Katsaila, Nilai Sakral dalam Uma

Katsaila Nilai Sakral dalam Uma Daniel Sabulukkungan, Sikebbukat Uma Sabulukkungan di Dusun Puro Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan sedang menyampaikan buluat kepada bakkat katsaila. (Foto: Rus Akbar)

SIKABALUAN--Pengantin berjalan beriringan dengan menginjitkan kaki. Di bagian tangan kanan masing-masing memegang ayam simanosa (ayam yang masih muda), sementara tangan kiri mereka memegang katsaila. Mereka berjalan dari jalan depan uma menuju tangga uma sebagai tanda masuknya keluarga baru dalan sebuah uma. Mereka berjalan diiringi bunyi gajeumak (gendang Mentawai) dan disaksikan seluruh anggota uma.

Ekeu kina toiten
Sibalu takkka
Abe kabuntenna
Simatoroi mianan
Sigerai bagamai
Tak sigerei bagamui

Itulah sebait sukat yang berisi petuah untuk keluarga baru yang disampaikan Taleku Sikaraja sebagai sikebbukat uma. "Semua punya makna mendalam dalam kehidupan sehari-hari, " kata Taleku Sikaraja pada Mentawaikita.com, Minggu (7/10).

Katsaila merupakan hal yang wajib ada dalam sebuah uma. Karena katsaila merupakan tanda sakral yang membawa pihak keluarga dalam sebuah uma pada keselamatan tanpa ada gangguan.

"Katsaila yang dibawa pengantin baru dalam iringan menuju uma itu adalah penangkal dalam perjalanan hidup agar terhindar dari bahaya, " kata Taleku, salah seorang sikebbukat uma di Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara.

Dalam kesempatan berbeda, Boroi Ogok Sakaliou sedang memasangkan katsaila bagian kaseu tobat uma pada bagian kiri-kanan uma. Katsaila yang dipasangnya dari daun pucuk sagu yang sudah dilepas lidinya.

"Katsaila itu ada macam-macam bentuk dan letaknya. Tapi pada intinya itu sebagai tanda sakral agar kita yang melangsungkan punen selamat, " kata tokoh budaya dari sanggar Uma Jaraik Sikerei Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan.

Lebihlanjut dikatakan Boroi Ogok, selain pada bagian kaseu uma, katsaila juga dipasang pada bagian depan uma. Pada bagian depan uma dipasang pada sebatang bambu panjang yang ditancap ditanah pada bagian halaman uma. Jumlah ini menentukan besarnya babi yang menjadi lauk pauk selama punen.

"Orang bisa tahu berapa ekor babi yang mereka punya. Di sini letak sebuah kebanggaan anggota uma. Apalagi yang ditancap itu diatas empat katsaila. Artinya ada empat ekor babi besar, " katanya.

Tak hanya bagian luar uma, pada bagian dalam uma juga memiliki katsaila. Namanya katsaila kaerukan. "Biar ada kedamaian dan ketentraman dalam sebuah uma, " katanya.

BACA JUGA