Beragam Langgam Pakaian Adat Pangurei Mentawai

Beragam Langgam Pakaian Adat Pangurei Mentawai Pakaian pangurei (pernikahan) asal Bojakan Siberut Utara, diperagakan saat Festival Pesona Mentawai 2018, awal November lalu di Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan. (Foto: Bambang Sagurung/Mentawaikita.com)

MUNTEI—Kepulauan Mentawai memiliki langgam pakaian adat pangurei (pernikahan) yang berbeda antara satu daerah dengan yang lainnya. Meski satu pulau di Siberut, pakaian adat pernikahan dari Siberut Selatan akan berbeda dengan Siberut Utara maupun Siberut Tengah dan Siberut Barat. Ragam pakaian pangurei Mentawai ditampilkan di malam penutupan Festival Pesona Mentawai, 4 November lalu.

Kecamatan Siberut Utara menampilkan pakaian adat pangurei dari Bojakan. Sementara Kecamatan Siberut Tengah menampilkan pakaian adat pangurei Saibi, Kecamatan Siberut Barat Daya menampilkan pakaian adat pangurei dari Taileleu, dan dari Kecamatan Siberut Selatan selaku tuan rumah menampilkan pakaian adat pangurei dari Sabirut dan Sarereiket.

Ciri khas pakaian pangurei dari Sabirut dan Sarereiket ini hampir sama yaitu pada bagian kepala memakai bulun goukgouk (bulu ayam), luat (ikat kepala), laigak leleu (jahe yang tumbuh di bukit). Perbedaannya hanya terletak pada rok. Untuk Sabirut roknya disebut sineibak yang warna kainnya ada tiga macam, merah, kuning, biru muda yang dijahitkan dengan bentuk selang seling dari atas ke bawah. Sedangkan dari Sarereiket, rok perempuan disebut sobbe dengan motifnya berwarna merah dan kuning. Untuk warna kuning dipasang pada bagian ujung kain sebagai penutup warna merah.

Riasan kepala perempuan tidak semegah Siberut Utara. Setelah rambut perempuan diikat dengan gelang karet baru disisip dengan laigak leleu pada bagian kepala belakang setengah lingkaran. Kemudian ikat kepala dipasang luat atau sikairaat. Bila yang dipasang luat maka pada bagian depan kepala tepatnya di atas kening dipasang singengen yang terbuat dari laigak leleu. Tapi bila memakai sikairaat maka pemakai tidak menggunakan singenget.

Setelah ikat kepala, baru dipasang ogok dari bulu ayam. Bulu ayam ini diikatkan pada lidi pelepah kelapa atau dari bambu yang diraut sebesar lidi pelah kelapa. Untuk satu lidi diisi dengan lima hingga tujuh bulu ayam baik jantan maupun betina. Biasanya pada bagian bulu ayam yang diambil pada bagian ekor yang memiliki warna menarik. Ogok yang disisipkan dirambut ini hingga memenuhi bagian kepala dan terlihat seimbang.

Lalu pada bagian leher dipasang kalung atau ngalou dari manik-manik. Untuk pakaian adat Sarereiket pada bagian punggung dipasang sikiniban (batang jahe bukit). Sikiniban ini digantung pada ngalou. Pada bagian lengan dipasang lekkeu (pengikat lengan) dari manik-manik. Untuk mempercantik bagian lengan, dipasang daun surak.

Pada bagian ikat pinggang dipasang leilei tenga dari manik-manik. Leilei tenga ini bertujuan selain mempercantik pada bagian pinggang seorang pengantin perempuan juga untuk mempertahankan sineibak atau sobbe tidak jatuh atau melorot.

Sedangkan pada pengantin laki-laki juga memakai luat dan singennget pada bagian depan, lalu pada bagian leher dipasang kalung dari manik-manik yang disebut tuddak dan pada bagian lengan dipasang lekkeu dari manik-manik yang disisip daun surak. Sedangkan pada bagian pinggang dipasang kain merah dan diikatkan sabok sebagai penutup paha bagian depan.

