Tak Ada Penampung Ikan Hidup, Pendapatan Nelayan Keramba Sikakap Menurun

Tak Ada Penampung Ikan Hidup Pendapatan Nelayan Keramba Sikakap  Menurun Nelayan Sikakap mengangkat ikan kerapu (Foto : Supri/mentawaikita.com)

SIKAKAP—Sejak adanya larangan kapal penampung ikan hidup dari Hongkong masuk ke Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, pendapatan nelayan keramba jaring apung turun drastis.

Kapal Hongkong penampung ikan kerapu hidup sudah 4 tahun tidak masuk ke Desa Sikakap. Padahal untuk meningkatkan ekonomi nelayanDinas Kelautan dan Perikanan  (DKP) Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Provinsi Sumatera Barat beberapa kali memberikan bantuan keramba jaring apung lengkap dengan bibit ikan kerapu.

Namun hasil budidaya ikan keramba tersebut tak bisa dijual, dan sebagian malah mati. Hal itu dialami Kelompok Nelayan Keramba Jaring Apung Sikakap Mentawai dan Kelompok Nelayan Maju Bersama.

Pada akhir 2016, kedua kelompok itu menerima bantuan keramba jaring apung lengkap dengan bibit kerapu dari DKP Mentawai dan Provinsi Sumatera Barat. Bantuan yang diterima berupa jaring keramba sebanyak 8 lubang lengkap dengan bibit kerapu.

Kelompok nelayan jaring apung Sikakap Mentawai mendapat bibit kerapu 3.000 ekor terdiri dari  jenis cantang 1500 ekor dan 1500 cantik. Dari 3000 ekor bibit yang diterima, kerapu yang hidup hanya tinggal 500 ekor.

Sementara kelompok jaring apung Maju Bersama mendapat bibit kerapu 3.500 lebih jenis cantang, macan dan tikus. Dari 3.500 lebih yang diterima sekarang kerapu hidup yang dipelihara sekitar Rp350 ekor.

“Program peningkatan ekonomi pemerintah sangat bagus sekali dengan cara memberikan bantuan-bantuan kepada nelayan tapi sayang tidak diikutsertakan dengan penampung ikan kerapu hidup yang dipelihara oleh masyarakat dan kelompok keramba jaring apung," kata Zaidir (64), Sekretaris kelompok keramba jaring apung Sikakap Mentawai, Minggu (9/12/2018).

Zaidir menyebutkan, akhir Desember 2016 kelompok jaring apung Sikakap Mentawai mendapat bantuan bibit kerapu sebanyak 3.000 ekor dari DKP Provinsi Sumbar.

Untuk memelihara ikan kerapu membutuhkan biaya yang besar untuk membeli pakan, dalam satu kali memberikan makan ikan pakan yang dibutuhkan 30 kg. Harga pakan ikan Rp5 ribu per kg, karena mahal dalam seminggu ikan dalam keramba hanya diberikan dua kali seminggu.

“Kemarin datang pengusaha pengumpul ikan kerapu hidup dari teluk Guo, Kabupaten Pesisirselatan untuk membeli ikan kerapu hidup di Desa Sikakap setelah kunjungan pertama tersebut sekarang tidak datang lagi,

Zaidir menyebutkan, sejak ada larangan Menteri KKP RI, Susi Pudjiastuti, kapal Hongkong tak masuk sehingga pendapatan nelayan keramba turun.

Zaidir merupakan nelayan keramba jaring apung yang sudah lama menekuni pekerjaan ini, bahkan sebelum adanya peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan tentang dilarangnya kapal luar yang membeli ikan kerapu masuk ke Desa Sikakap sempat menikmati hasil dari penjualan ikan kerapu hidup.

Saat kapal Hongkong masih beroperasi, kata Zaidir, nelayan sendiri yang mengusahakan bibitnya yang dibeli berdasarkan jenis kerapu yakni harga kerapu cantang Rp18 per kg untuk ukuran ikan 9 cm dan kerapu tikus Rp24 ribu per kg.

Setelah ikan dipelihara setahun, ikan kerapu cantang yang telah mencapai berat 6 ons 1 kg sudah bisa dipanen dan dijual Rp90 ribu per kg. sementara kerapu tikus dibeli Rp450 ribu per kg.

Ketua kelompok jaring apung maju bersama, Nirhan Syahnur mengatakan, penyebab salah satu nelayan keramba jaring apung malas memelihara ikan kerapu karena tidak ada penampung ikan hidup di daerahnya.

“Kalau program pemerintah memberikan bantuan ke masyarakat sangat bagus sekali tapi tidak di sertakan dengan penampungnya, seperti kami kelompok keramba jaring apung maju bersama, akhir tahun 2016 kelompok jaring apung mendapat kan bantuan bibit kerapu dari Sentra Kelautan Perikanan Terpadu bibit kerapu sebanyak 3.700 ekor, jenis cantang, macan dan cantik,” katanya.

Dari 3.700 ekor bibit tersebut akibat pengaruh cuaca musim hujan, gelombang pasang air laut membuat ikan peliharaan banyak yang mati. Dari 3.700 ekor bibit tersebut hanya hidup sekitar 350 ekor lagi.

“Besar ikan kerapu cantang yang dipelihara sekarang ada ukuran 6 ons ke atas tapi sayang sampai sekarang mau dijual kemana, minta kami kepada pemerintah agar dapat mencarikan solusi agar nelayan keramba jaring apung dapat menjual ikan kerapu hidup miliknya,” ujarnya. 

BACA JUGA