Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Pedalaman Mentawai

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dari Pedalaman Mentawai Guru Sekolah Uma Tinambu sedang mengajar di ruang gereja Dusun Tinambu. Anak-anak ini belum memiliki gedung sekolah sendiri dan masih menumpang belajar di gereja dan Balai Dusun (Foto: Ocha Mariadi)

MENTAWAI--Bagi anak-anak Sekolah Uma Tinambu, guru-guru mereka adalah pahlawan. Orang yang mengabdikan dirinya untuk mengajarkan anak-anak pedalaman baca dan tulis serta berhitung. Jauh dari keluarga, dan minim fasilitas.

Sekolah ini merupakan sekolah pertama di Dusun Tinambu, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah yang terletak jauh di hulu sungai Silaoinan. Sekolah pada awalnya merupakan sekolah komunitas yang digagas Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) pada 2009 untuk memberikan layanan pendidikan di daerah ini yang tak tersentuh pendidikan.

Di sekolah inilah Marlina Salabbaet bersama seorang rekannya mengajar dengan fasilitas sederhana dengan satu tujuan memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak di daerah itu. Ia bergabung di sekolah itu pada 2013 ketika YCMM memintanya mengajar di sana.

Marlina mengaku tak mudah baginya menyesuaikan diri di kampung tersebut, banyak tantangan yang mesti ia taklukan. Meski Tinambu satu desa dengan Saliguma, kampung asal Marlina namun kondisi kedua daerah sangat jauh berbeda. Jarak Tinambu dengan Saliguma sekira 14 kilometer yang dapat ditempuh dengan jalur darat melewati jalan setapak yang berbukit, belum ada jalan beton yang menghubungkan ke dua daerah tersebut. Perjalanan dapat memakan waktu sekira 1 hari.

Sementara jika melewati sungai, dengan perjalanan memutar yakni dari Tinambu ke Muara Siberut kemudian dilanjutkan dengan speedboat lagi ke Saliguma menghabiskan waktu sekira 4 jam. Biaya yang mesti dikeluarkan menempuh perjalanan ini sangat banyak.

Belum ada sarana telekomunikasi di sana karena tidak ada jaringan telepon. Sementara penerangan mayoritas masih menggunakan lampu minyak, hanya beberapa memiliki mesin genset yang tak selalu hidup tiap malam.

Di Tinambu belum ada fasilitas sekolah yang memadai, jalan darat ke Saliguma belum ada. Yang ada hanya kesunyian yang sesekali ditingkahi canda tawa penduduk setempat yang pulang dari ladang pada sore hari.

"Kondisi ini berbeda dengan kampung saya," katanya kepada Puailiggoubat.

Untuk bertahan di daerah sunyi itu, menurut Marlina harus dapat mengalahkan kesunyian dan menikmati keadaan. Selain itu harus menjaga ritme semangat.

Marlina sadar fasilitas yang dimiliki sekolahnya tak bisa disamakan dengan sekolah formal di tempat lain, bahkan di Saliguma sekalipun. Di Tinambu belum ada gedung belajar, mereka menggunakan gedung gereja dan sebagian di balai dusun yang dibangun setahun yang lalu. Kursi panjang dijadikan meja saat belajar sementara murid yang berjumlah 23 orang itu duduk di lantai.

"Saya kadang terenyuh melihat semangat anak-anak belajar dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anaknya," tuturnya.

Meski tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua di Tinambu rendah namun semangat mereka mendukung pendidikan tidak terbatas hutan yang mengelilingi kampung mereka. Marlina mengatakan, orang tua sangat aktif saat diajak rapat membahas sekolah begitu juga gotong royong kebutuhan sekolah.

Di Tinambu, selain mengajar pelajaran umum seperti matematika, IPS, IPA, mereka juga memberikan pendidikan tentang ilmu tradisional dan budaya masyarakat setempat seperti kesenian daerah, kearifan lokal dan pengetahuan tentang obat tradisional obat Mentawai.

Tak tiap bulan Marlina dapat berkoordinasi baik dengan YCMM, SDN 16 Saliguma maupun UPTD Pendidikan Siberut Tengah karena sulitnya akses transportasi. Biasanya ia keluar dari Tinambu ke Muara Siberut atau Saliguma jika ada kebutuhan mendesak, misalnya mengikuti panggilan pelatihan atau membeli kebutuhan sehari-hari.

Rumah yang ditinggali Marlina merupakan sumbangan yang diberikan penduduk setempat agar mereka betah mengajar. Menurutnya rasa kekeluargaan di kampung ini sangat terasa inilah yang menjadi salah satu membuat dirinya tetap mengabdi di kampung ini.

Meski belum menjadi sekolah formal, namun anak-anak di Tinambu yang hanya sampai kelas IV saat ini dapat melanjut ke kelas V dan seterusnya ke SDN 16 Saliguma. Hal ini dapat terwujud atas kerjasama yang saling mendukung antara masyarakat, Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Siberut Tengah dan YCMM. Pada Januari 2013, UPTD Pendidikan Siberut Tengah, Kepala SDN 16 Saliguma dan YCMM menandatangani nota kesepahaman yang salah satu bunyinya memperbolehkan anak-anak dari Tinambu melanjutkan ke SDN 16 Saliguma.

"Pendidikan kini telah berkembang di Tinambu, tamatan dari sekolah ini bahkan telah melanjutkan ke SMP," ujarnya.

