Sikerei, Para Penjaga Rimba Mentawai

Sikerei Para Penjaga Rimba Mentawai Dua Sikerei di Dusun Rogdok, Desa Madobag, Siberut Selatan, Mentawai

MENTAWAI -Petang menjelang ketika rombongan kami, tim Rimba Terakhir menapakkan kaki di Dusun Rogdok Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai. Senja merona disertai kabut tipis turun di sela pepohonan seolah menyambut kami di desa adat, tempat masyarakat lokal masih setia menjalankan ritual arat sabulungannya, kepercayaan leluhur orang Mentawai.

Bagi saya, ini perjalanan keempat ke Rogdok, dan suasana yang dirasakan selalu sama, sunyi dan magis, seolah memberi ketenangan bagi kami, orang yang senantiasa hidupnya terburu-buru waktu. Sapaan ramah warga di sepanjang perjalanan selama berjalan kaki ke Rogdok jadi semacam penyemangat, memberi energi saat tenaga terkuras karena baru saja melalui perjalanan dengan kapal cepat Mentawai Fast selama 4 jam dari Padang ditambah 2 jam dari Dermaga Pokai, Siberut Utara.

https://image.ibb.co/cGnwgp/02.jpg

"Anailoita (apa kabar)"

Sapaan khas berbahasa Mentawai itu kerap dilontarkan warga yang baru pulang dari ladang, sambil membawa parang dan menyandang orek (semacam tas dari rotan yang disandang di punggung) berisikan hasil ladang, ada keladi, pisang ataupun okbuk (buluh bambu) yang akan dijadikan tempat mengolah keladi, sagu ataupun ikan.

Mereka semua berjalan kaki, sangat jarang kami berjumpa orang naik motor karena jalanan menuju Rogdok dari Dusun Mangorut, tempat pemberhentian terakhir mobil pick up yang kami tumpangi belum bagus, masih banyak kubangan yang ditutup papan.

Sebenarnya jalanan menuju Rogdok hingga Madobag sudah masuk dalam program pembangunan trans Mentawai pemerintah, namun belum semuanya selesai diperbaiki. Sekitar 8 km jalan dari Dermaga Maileppet, tempat kapal berlabuh dari Padang hingga jalan terakhir yang bisa diakses mobil sudah ditimbun material, sebagiannya sudah dibeton.

Meskipun berjalan kaki sekira 1 jam lebih dengan keringat bercucuran di badan namun langit ditutup awan sehingga kami tidak merasakan panas menyengat. "Ulau manua memberkati kita," kata Mas Rahmadi yang menjadi kepala rombongan.

Setiba di kampung, kami melepas penat di rumah Bapak Malaikat Sarogdok, mantan kepala dusun yang sangat ramah. Rumah beliau senantiasa menjadi tempat persinggahan saya tiap ke Rogdok. Segelas kopi dan sebungkus biskuit menemani senja kami sambil menunggu pompong dan boat datang. Kami menyewa pompong dan boat untuk membawa logistik dan perlengkapan tim. Satu anggota tim, Febrianti memilih menumpang boat. "Ingin merasakan senja di Sungai Sarereiket," katanya.

Dahulu, akses satu-satunya ke pedalaman Siberut di Rereiket (Madobag dan Matotonan) hanya bisa melalui sungai Sarereiket yang berliuk-liuk panjang bak ular. Waktu tempuh lumayan lama, ke Rogdok saja bisa 3-4 jam jika naik boat karena bodinya lebih besar atau 1,5-2,5 jam pakai pompong yang lebih ringan dan ramping. Sejak ada jalan, lebih banyak penduduk dan wisatawan memilih berjalan kaki.

Ternyata pompong memang sampai duluan, disusul boat satu jam kemudian. "Kami tiap sebentar harus turun dorong-dorong boat, kasihan sama Bang Encu (operator boat)," kata Febrianti saat sampai di penginapan.

Di Rogdok, selain rumah Pak Malaikat, kami juga menginap di rumah Pak Gervasius Tasiriottoi, yang menjabat kepala dusun Mangorut, kampung sebelum Rogdok. Sebab anggota rombongan cukup besar, ada 18 orang.

https://image.ibb.co/mjGBE9/01.jpg

Pada kunjungan kali ini, Walhi dan Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) bekerjasama dengan teman-teman seniman membuat kampanye untuk penyelamatan hutan Siberut yang terus terancam eksploitasi seperti rencana izin Hutan Tanaman Industri maupun HPH.

