Warga Sepakati Air Terjun Simatobat Sebagai Ekowisata yang Dikelola Masyarakat

Warga Sepakati Air Terjun Simatobat Sebagai  Ekowisata yang Dikelola Masyarakat Penandatangan kesepakatan warga menjadikan Simatobat sebagai objek wisata alam berbasis masyarakat (Foto : Leo/mentawaikita.com)

MATOBAT—Warga Dusun Matobat, Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan sepakat menjadikan air terjun Simatobat yang berada di KM 49  sebagai objek wisata lingkungan yang dikelola masyarakat. Kesepakatan tersebut diambil dalam rapat masyarakat desa yang dilanjutkan dengan penandatangan yang dilakukan oleh pemuka masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, dan anggota dasawisma serta Pemerintahan Desa Sinaka yang berjumlah 30 orang pada, Senin (26/11/2018).

Firman Samaloisa (40), salah satu pemuka masyarakat dan pemilik lahan di lokasi air terjun Simatobat  mengatakan, potensi alam di wilayah dusun Matobat  yang menjadi nilai jual wisata seperti air terjun, gua dan sungai untuk memancing dan hutannya masih alami.

Saya sangat setuju dikelola oleh masyarakat, walaupun di lokasi tersebut ada lahan milik suku kami  Samaloisa, namanya kesepakatan secara umum tentu kami setuju bersama  masyarakat Matobat mengelola wisata tersebut dan sama-sama menjaga jangan terjadi keributan atau persoalan di kemudian hari, jika tim pengelolanya serius dan transparansi semua pasti berjalan dan aman untuk kemajuan warga Matobat dan Desa Sinaka,” katanya kepada Mentawakita.com, Senin (26/11/2018).

Firman berharap pemerintah desa dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai membantu mengembangkan wisata Matobat yang akan dikelola masyarakat nanti. ”Mudah-mudahan tercipta wisata yang tidak merusak atau merubah bentuk alam yang ada,” ujarnya.

Sayusmar Samongilailai (43), pemilik lahan lainnya di lokasi air terjun di Simatobat menjelaskan, sebagai salah satu suku pemilik lahan di Simatobat ia mendukung kegiatan pariwisata yang akan dikelola masyarakat.

“Kami setuju jika air terjun tersebut dijadikan wisata berbasis masyarakat bukan dikelola oleh pengusaha,” ujarnya.

Sayusmar menyebutkan, dirinya memiliki ladang sepanjanga jalan setapak menuju air terjun. Tanaman yang ditanamnya di kanan kiri jalan setapak itu berupa tanaman buah seperti durian, yang berjarak sekitar 50-100 meter dari jalan. Sementara daerah sekitar air terjun tidak ditanaminya dan dibiarkan menjadi hutan.

“Saya izinkan jika di sana pintu masuk menuju air terjun yang dari jalan jaraknya sekira 300 meter, harapan saya juga wisata di air terjun terkelola dengan baik,” ujarnya.

Sementara Kepala Dusun Matobat, Parmenas menyampaikan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian wilayah Simatobat karena telah menjadi areal wisata berbasis masyarakat.

Parmenas meminta warga tidak menangkap burung di lokasi itu juga tidak berburu monyet serta menjerat rusa sebab akan mengurangi daya tarik objek wisata.

“ Jangan berladang menebang kayu kayu di sekitar lokasi air terjun, mari kita warga  dan  jika ada pendatang juga dari daerah lain, kita menjaga bersama sama, mudah-mudahan kita memulai langkah awal untuk menjadikan Desa wisata di Matobat, yang saat ini Matobat sudah dikenal oleh pemancing mania dari Jakarta dan daerah lain  yang sudah tiga kali datang memancing di sungai Matobat,” jelasnya.

Menurut pemancing itu, kata Parmenas, sungai Matobat memiliki ikan yang cukup besar yang mencapai berat 50-80 kg. untuk itu air sungai Matobat dari hulu -hilir tidak dicemari sampah plastik maupun pestisida.

Kesepakatan warga ini menurut Harisman Samaloisa, staf Desa Sinaka sebagai langkah awal membangun daerah wisata alam berbasis masyarakat di Simatobat.

Langkah awal yang dilakukan pihak Pemdes yakni untuk mensosialisasikan atau memberikan pemahaman lagi kepada masyarakat agar tidak ada salah paham di antara masyarakat  tentang potensi alam  air terjun di Simatobat dijadikan wisata berbasis masyarakat, sejalan dengan itu akan membuat Peraturan Desa (Perdes) terkait wisata di Simatobat maupun di wilayah kerja Desa Sinaka,” katanya.

Jika Perdes telah terbit, pihak Pemdes akan berkoordinasi ke Bupati dan DPRD Kepulauan Mentawai untuk pengembangan wisata di air terjun Simatobat.

Wisata tersebut menurut dia membutuhkan fasilitas pendukung, jalan dan jaringan telekomunikasi agar wisatawan nyaman. 

BACA JUGA