Petani Pisang Dusun Matobat Kesulitan Menjual Pisang

Petani Pisang Dusun Matobat Kesulitan Menjual Pisang Kebun Pisang Parlin di Matobat (Foto : Leo/mentawaikita.com)

MATOBATPetani pisang di Dusun Matobat, Desa Sinaka, Kecamatan Pagai Selatan kesulitan menjual hasil kebun pisangnya sebab jarak antara Matobat dengan daerah penjualan pisang yakni di Desa Sikakap sangat jauh yang ditempuh melalui jalur laut sekira 6-8 jam. Selain itu di kampung mereka tidak ada penampung yang membeli pisang.

Parlin Saogo (43), salah seorang petani pisang Matobat mengatakan, ada ratusan tandan pisang yang telah masak namun dibiarkan saja di pohonnya sebab tidak ada penampung yang membeli pisang mereka.

Ia mengaku menanam pisang super sekira 3.000 batang sejak 2014 hingga 2018 dengan luas tanam sekitar 5 hektar. "Sekira ratusan pohon sudah berbuah dan sebagiannya mulai besar, pisang tersebut mubazir tidak menjadi sumber ekonomi keluarga karena penampung tidak lagi datang ke Dusun Matobat," kata Parlin kepada Mentawaikita.com, Senin (26/11/2018).

Pernah pada awal tahun 2018 datang penampung dari Sikakap membeli pisang dan manau sekali sebulan ke Matobat namun pada pertengahan tahun saat musim badai mulai Juli lalu mereka tak datang lagi.

Ketika masih ada penampung, harga pisang super milik warga Matobat dibeli dengan harga rendah yakni Rp20 ribu-Rp30 ribu per tandan padahal harga lokal di Sikakap berkisar Rp50 ribu per tandan. Namun mereka tidak bisa berbuat banyak sebab tak punya pilihan lain, selain itu mereka juga memaklumkan diri bahwa pemilik kapal juga mengeluarkan ongkos mahal untuk beli bahan bakar minyak ke Matobat.

Meski tak ada pembeli pisang, Parlin tetap menanam pisang dengan harapan pemerintah membangun jalan atau pelabuhan di Boriai, Desa Sinaka. "Jika sudah ada saya sudah siap, mudah-mudahan ada penampung datang ke Matobat beli pisang dan hasil bumi lainnya jelasnya.

Senada dengan Parlin, Ilmedi Sapalakkai mengaku tidak semangat mengurus kebun pisang miliknya sebab hasilnya tak bisa dijual. "Pisang ratusan pohon tidak semangat mengurusnya," katanya.

BACA JUGA