Paruak, Sarana Pertemuan dan Komunikasi Sikerei

Paruak Sarana Pertemuan dan Komunikasi Sikerei Paruak, ritual yang dilakukan saat sikerei berbeda daerah atau kampung bertemu. (Foto: Patrisius Sanene/Mentawaikita.com)

MUNTEI--Malam baru saja menjemput. Di teras Uma Salakopak yang ada di Muntei, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan sudah berkumpul para sikerei dari Muntei, Sarereiket, Simatalu dan Taileleu.

Rabu, 31 Oktober 2018 malam, sikerei akan mengadakan ritual paruak. Sebuah ritual yang wajib dilaksanakan sikerei bila bertemu di suatu tempat dalam sebuah acara, terlebih mereka berasal dari berbagai daerah asal.

"Sebelum kita tampil bersama dalam sebuah acara, kita harus sudah paruak agar dalam proses punen yang kita ikuti bersama tidak ada yang sakit," kata Aman Boroi Ogok, salah seorang sikerei dari Muntei.

Berdasarkan jadwal kegiatan, sikerei akan menampilkan turuk sikerei (tarian sikerei) di panggung Festival Pesona Mentawai 2018 di lapangan bola kaki Muntei, Kecamatan Siberut Selatan sebagai pembukaan acara setelah pawai atau karnaval budaya Mentawai.

"Pasileppet tubu (menyegarkan jiwa)," kata Johanes Siritoitet, sikerei lainnya.

Setelah sikerei siap dalam semua persiapan, Aman Boroi Ogok meminta semua sikerei untuk kumpul bersama di depan pintu masuk uma dengan posisi melingkar. Aman Boroi Ogok langsung memimpin dengan mengambil piring berisi daun aileppet simabulau dengan aileppet simabo.

Aman Boroi Ogok mengucapkan sukat (doa berkat) sambil memegang piring yang berisi daun aileppet. Setelah mengucapkan sukat, daun aileppet simabulau dibagi-bagi kepada semua sikerei yang hadir dan saling menyematkan satu dengan yang lain.

Sementara aileppet simabo dibagikan kepada masing-masing sikerei. Oleh masing-masing berdiri dan mengoleskan aileppet simabo di bagian tiang pintu masuk, bagian tiang depan rumah dan berakhir di tangga uma. Pada tangga uma mereka meletakkan aileppet dan memijaknya.

Setelah semua sikerei selesai dan kembali pada posisi semula, Aman Boroi Ogok maju ke dekat tangga rumah untuk mengambil ayam yang ada di dalam roiget (long ayam) dan membagikannya kepada semua sikerei. Masing-masing sikerei secara bergantian memberikan sukat. Dimulai dari Johanes Siritoitet, sikerei dari Muntei, Desa Muntei.

Anai kai mulia (kami sedang melakukan pesta)

Areu akek besik (jauhkan penyakit)

Areu akek bolo (jauhkan semua penyakit)

Gorosot (turun/terlewatkan)

Simaeruk rauru mai (yang baik jiwa kami)

Gorosot, bib (turun, tertancap)

Turak mai (sandaran kami)

Kiniu mai simakerek (kuning kami sama)

Ekeu lek gorosot mai (engkaulah turunan/junjungan kami)

Kau lek goukgouk tubumai oringen (Biarlah ayam sebagai pengganti persembahan penyakit)

Simakataik nganga (yang suka berbicara kasar/berbahasa kotor)

Sikinek kusaksak akek panosok mai (sekarang mau kami buang semuanya)

Kaleleu sabeu (dibukit yang besar)

Telu lulunna (tiga lahar)

Arep ngangangku leleu manua (Dengarkanlah suara saya pencipta alam semesta)

Konan peilek kainek (datanglah sebentar kesini)

Konan...konan...konan (datanglah...datanglah...datanglah)

Setelah itu. Ayam di tangan Johanes diserahkan pada pendamping untuk memotongnya dan dijadikan santapan malam bersama. Setelah Johanes disusul teu Gitjau Salembekeu, sikerei dari Simatalu dengan mengucapkan sukat sambil memegang ayam. Semua sikerei mendapat kesempatan untuk mengucapkan sukat.

Sambil menunggu santapan bersama yang dikerjakan oleh pendamping, semua sikerei duduk bersama kembali dan menyanyikan lagu kerei. Terlihat dalam nyanyian kerei dari Simatalu tidak begitu lancar mengikuti urai kerei (nyanyian) yang dinyanyikan sikerei dari Sabirut, Sarereiket dan Taileleu.

"Di saat seperti ini kita saling belajar urai kerei. Saling bertukar pengalaman, " kata Aman Laulau, salah seorang sikerei dari Sarereiket.

Teu Mariono Salembekeu, sikerei dari Simatalu mengatakan untuk acara seperti ini dinamakan paumak. Namun hal seperti ini jarang sekali diikuti dan dilaksanakan karena sikerei dari Simatalu satu kerei.

"Untuk lagunya sama, hanya bahasanya yang berbeda. Tapi tidak begitu sulit ketika kami menyanyikan urai kerei bersama, " katanya.

Sikerei dalam acara paruak bisa sampai larut malam atau bisa sampai pagi. Karena dalam proses menyanyikan urai kerei semua sikerei mengeluarkan kelebihannya untuk saling berbagi dan belajar bersama.

BACA JUGA