Berjuang Demi Menguliahkan Anak

Berjuang Demi Menguliahkan Anak Oreste (berjaket hitam) bersama Ash dan Matilda dari Norwegia dan warga Gorottai, Desa Malancan, Siberut Utara Kepulauan Mentawai. (Foto: Bambang Sagurung/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN--Tak satu jalan menuju Roma. Begitulah prinsip yang dilakukan keluarga Samuel Saririkkak (65), warga Kampung Gorottai, Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara dalam dunia pendidikan.

Terbukti, keluarga yang tinggal di kampung kecil yang hanya dihuni 11 kepala keluarga di pinggir sungai Terekanhulu berhasil berhasil menyelesaikan pendidikan anaknya, Oreste Mandui pada jenjang strata satu jurusan Sastra Inggris di STBA Prayoga Padang.

"Dia anak pertama dari Gorottai yang berhasil jadi sarjana," kata Samuel pada Mentawaikita.com, Kamis, 25 Oktober 2018 di rumahnya.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara yang telah membuat bangga keluarga dan mengangkat nama Kampung Gorottai, pada wisuda Oreste Mandui, 6 Oktober 2018, di Hotel Mercure Padang, Samuel Saririkkak dan istrinya, Mandui ikut hadir dalam acara wisuda."Kami tidak menyangka kalau anak kami bisa selesai pendidikannya karena biayanya hanya dari uang sedikit-sedikit yang dikumpul," kata Samuel.

Untuk biaya pendidikan selama kuliah di Padang, keluarga Samuel hanya mengandalkan hasil kebun pinang, kelapa dan berjualan kerajinan tangan dari bahan rotan dan ugei. Misalnya untuk membuat opa, long ayam, ayunan hingga kerajinan tangan lainnya.
"Setiap bulan saya buat oorek dan soso (keranjang rotan) dan roigen (long ayam) untuk dijual dan hasilnya biaya anak sekolah, " kata Neubuk Sirisurak, istri Samuel.

Untuk oorek yang ukuran besar dijual dengan harga Rp100 ribu. Sedangkan soso dijual dengan harga Rp35-50 ribu dan roigen dengan harga Rp25 ribu per buah. Dan hasil kerajinan ini dijual di sekitar wilayah Desa Malancan serta dibawa ke wilayah Desa Sigapokna yang dekat dengan logpon PT. Salaki Summa Sejahtera.

"Sekali saya pergi bawa oorek 10 buah yang hasilnya dapat Rp1 juta. Kadang ada yang pesan dan kadang saya tawarkan saja," katanya.
Selain membuat kerajinan tangan, biaya pendidikan anaknya diperoleh dari hasil panen buah kelapa yang disalai untuk jadi kopra dan buah pinang. Untuk buah kelapa sekali panen dalam tiga bulan dan dijadikan kopra menghasilkan 5-7 karung ukuran 50 kg. Begitu juga dengan buah pinang. Bila sedang musim dan lagi musim kadang dalam sebulan bisa menghasilkan 3-5 karung buah pinang cungkil yang kering.

"Begitu terus yang kami lakukan. Sambil menunggu panen buah kelapa, kami panen buah pinang dan membuat kerajinan," katanya.
Japet Saririkkak, saudara Oreste ikut membanting tulang membantu biaya pendidikan Oreste. Misalnya, ikut menjadi tim survei lapangan PT. Salaki Summa Sejahtera pada blok tebangan yang akan ditebang berdasarkan RKT (Rencana Kerja Tahunan).
"Dengan upah Rp70 ribu per hari dan lama bekerja biasanya 25 hari, hasil ini juga digunakan untuk membantu biaya pendidikan Oreste," katanya.

Sebelum masuk kuliah di STBA, Oreste pernah diimingi oleh oknum calon anggota DPRD Mentawai untuk dikuliahkan dari beasiswa pemda bila keluarga Oreste mau memilih calon ini pada pemilihan legislatif 2014. Tapi setelah menunggu informasi beasiswa pemda, yang dijanjikan tak kunjung nyata."Akhirnya kami berembuk dalam keluarga untuk mencari biaya agar yang dicita-citakan Oreste dapat tercapai," katanya.

Sebelum berangkat ke Padang untuk masuk kuliah, orangtua dan saudata Oreste mempertanyakan dan menyakinkan keinginan dan niat baik Oreste untuk menyelesaikan pendidikan."Ketika kami tanya apakah sanggup menyelesaikan pendidikan dan tidak berhenti ditengah jalan, dan apa jawaban Oreste dan hasilnya sekarang sudah terbukti," katanya.

Oreste Mandui mengakui pilihan dirinya memilih jurusan Sastra Inggris karena peluang kerja yang terbuka. Karena bahasa Inggria merupakan bahasa dunia dan peluang kerjanya bagus."Bahasa Inggris ini dipakai dimana saja. Peluang kerjanya sangat bagus," katanya.
Laki-laki kelahiran 8 Februari 1994 ini, kini bercita-cita menjadikan Kampung Gorottai sebagai kampung tempat belajar bahasa inggris bagi masyarakat setempat dan bagi orang luar sambil menikmati keindahan yang ada di Gorottai.

"Kita mau buat kampung belajar bahasa Inggris sehingga masyarakat dan orang-orang yang datang mahir berbahasa inggris. Apalagi ada potensi wisata alam, budaya yang bisa ditawarkan di kampung Gorottai dan sekitarnya, " katanya.

BACA JUGA