Udang Kelong Sumber Pendapatan Nelayan Matobat

Udang Kelong Sumber Pendapatan Nelayan Matobat Salah seorang warga Matobat sedang membersihkan udang kelong (Foto : Leo/mentawaikita.com)

MATOBATUdang kelongmenjadi sumber ekonomi nelayan di Dusun Matobat, Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan. Udang tersebut ditangkap nelayan menggunakan jaring di muara sungai Matobat.

Kepala Dusun Matobat, Parmenas Saogo mengatakan, nelayan menangkap udang kelong pada pagi hari sekira pukul 05.00-06.00 WIB dan juga pada sore hari sekira pukul 17.00 WIB. Jika sedang beruntung nelayan akan mendapat udang sekira 10 kilogram menggunakan jaring sepanjang 5 set. Dalam 1 kilogram berisi 25-30 ekor udang

Udang tersebut dijual di Matobat Rp60 kilogram per kg yakni seputar pemukiman hunia tetap Desa Bulasat, Malakopa hingga ke Sikakap. "Namun harga jual di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap berkisar Rp70 ribu-80 ribu per kg," kata Parmenas kepada Mentawaikita.com, Minggu (25/11/2018).

Parmenas menjelaskan, sekitar tahun 2004 sampai 2007 ia dan nelayan lain pernah membudidayakan udang kelong ini di dalam keramba yang dipancangkan di muara sungai Matobat. Namun karena bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Mentawai, keramba tersebut hanyut tersau gelombang. Sejak itu, bisnis udang kelong ditinggalkan nelayan.

Sebelum bencana terjadi, hasil tangkapan nelayan mencapai 100 kg dan sebulan mencapai 300-400 kg. Udang itu dijual kepada penampung dari Padang dengan kapal laut sebanyak 2-4 trip sebulan.

"Sebelum bencana, hasil hasil tangkapan udang kelong dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," ujarnya.

Menurut Parmenas, habitat udang kelong berada di muara sungai sehingga perlu bagi mereka menjaga agar tidak terjadi pencemaran di areal tersebut.

"Untuk menjaga agar tidak ada pencemaran air sungai di hulu-hulu sungai tidak boleh meracun udang dan juga membuang sampah sembarangan ke sungai, sejak dulu puluhan tahun udang kelong di muara Matobat tetap masih ada, harapan kita sebagai Pemerintah Dusun Matobat, warga setempat maupun warga lain dan pendatang tidak mencemari air sungai dan laut agar udang kelong tersebut tetap ada," katanya.

Usmar (52), salah satu nelayan Matobat menyebutkan, dirinya rutin setiap hari menjaring udang di muara sungai Matobat. Ia berangkat dini hari dan pada sore hari baru pulang dengan menggunakan perahu dayung dengan lama perjalanan sekira 20 menit menyusuri sungai.

"Jika tidak badai hasil tangkapan cukup lumayan dengan jaring 5 set yang masih bagus, belum robek-robek, saya mampu menangkap 5-10 kg, tetapi jaring saya sudah tidak bagus lagi sudah banyak yang robek, hasil tangkapan saya hanya dapat 8-10 kilogram selama 3 hari," katanya.

Agar tidak busuk sebelum dijual, udang tersebut disimpan Usmar di kulkas. Jika ada yang membeli mereka datang ke rumah Usmar. Namun jika udangnya mencapai 60 kg, Usmar menjual udang itu sampai ke pemukiman huntap di Desa Bulasat dan huntap Malakopa dan juga ke Sikakap dengan sepeda motor.

Menurut Usmar, hasil penjualan udang cukup membantu perekonomian keluarga, uangnya dapat membeli kebutuhan keluarga. Sebagian hasil penjualan ditabung Usmar untuk membeli jaring baru yang harganya mencapai Rp400 ribu per set.

BACA JUGA