Warna pakaian yang dipakai perempuan bisa kaos warna merah, kuning atau putih. Sedangkan untuk laki-laki bila memakai kaos maka dipakai kaos warna putih atau bertelanjang dada.

Sementara untuk pakaian adat pangureijat dari Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, pengantin perempuan memakai tetekuk dari bulu ayam yang dikat pada lidi pelepah kelapa atau bambu yang diraut. Tetekuk ini disisipkan pada rambut yang sudah diikat sebelumnya. Setelah tetekuk dipasang bekeu (bunga kembang sepatu) dan sebagai pengikat kepala dipasang sorot silailai. Sorot silailai ini dari manik-manik yang ditempel pada rautan sasa atau rotan. Pemasangannya seperti memasang mahkota. Masih pada bagian kepala, setelah sorot silailai dipasang girik-girik. Sedangkan simakiniu (terbuat dari jahe bukit yang dipasang kuning jahe) dipasang pada bagian kiri-kanan pipi.

Untuk leher dipasang inu (kalung manik-manik), pada lengan dipasang gelak, pada pinggang dipasang lailai dari manik-manik. Pada bagian lailai sebagai aksesoris dipasang bilabilak dari lonceng kecil atau pernak-pernik yang memberikan pantulan cahaya saat kena sinar matahari. Untuk rok atau komak. Selain lailai juga dipasang sorot lailai dari sasa atau rotan yang ditempel manik-manik. Komak di Taileleu berwarna hitam.

Sedangkan untuk pengantin laki-laki memakai luat, girik-girik, kasosoirak, Simakiniu, inu, manai simakiniu, lekkau dan pada bagian pinggang dipasang kain merah sebagai ikat pinggang.

Lain lagi dengan pakaian adat pangureijat asal Saibi, Kecamatan Siberut Tengah. Pengantin perempuan memakai rok berwarna biru, merah dan kuning. Penjahitannya dimulai dari biru, lalu diselang seling dengan merah, lalu kuning dan seterusnya hingga ke bawah. Sementara hiasan kepala hampir sama, ogok dari bulun goukgouk (bulu ayam), laigak leleu (jahe bukit), kemudian ada gajun gojo (batang gojo), sosorot, ngaloi, ngalou, lailai para (ikat pergelangan lengan), letcu (ikat pergelangan tangan), joroja dan sineibak atau kain rok perempuan.

Sementara untuk pengantin laki-laki dari Saibi memakai cawat atau dodoibok dari kain, ngalou pada bagian leher, sorot atau luat sebagai ikat kepala, bulut gougouk sebagai bunga bagian kepala, kinibet dan opput tenga sebagai ikat pinggang yang terbuat dari kain.

Pakaian pangurei dari Bojakan, Siberut Utara memiliki ciri khas pada ogok pengantin perempuannya. Mereka menggunakan ogok kailaba (bulu kailaba), daun laigak (jahe bukit), ogok bulu ayam dan bunga kembang sepatu. Pada bagian leher dipasang ngalou, untuk pengikat lengan dipasang papang, gelang tangan dipasang leccu, ikat pinggang disebut lailai dan rok disebut laka dengan motif warna dasar merah dan pada bagian bawah dipasang warna kuning dan hitam secara berjenjang saat dijahit.

Sedangkan untuk pengantin laki-laki memakai luat sebagai ikat kepala, tuddak sebagai kalung, lekkau yaitu pengikat pergelangan lengan, mangok sebagai gelang pergelangan tangan. Untuk ikat pinggang memakai kain merah yang disebut laka.

Di Kecamatan Siberut Barat untuk pengantin perempuan memakai luat sebagai ikat kepala, tuddak sebagai kalung, lekkau sebagai ikat lengan, mangok sebagai gelang dan papanat tenga sebagai ikat pinggang dari manik-manik. Yang membedakan untuk laki-laki yaitu ikat pinggang yang dari kain merah, kemudian ogok.

