Proyek Masuk, Ekonomi Warga Sikabaluan Meningkat

Proyek Masuk Ekonomi Warga Sikabaluan Meningkat Sikabaluan dari udara. (foto: dok YCMM)

SIKABALUAN-Ekonomi warga Sikabaluan, khususnya yang ada di Dusun Muara dan Dusun Nangnang, Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara hanya berkembang dan naik pada waktu pembangunan fisik sedang berjalan di tengah masyarakat, misalnya pembangunan fisik bangunan pemerintah. Seperti menjadi pekerja tukang bangunan dan juga mengambil bahan material lokal yang diperlukan.

Sanide Siribere (35) salah seorang pengambil bahan material lokal untuk bahan pembangunan mengakui dengan masuknya proyek pembangunan fisik memberikan rezeki bagi dirinya untuk mengambil material lokal, seperti pasir halus dan kerikul sungai. "Dapat rezekilah karena kita dapat orderan untuk mengambil bahan material lokal, " katanya pada Mentawaikita.com, Jumat (23/11/2018).

Dikatakan Sanide, mulai masuknya proyek pembangunan pemerintah tahun 2018 pada Juni lalu, sejak itu masyarakat yang punya sampan besar dan memiliki mesin pompong mulai memgambil bahan material lokal yang diorderkan pemborong bangunan pada mereka.

"Dalam sebulan kalau rutin penghasilan bisa Rp4-5 juta selama ada proyek jalan. Tapi kalau bulan biasa itu tergantung dari pesanan masyarakat yang sifatnya bangunan pribadi, " katanya.

Bila sedang banyak orderan untuk bahan material bangunan, dalam sehari Sanide bisa mengambil pasir halus atau kerikil sungai hingga 3 kubik. Harga jual untuk satu kubik yaitu Rp230-250 ribu. Sementara biaya pelangsiran dari Rp30-60 ribu per kubik di wilayah Sikabaluan. "Tergantung dari jarak jauh kita melangsir dan jenis materialnya, " katanya.

Lebihlanjut dijelaskan Sanide, melihat dari kebutuhan material lokal setiap tahunnya di pusat kecamatan untuk pembangunan, kedepannya pasir halus dan kerikil sungai diambil dan ditumpuk tidak pada waktu masuknya pembangunan saja. Namun akan diambil setiap hari dan ditumpuk pada satu lokasi sebagai persiapan. "Kalau ada masyarakat yang perlu kita sudah ada persiapan. Tinggal kita antar sesuai dengan kesepakatan harga," katanya.

Ia melihat hal tersebut karena ketika masyarakat ada yang perlu cepat mesti menunggu beberapa hari agar pesanan material mereka datang. Sementara kondisi alam tidak bisa diprediksi.

"Kadang hujan yang menyebabkan banjir sehingga pengambilan material terhambat. Tapi kalau sudah ada kita sediakan dipenumpukan, ketika ada yang pesan tinggal antar," katanya.

Bila memiliki modal, kedepan Sanide akan membuat persediaan BBM (bensin) untuk mengambil bahan material mengingat bensin kerap mengalami kelangkaan dan kenaikan harga dari Rp8 ribu per liter menjadi Rp15 ribu per liter.

"Untuk setiap harinya kita membutuhkan minimal 5 liter premium mengambil bahan material. Tapi kalau lagi musim proyek kita membutuhkan hingga 15 liter setiap harinya itu untuk pompong dan sepeda motor melansir bahan material, " katanya.

Tak hanya itu. Sanide kedepannya akan membuat batako untuk dijual kepada masyarakat dan pihak proyek pembangunan. Karena di Sikabaluan belum ada yang membuka usaha lobrik atau batako, sehingga ketika masyarakat membutuhkan lobrik atau batako untuk bahan bangunan mesti membuat terlebih dahulu.

"Begitu juga dengan proyek. Untuk satu proyek itu minimal mereka membutuhkan 1000 buah batako atau lobrik. Ini jadi peluang juga," katanya.

Julius Dedi, warga Sikabaluan lainnya yang ikut mendapat rezeki ketika proyek masuk mengakui ketika ada proyek pembangunan menjadi pendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat. "Kalau ada pembangunan fisik di Sikabaluan ekonomi masyarakat jadi terbantu. Ada yang ambil ambil bahan material, kerja bangunan. Seperti kita kalau ada proyek selalu ambil bahan material. Kedepannya kita berharap harga material dinaikkan lagi karena harga bensin terus naik dan pengambilannya makin jauh, " katanya.

Kegiatan pembangunan fisik yang dilaksanakan di Sikabaluan saat ini yaitu pembangunan RKB SMPN 1 Siberut Utara lokasi relokasi, penambahan rumah medis puskesmas Sikabaluan, rawat inap Puskesmas Muara Sikabaluan dan penataan halaman puskesmas Muara Sikabaluan.

BACA JUGA