapnya. 

BACA JUGA