Banjir Rusak Lahan Pertanian Warga Mangorut Kecamatan Siberut Selatan

Banjir Rusak Lahan Pertanian Warga Mangorut Kecamatan Siberut Selatan Banjir mulai surut di Dusun Mangorut Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai, Rabu (21/11). (Foto: Hendrikus Bentar/Mentawaikita.com)

MANGORUT—Banjir yang terjadi di Dusun Mangorut Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai 19 November lalu merusak lahan pertanian warga seperti pisang, keladi dan coklat.

"Dua hari ini air menggenangi wilayah kami dan aktivitas yang kami lakukan hanya duduk di rumah dan menunggu air surut, ada beberapa warga beraktivitas dengan sampan, untung saat ini air mulai surut," kata Rezina, seorang warga Mangorut kepadaMentawaikita.com, Rabu (21/11).

Tidak hanya kali ini, banjir juga terjadi sudah berulang kali sepanjang November ini hingga membuat tanaman Rezina rusak. Sebanyak 4 petak lading keladi dan 100 batang pisang miliknya membusuk akibat terendam banjir.

Banjir tersebut tentu merugikan bagi Rezina dan sebagian besar warga Mangorut yang mengandalkan hidup dari menjual hasil pertanian. "Dalam sebulan ia biasanya panen 4 kali pisang, rata-rata sebulan bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu," katanya.

Uang hasil penjualan pisang dan keladi biasanya digunakan Rezina membeli kebutuhan memasak di dapur seperti minyak tanah dan gula. Tapi sekarang hingga Natal bulan depan, Rezina dan keluarganya tidak bisa memanen pisang dan keladi.

Aman Gereisik, warga Mangorut lainnya mengatakan wilayah dusunnya memang rawan banjir. Ia mengingat, setidaknya sudah empat kali banjir besar melanda sehingga membuat aktivitas warga lumpuh tidak bisa ke ladang.

Ia juga mengaku banjir telah merusak ladang pisang dan keladi miliknya. "Biasanya sebulan bisa dapt Rp250 ribu sampai Rp300 ribu dari panen pisang, namun banjir membuat buah tidak banyak, hanya cukup untuk konsumsi keluarga saja," katanya.

Sementara untuk bantuan, Aman Gereisik mengaku baru menerima satu kali saat banjir awal November. Ia mendapat dua tekong beras, mie instan dan gula dari BPBD. "Ada juga bantuan dari dusun namun kami sisihkan untuk konsumsi gotong royong membersihkan lingkungan," katanya.

Sejauh ini, bantuan yang sudah ada usai banjir 19 November lalu baru kedatangan petugas medis dari Puskesmas Muara Siberut untuk mengecek kondisi kesehatan 24 KK warga Mangorut.

Menurut Aman Gereisik, dulu warga Mangorut sempat hendak dipindahkan ke arah Dusun Malelet namun tidak jadi, hanya puskesmas pembantu saja yang sudah dibangun di sana.

BACA JUGA