Seiring respon pemerintah, kini Sekolah Uma Tinambu mendapat tambahan guru kontrak sebanyak 2 orang dan 1 orang guru agama. Menurut Marlina ia akan terus bertahan di sekolah ini saat tenaganya masih dibutuhkan.

Sekitar 3 atau 4 kilometer dari Tinambu, adalah kampung Magosi yang masuk wilayah Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan. Di perkampungan ini hanya ada satu sekolah yakni Sekolah Uma Magosi yang juga didirikan YCMM pada 2007.

Kondisi Sekolah Uma Magosi jauh lebih baik dibanding Tinambu karena sekolah ini telah menjadi filial dari SDN 12 Muntei, Kecamatan Siberut Selatan. Pada Juni 2013 YCMM dan SDN 12 Muntei menandatangi kesepakatan bahwa tanggungjawab sekolah diambil ahli.

Armanda adalah salah satu guru di sekolah tersebut seangkatan dengan Marlina Salabbaet di Tinambu. Keprihatinan Armanda terkait nasib pendidikan anak di kampungnya membuat dirinya bersedia direkrut menjadi guru oleh YCMM pada 2013, pertama kali diangkat ia mendapat honor Rp700 ribu per bulan. Jumlah itu memang tidak besar namun tak membuat semangatnya surut untuk mengajar anak-anak di kampungnya.

Sekolah Uma Magosi mengalami tiga kali pindah tempat, pertama di rumah Aman Sabba Ogok, kemudian di Gojo, terakhir di perkampungan Magosi. Perkampungan Magosi terbentuk atas kesadaran masyarakat menyatukan pemukiman mereka agar anak-anak mereka gampang mengakses pendidikan.

Di Magosi fasilitas yang mereka pakai pertama kali pindah memakai gereja Katolik, kemudian pindah lagi ke rumah guru-guru. Tempat belajar dilakukan di beranda rumah guru, 1 rumah milik Armanda satunya lagi rumah guru lain.

Siswa yang di sekolah itu sebanyak 19 orang mulai kelas 1 sampai kelas IV. Meski belajar di beranda rumah yang berbentuk panggung tersebut, namun semangat belajar anak-anak tak berkurang.

"Mereka masuk tepat waktu pada pukul 08.00 WIB, meski ada yang pakai sandal malah ada yang tidak pakai apa-apa mereka tak pernah nyerah," kata Armanda.

Menurutnya, semangat inilah yang juga menjadi kekuatan dalam dirinya untuk tetap mengabdi di sekolah tersebut. Armanda kadang merasa geli ketika menjelaskan pelajaran yang berbahasa Indonesia karena murid kadang kebingungan. Untuk mempermudah mereka menerima penjelasan, ia menggunakan bahasa Mentawai yang menjadi bahasa daerah di tempat itu.

"Mereka ingin tahu namun mereka bingung karena belum semua mengerti bahasa Indonesia, terkadang saya harus mengulang penjelasan dengan bahasa Mentawai kadang juga saya gabung yang jelas murid mengerti apa yang sedang dipelajari," tuturnya.

Jarak kampung yang jauh menurut Armanda mempersulit dirinya melakukan koordinasi dengan sekolah induk di Desa Muntei yang ditempuh sekitar 4 jam perjalanan menyusuri sungai dengan perahu bermesin (pompong). Ketika ada informasi soal sekolah untuk Magosi, kata Arman, kadang mereka terlambat terima karena tak ada pengiriman yang pasti. Penyampaian informasi masih mengandalkan surat atau pesan melalui orang kampung yang turun ke Muara Siberut.

Tak ada yang bisa disalahkan dari keterlambatan informasi karena kondisi geografis yang cukup jauh, sarana telekomunikasi tidak dapat diakses di tempat itu. Masukan untuk kebutuhan sekolah biasanya dilakukan ketika kepala sekolah berkunjung ke daerah tersebut yang dijadwalkan tiga kali sebulan, namun terkadang hal tak dapat berjalan sebab akses transportasi ke daerah tersebut cukup sulit.

Setelah mengajar sekitar setahun, Armanda diangkat menjadi guru kontrak oleh pemerintah setelah lulus ujian yang dilakukan Dinas Pendidikan Mentawai, sejak saat itu gaji dibayarkan oleh Pemda Mentawai. Sekolah tempat Armanda mengajar kini telah memiliki gedung baru yang yang terdiri dari 3 kelas dibangun dari Dana Alokasi Khusus pada 2015, murid yang dulunya belajar di beranda telah pindah ke gedung itu.

Kepala UPTD Pendidikan Siberut Selatan, Hijon Tasirilotik tak membantah minimnya kondisi pendidikan di daerah tersebut. Dengan menggandeng pihak swasta seperti YCMM dan Pastoran Muara Siberut, mereka mulai membenahi sekolah yang ada.

"Pendidikan di wilayah Salappak dan daerah Silakoinan tetap kita perjuangkan contoh seperti Bekkeiluk yang mengelola masih pihak swasta, itu miliknya SD Santa Maria termasuk gedung masih milik mereka. Sementara di Magosi masih filial begitu juga SD Salappak yang tingkat kelasnya masih sampai kelas V karena muridnya belum ada kelas VI sebab sebelumnya mereka telah melanjutkan ke Muara Siberut jika melanjut setelah kelas IV," ujarnya.

Menurut data UPTD Pendidikan Siberut Selatan, jumlah sekolah di Kecamatan Siberut Selatan terdiri 8 SDN, 2 SD swasta, 2 SMPN, 2 SMP swasta, 2 SMA/SMK dan 1 SMA swasta.

(Hendrikus/Gerson)

BACA JUGA