"Kalau pesta kegembiraan seperti pangureijat, di bagian depan dipasang aileppet dengan digantung pada kalung manik-manik, " kata Agnes Sakatsilak, perias pakaian adat.

Sedangkan di Siberut Selatan, yang membedakan riasan pakaian adat mereka dengan yang lain terletak pada bagian punggung pengantin, yang mana pada bagian punggung dipasang daun sijambi sebagai pengharum.

"Daun suraknya juga tidak sembarang. Ada jenis surak tinanaik iban laut dan jenis tinanaik goukgouk, " kata Cicilia, salah seorang perias.

Kesamaan dari lima kecamatan yang menampilkan pakaian adat yaitu ogok, semuanya terbuat dari buluk kailaba, buluk goukgouk, bekeu, laigak leleu, manik-manik, serta arah pemasangan rok perempuan dalam pesta.

"Untuk arah ujung lipatan rok semuanya sebelah kiri. Tapi bagi kami di Siberut itu sebagai tanda gembira, " katanya.

Pastor Bernadus Lie, Pr, salah seorang pemerhati budaya pada pakaian adat Mentawai mengatakan manik-manik dipakai pada ikat kepala, leher, lengan, pergelangan tangan dan ikat pinggang.

"Namun modelnya menjalin atau menguntai kalungnya model lama, bukan yang model sekarang yang mirip dengan kepunyaan Dayak, Kalimantan, " katanya.

Lebihlanjut dikatakan Pastor Bernad, untuk masa sekarang ini modifikasi perlu dilakukan tapi tidak memghilangkan nilai dari budaya Mentawai itu sendiri. Misalnya bagi masyarakat Mentawai dulunya memakai kabit maka saat ini memakai celana pendek atau panjang. Bila dulu perempuan tidak memakai pakaian, untuk saat ini memakai pakaian seperti kaos atau yang bisa disesuaikan.

"Begitu juga dengan ogok. Boleh tidak memakai ogok secara keseluruhan namun dalam penampilan seorang siokkok Mentawai wajib menyematkan beberapa ogok dari bulu ayam," katanya.

Pakaian adat Mentawai, dikatakan Pastor Bernad, tidak bisa disamakan antara satu daerah dengan yang lain dan tidak bisa dilakukan penilaian dalam sebuah lomba. Namun hanya ditampilkan sebagai sebuah festival atau pawai agar orang dapat melihat ragam pakaian adat Mentawai masa dulu dan kreasinya masa sekarang.

"Kekayaan Mentawai itu yang kita jual kepada dunia luar. Bukan menetapkan satu macam dengan mengorbankan yanh lain untuk ditonjolkan," katanya.

Aman Boroi Ogok Sakaliou, salah seorang sikerei dari Sanggar Uma Jaraik Sikerei, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan mengatakan tidak ada pakaian orang Mentawai di masa dulu. Sehingga untuk menutup aurat laki-laki memakai cawat dan perempuat memakai komak. Keduanya dari kulit pohon baiko.

"Kalau perempuan dua hingga tiga lapis mereka memakai kulit baiko sebagai penutup aurat, " katanya.

Kain yang dipakai sebagai rok dan cawat saat ini ada dan dipakai hingga sekarang dibawa oleh penjajah pada masa Belanda, Jepang dan masuknya ajaran agama Protestan sekira tahun 1940-1970-an.

"Masih sistim barter pada waktu itu. Kita bekerja membantu mereka, mereka kasih upah dalam bentuk kain. Atau kita kasih bahan makanan, mereka kasih kain," katanya.

Ada tiga jenis pakaian adat Mentawai yang umum digunakan sesuai dengan kegiatan yang mereka lakukan diantaranya pakaian adat sikerei, pakaian adat pangureijat dan pakaian sehari-hari seperti ke ladang, mencari ikan dan aktifitas sehari-hari lainnya.

BACA JUGA