Pendapatan Nelayan Sikakap Meningkat Setelah Mendapat Bantuan Kapal

Pendapatan Nelayan Sikakap Meningkat Setelah Mendapat Bantuan Kapal Kapal bantuan dari KKP RI yang digunakan nelayan Sikakap melaut (Foto : Supri/mentawaikita.com)

SIKAKAP—Nelayan tradisional di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap mulai merasakan adanya peningkatan pendapatan mereka setelah menggunakan kapal untuk menangkap ikan.

Kapal yang digunakan nelayan merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia yang diberikan pada tahun lalu sebanyak 15 unit dengan kapasitas 5 GT. Nelayan penerima bantuan tersebut tergabung dalam Koperasi Amanah mendapat 12 unit kapal dan Koperasi Nelayan 3 unit.

“Kapal bantuan KKP tahun 2017 sangat membantu sekali ekonomi keluarga saya, sekarang kalau cuaca bagus untuk sekali melaut satu minggu bisa bergaji Rp500 ribu sampai Rp1 juta,kata Wendri Saleleubaja (40), nahkoda kapal SKPT (Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu) 06 kepada Mentawaikita.com, Minggu (9/12/2018).

Wendri Saleleubaja menyebutkan, sebelum mendapat bantuan kapal, ia melaut mengunakan perahu boat  dengan hasil tidak menentu. Biasanya pergi melaut pukul 17.00 WIB dan pulang sekitar pukul 06.00 WIB ke esokan harinya. Jika cuaca bagus bisa bergaji Rp100 ribu kalau cuaca tidak bagus modal melaut tidak pulang.

“Untuk sekali melaut membutuhkan biaya Rp75 ribu sampai Rp100 ribu untuk beli bahan bakar minyak dan ransum,” ujarnya.

Setelah menggunakan kapal bantuan dari SKPT, semua ikan dan gurita hasil tangkapan nelayan ditampung oleh Koperasi. Bahkan ransum untuk satu minggu melaut dimodali dulu oleh koperasi.

“Setelah pulang melaut baru dipotong ransum dan komisi untuk koperasi sebesar 15 persen kalau ada sisa dari ransum dan komisi untuk koperasi baru dibagi, biasanya satu kapal anggotanya 3 orang, katanya.

Hal serupa juga disampaikan Firman (42), nahkoda kapal SKPT 10 menambahkan, sekarang ini tidak ada kendala lagi waktu melaut. Waktu pertama membawa kapal memang ada kendala tapi setelah diberikan pelatihan beberapa kali oleh pemerintah bagaimana cara mengoperasikan kapal SKPT dan menurunkan jaring gilnet atau jaring insang sekarang kami sudah tahu.

“Apa lagi sekarang sudah ada juga pendampingan oleh Perum Perindo, kalau masalah lokasi melaut tidak ada halangan,” jelasnya.

Waktu menjadi nelayan tradisional wilayah tangkap hanya sekitar perairan Dusun Tubeket, Desa Makalo, Kecamatan Pagai Selatan saja sebab perahu yang digunakan pergi melaut perahu kecil ukuran 3 meter sampai 4 meter lebar 40 cm hasil yang didapat hanya 3 ikat paling banyak 5 ikat, harga 1 ikat ikan Rp20 ribu,

Namun sejak mendapat kapal, pendapatan bersih Firman dalam satu minggu  sebanyak Rp300 ribu.

“Ibarat gaji ini disimpan sebagian untuk sekolah anak, untuk kebutuhan sehari-hari seperti beras hasil dari pertanian, pisang dan keladi bisa membantu ekonomi keluarga,katanya. 

BACA JUGA