Pentingnya Sagu dan Keladi dalam Pesta Adat Mentawai

Pentingnya Sagu dan Keladi dalam Pesta Adat Mentawai Ibu-ibu di Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara sedang memasak siaru, keladi yang dimasak dalam bambu. (Foto: Bambang Sagurung/MentawaiKita.com)

SIKABALUAN— Saat persiapan punen putalimongat (pesta pernikahan) di Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai beberapa waktu lalu, ibu-ibu seakan berlomba memasak keladi di dalam bambu. Jejeran bambu yang berisi keladi tersusun bersandar diatas tungku panjang sekira empat meter. Mereka duduk sambil menjaga bara api masing-masing.

"Kita mempertahankan agar apinya stabil. Tidak membakar hangus bambu. Kalau apinya bagus maka keladi didalamnya akan masak dengan baik, " kata Memeuk, salah seorang ibu rumah tangga.

Sebelum dimasukkan dalam bambu, kulit keladi dikupas dan diperkecil sebesar ibu jari orang dewasa. Kemudian dimasukkan dalam bambu hingga penuh dan dimasak. Setelah beberapa lama di atas bara api, bambu tersebut dihentak-hentakkan agar keladi yang ada didalamnya menyusut dan ditambah kembali dengan keladi yang baru kemudian dimasak hingga matang. Keladi yang dimasak dalam bambu ini disebut siaru (Sikabaluan) atau okbuk (Siberut Selatan).

"Kalau perapiannya bagus masaknya sekira 30 menit. Kadang juga bisa satu jam, " katanya.

Siaru ini hanya dibuat dalam punen karena bahan makan yang dihidangkan dalam proses panei kan toga atau hidangan makanan untuk pengantin. Hidangan ini tidak bisa digantikan dengan nasi atau kue yang terbuat dari tepung sagu atau tepung terigu.

Untuk dapat dihidangkan sebagai Kan Toga, keladi yang sudah masak dalam bambu dikeluarkan dan diletakkan dalam panei (Sikabaluan) atau luklak (Siberut). Panei ini terbuat dari kayu yang dibuat hampir mirip seperti sampan. Ini digunakan sebagai tempat menumbuk keladi dari bambu. Alat penumbuknya dari kayu juga yang disebut cucutcut."Akan tercium aroma yang harum dan rasa keladi yang bagus," katanya.

Setelah keladi halus ditumbuk baru dibulatkan sebesar bola pimpong dan ditaburi parutan kelapa yang masih muda. Agar terasa manis, parutan kelapa dicampur sedikit garam halus dan gula pasir sesuai selera.

Tak hanya keladi, sagu dalam sebuah punen sangat penting dan tidak bisa digantikan. Sagu sangat cocok dengan daging babi atau biasa disebut lok sua. Dalam punen, daging babi biasanya hanya direbus dengan garam sebagai bumbu cita rasa.
"Tak mateuk mulok sua samba nasi. Barana punu teteuta ali sikinek sagu lek bolaik lok sua (tidak cocok makan daging babi dengan nasi. Dari nenek moyang dulu hingga sekarang makan daging babi itu hanya dengan sagu), " kata Taleku Sikaraja, salah seorang sikebbukat uma (pemimpin suku/uma).

Dikatakan Taleku, untuk memberikan makanan anak dalam punen putalimogat tidak hanya dua bahan makan, sagu di dalam bambu dan keladi yang sudah dijadikan tinemei atau subbet. "Kalaupun menantu mereka dari luar Mentawai, dia wajib makan sagu atau tinemei dalam acara Kan Toga. Kecuali arat (agama) mereka tidak sejalan dengan budaya Mentawai. Kalau ada suku yang mengganti sagu dan tinemei dengan nasi atau tepung berarti mereka sudah bodoh dan tidak tahu adat, " katanya.

Taleku Sikaraja mengatakan, dalam kehidupan modern sekarang orang Mentawai tidak dilarang makan nasi namun sagu, keladi harus tetap dipertahankan karena itu erat kaitannya dengan budaya Mentawai. "Sagu dan keladi tidak bisa dipisahkan dari budaya Mentawai. Saya tidak tahu jadinya kalau sagu dan keladi habis karena beras, " katanya.

Meskipun dalam pesta adat, sagu dan keladi sangat penting sebagai warisan kuliner Mentawai, dalam laku hidup sehari-hari, konsumsi sagu dan keladi sudah bergesar menjadi beras. Banyak masyarakat Mentawai terutama generasi muda terbiasa mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok.

"Sudah jarang orang menyagu sekarang, orang lebih banyak makan nasi dari pada sagu," kata Kepala Desa Sotboyak Kecamatan Siberut Utara kepada MentawaiKita.com beberapa waktu lalu.

Meski demikian, masih ada orang-orang yang mempertahankan kuliner asli Mentawai ini, salah satunya Rosi (60), ibu rumah tangga di Dusun Gorottai Desa Malancan, Siberut Utara. Setiap hari ia masih menghidangkan sagu untuk makan keluarga.

"Kalau makan sagu sepertinya kami lebih kenyang. Tapi kalau makan nasi cepat kenyang dan cepat lapar, " katanya.

Rosi selalu menyediakan sagu untuk keluarganya setiap hari. Ada yang dimasak dalam daun sagu, ada dalam tabung bambu. "Tanpa ikan, sagu masih bisa dimakan. Tinggal hidangkan teh atau kopi, " katanya.

BACA JUGA