Badai, Nelayan Tradisional Sikakap Tidak Melaut

Badai Nelayan Tradisional Sikakap Tidak Melaut Perahu nelayan tradisional hanya bersandar di dermaga di Sikakap, mereka tak melaut karena gelombang tinggi. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP--Badai dan gelombang tinggi membuat nelayan tradisional di Desa Sikakap Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak bisa melaut. Mereka terpaksa melabuhkan perahu mesin di dermaga dan memilih melakukan pekerjaan lain.

Syahwir (63), nelayan di Sikakap mengaku tak melaut sejak Rabu (12/12). "Tinggi gelombang di perairan Mentawai tidak bisa diukur lagi tingginya, ada sekitar 4 meter mungkin, dari informais yang kami dapat, badai dan gelombang akan berlangsung hingga Senin (17/12)," kata Syahwir, Jumat (14/12).

Sejak tak melaut, Syahwir memilih memperbaiki perahu nelayan lain dan mendapat upah harian. “Kalau cuaca sudah bagus, saya akan turun kembali ke laut,” katanya.

Sementara Udin (54), juga nelayan, mengaku hanya melaut di sekitar Selat Sikakap saja. “Memancing di Selat Sikakap saja gelombang laut masih terasa, hasil ikan yang didapat tidak menentu,katanya.

Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan kondisi cuaca maritim untuk 14 Desember 2018 jam 07.00 WIB - 14 Desember 2018 jam 19.00 WIB, waspada gelombang dengan tinggi 1.00 - 3.00 Meter daerah Samudra Hindia Barat Kepulauan Mentawai hingga Samudra Hindia Barat Bengkulu.

Lalu potensi gelombang dengan tinggi 0.10 - 1.00 meter daerah perairan pesisir barat Kabupaten Pasaman Barat hingga pesisir barat Kabupaten Pesisir Selatan.

Potensi gelombang dengan tinggi 0.30 - 2.00 meter daerah perairan pesisir barat Bengkulu. Waspada gelombang dengan tinggi 0.30 - 2.50 Meter daerah perairan barat Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Selatan di Mentawai, dan Pulau Enggano.

 

BACA JUGA