Menggeliatnya Bisnis Kain Batik Motif Mentawai

Menggeliatnya Bisnis Kain Batik Motif Mentawai Seorang perajin batik Mentawai di Tuapeijat Kecamatan Sipora Utara. (Foto: dok. Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT—Di Indonesia, banyak daerah mempunyai motif batik khas yang biasanya  mencerminkan kekayaan dan potensi sumber daya daerah tersebut. Kini, para perajin batik di Mentawai juga tengah menggali motif batik khas daerah kepulauan ini.

Ketua Kelompok Pembatik di Tuapeijat, Sipora Utara, Mentawai, Arnita Saogo mengaku kini bersama anggotanya 35 orang bisa menghasilkan sekira 15 helai kain dalam sehari. Bahkan saat cuaca bagus, bisa sampai 30 helai.

Perjuangan Arnita dan para perajin tak mudah. Mereka harus belajar selama 18 hari di Balai Diklat Padang, dan pulang pelatihan langsung praktik membatik. “Kami satu kelompok ada 35 orang, waktu kami diklat itu 18 hari, ada sekitar 70 orang terdiri dari Siberut Selatan dan Sipora Utara, jadi sekarang dibagi dua kelompok, saat ini sudah banyak yang kami buat, karena banyak yang pesan, laris,” katanya kepada Mentawaikita.com, Kamis (6/12/2018).

Meski belum punya tempat kerja yang layak, Arnita menggunakan rumahnya sebagai  bengkel kerja untuk memproduksi batik cap dan proses pengeringan. “Ya, cap batik, saat ini di rumah pembuatannya, karena kita kan belum punya tempat,” lanjut Arnita.

Proses produksi kain batik, jelas Arnita, selain bergantung cuaca juga tergantung pesanan untuk motif yang dibuat. Jika memang pelanggan mau pesan motif uma (rumah tradisional) Mentawai, ia siap mencetak, atau tik - tik (tato) sikerei dan sebagainya.

 “Kami juga siap membuatkan motif baru jika ada permintaan, dan alat cap kami bukan dari bahan tembaga atau logam di Jawa, tetapi kami buat sendiri kertas karton, triplek dan lem, makanya kami bisa buat apa saja sesuai pesanan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, tujuan diklat tersebut agar anak – anak muda tumbuh sebagai pengusaha dan membangun UMKM sendiri.

BACA JUGA