Kolaborasi para seniman dengan tajuk Rimba Terakhir ini melibatkan Dima Miranda, Downey Angkiry atau Dowenk dan Freddy Lengkong dari Tausiyah Bunyi, Edo Hia dari Kesenian Proklamator Universitas Bung Hatta, Andre Venandro dari Komunitas Belanak dan M. Yunus Hidayat atau Joe Datuak dari Komunitas Gubuk Kopi, Bayu The Roots serta musisi lokal Mentawai, Daud Sababalat dan penulis perjalanan, Febrianti. Juga ada fotografer, Rus Akbar dan videographer, Zulfikar. Ikut juga bersama kami, penulis yang sedang program residensi di Mentawai, Niduparas Erlang yang kebetulan berjumpa di pelabuhan dan kami ajak bareng dengan rombongan.

Berkunjung ke Uma, Membuat Alat Musik dari Bambu

Kabut tipis turun, dingin masih terasa pagi itu di Rogdok, dusun yang berada di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan. Suara burung beo menyemarakkan suasana. Namun kali ini, saya tidak mendengar suara bilou (salah satu primata khas Mentawai), yang biasanya terdengar di perkampungan saat pagi hari.

https://image.ibb.co/mHX1E9/05.jpg

Pagi itu terasa syahdu ketika segelas kopi dan sebungkus kapurut, makanan tradisional Mentawai dari tepung sagu menemani kami, sambil memotret angsa yang sedang berlenggak lenggok di jalanan depan rumah. Beberapa bocah kecil lewat berangkat ke sekolah. Ada juga ibu-ibu menyandang orek menuju ladang bersama bapak-bapak yang membawa tegle, parang khas Mentawai yang panjang.

Hari itu, kami akan ke Madobag, pusat desa yang berada sekira 5 km dari Rogdok. Kembali kami harus berjalan kaki selama 1,5 jam. Untung saja cuaca baik, matahari bersembunyi ditutup awan, namun hujan ogah turun.

Perjalanan ini terasa seperti perjalanan spiritual. Di jalanan tanah liat yang lumayan licin, kiri kanannya kami disuguhi rumah-rumah kayu khas Mentawai beratapkan tobat (daun sagu). Satu-dua uma juga terlihat dengan hiasan-hiasan tengkoraknya.

Uma merupakan rumah adat Mentawai yang menjadi tempat pelaksanaan ritual adat suku. Semua alat-alat budaya terkait punen atau upacara ada di uma seperti tuddukat (alat komunikasi yang terbuat dari kayu), gong yang biasa dibunyikan saat ritual adat maupun tengkorak hewan buruan dan binatang peliharaan yang menjadi simbol prestise pemilik uma atau suku.

Dahulu, semua anggota suku tinggal di uma, namun program Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PKMT) dengan rumah sosial yang lebih kecil membuat suku yang dulu hidup komunal jadi terpencar.

https://image.ibb.co/gUozZ9/09.jpg

Di sepanjang perjalanan, kami menjumpai tempat pengolahan sagu tradisional. Ini pemandangan langka karena di Mentawai, sudah jarang yang mengolah sagu termasuk mengkonsumsinya kecuali warga di pedalaman. Program sawah dan beras pemerintah tahun 1970-an telah menjauhkan orang Mentawai dari pangan lokalnya, sagu dan keladi. Kini generasi mudanya sudah bergantung pada nasi dan sulit hanya mengkonsumsi sagu.

Kami sampai di uma milik suku Sabaggalet dan disambut sikebbukat uma (pemimpin) Petrus Sabaggalet atau Aman Gebak Kunen. Umanya cukup besar dengan utek iba (tengkorak) yang cukup lengkap. Di atas plafon, terdapat tuddukat dan ukiran burung elang (manyang) dan kelelawar. Manyang punya arti khusus bagi orang Mentawai bahkan ada tariannya, uliat manyang, sama dengan bilou. Di bagian dalam rumah, terdapat lukisan beberapa telapak tangan dan kaki anggota suku yang sudah meninggal, biasa disebut kirekat. Lukisan tersebut sebagai pengingat kepada kerabat yang sudah berpulang. Biasanya kirekat juga diukir di pohon durian di dalam hutan.

