Harga Anjlok, Petani Matobat Enggan Olah Kelapa

Harga Anjlok Petani Matobat Enggan Olah Kelapa Dermaga kayu Matobat, Desa Sinaka yang menjadi pelabuhan pengangkutan hasil bumi di daerah itu. (Foto : Leo/mentawaikita.com)

MATOBATPetani kelapa Matobat, Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan enggan mengolah kebun kelapa miliknya sebab harga jual kopra sedang anjlok.

Pada April lalu harga kelapa mentah atau kelapa cungkil masih Rp2.500 per kilogram namun memasuki November harga turun menjadi Rp800-1.000 per kg. Sementara harga kopra sebelumnya Rp3.500 per kg turun menjadi Rp1.500-1.800 per kg.

Pemilik kelapa di Matobat yang biasanya mengolah kelapanya di Pulau Sibigeu sebanyak 2 kali sebulan kini malas ke pulau tersebut. Apalagi perjalanan ke sana butuh waktu lama yakni sekira 1 jam dengan menggunakan perahu.

Ilmedi Sapalakkai, salah satu petani kelapa di Pulau Sibigeu mengatakan, kelapa sudah tidak diolah lagi sejak April yang lalu karena harga anjlok. Bukan hanya dirinya namun hampir 90 persen pemilik kelapa yang ada di pulau tersebut enggan mengolah kelapa yang jumlahnya sebanyak 96 kepala keluarga.

"Menurut saya tidak cocok lagi biaya mengolah dengan harganya, kelapa tersebut tidak lagi menjadi sumber ekonomi keluarga," kata Ilmedi kepada Mentawaikita.com, Senin (26/11/2018).

Pada saat harga sedang bagus, kata Ilmedi, mereka rajin mengolah kelapa, dalam sebulan mendapat kopra 1-2 ton, tapi sekarang buah kelapa dibiarkan berserak di pangkal.

Senada dengan Ilmedi, Parlin Saogo, petani lain menyebutkan, ratusan batang kelapa miliknya dibiarkan terlantar di pulau Sibigeu. Menurut dia, modal yang dikeluarkan mengolah dengan hasil yang didapat tidak seimbang.

"Kalau diolah kelapa di pulau, tidak cocok lagi tenaga dan biaya mengolah, untuk sementara kelapa tidak diolah menunggu harga naik, mudah-mudahan tahun depan harga naik, jika seimbang harga dan tenaga, akan diolah lagi," ujarnya.

BACA JUGA