Aman Gebak Kunen yang juga seorang sikerei (ahli pengobatan tradisional yang biasanya melakukan ritual adat) bersenandung menyanyikan lagu-lagu kerei yang serupa mantera sambil memperagakan tarian uliat manyang dan uliat bilou. Beliau juga menjelaskan arti filosofis uliat bilou dan uliat manyang ditarikan oleh sikerei.

Menjelang sore, sebelum kembali ke Rogdok, kami singgah ke Air Terjun Kulukubuk yang hutannya masih perawan. Terlihat beberapa pipa terpasang untuk program air bersih masyarakat. Airnya dingin dan telaganya biru tosca. Hampir semua anggota tim tak menahan diri menceburkan badan ke air yang dingin.

Ketika malam tiba, gelap melingkupi Dusun Rogdok. Di sana tidak ada listrik, satu-satunya penerangan hanyalah mesin diesel, dimana pemiliknya harus mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar demi mendapat listrik. Bagi orang luar, pemandangan ini terasa kontradiktif sebab di Rogdok, terpasang tiang-tiang jaringan listrik yang belum beroperasi dari proyek biomassa bambu. Berbeda dengan Madobag yang sudah ada listrik dari tenaga surya program Kementerian ESDM.

https://image.ibb.co/fGe3SU/06.jpg

Gabriel, putra Pak Gerva menghidupkan mesin diesel. Kami semua berkumpul di teras rumah yang cukup lapang. Malam itu, kawan-kawan musisi akan mengekplorasi musik tradisional Mentawai. Daud, musisi lokal yang sudah membawa gajeuma memanaskan di tungku dapur. Mereka berjam session menyanyikan sejumlah lagu. Alunan musik mengundang warga sekitar berdatangan dan menonton bak pertunjukan.

Musik dan kesenian memang tak bisa dilepaskan dalam tatanan kehidupan orang Mentawai. Wajah-wajah gembira mereka terlihat saat mendengar lantunan suara merdu Daud, Dima dan Freddy diiringi hentakan gajeuma, suling dan harmonika nan hamonis. Daud menyanyikan beberapa lagu berbahasa Mentawai seperti Tobbou Mentawai, dan Kelek Koat Ikau Malebak.

Hari ketiga di Rogdok, beberapa anggota tim mengikuti dua sikerei, Sandro Aman Jairo dan Walter Samalelet memasuki hutan, melihat tinungglu (ladang/rimba campuran) warga serta membuat alat musik tradisional dari bambu.

"Hutan menyediakan segalanya bagi kami, di sana kami mencari tanaman obat, tempat kami menanam sagu dan keladi serta pisang untuk dimakan, tempat menanam pinang untuk dijual, sumber bahan kayu untuk sampan kami, jadi tempat hidup hewan-hewan buruan, bahkan dari hutan, kami membuat alat musik seperti gajeuma, pipiau serta loloklok," kata Aman Jairo.

https://image.ibb.co/bFvcnU/04.jpg

Dengan sigap Aman Jairo dan Walter menebang sebatang pohon bambu, satu berukuran agak besar, satunya lagi agak kecil. Yang ukuran besar dipotong menjadi tiga bagian kecil untuk dibuat loloklok, alat musik pukul dengan bilah bambu. Yang kecil dipotong agak panjang menjadi pipiau, sejenis alat musik tiup, umumnya dimainkan para perempuan.

Di bawah pondok kayu kosong dekat sungai yang jernih dan dangkal, dua sikerei itu memainkan dua alat musik itu. Daud yang biasa memainkan gajeuma ikut bergantian memainkan loloklok, sementara Dowenk mencoba membunyikan pipiau.

Sikerei, Penjaga Rimba Mentawai

Dalam kebudayaan Mentawai, sikerei berperan sebagai pemimpin ritual atau upacara adat, namun sebagai tugas utama, sikerei adalah seorang penyembuh yang menguasai ilmu pengobatan. Dalam kepercayaan asli Mentawai (arat sabulungan), penyakit pada seseorang disebabkan karena ketidakseimbangan antara jasmani (tubu) dengan rohani atau jiwa (simagre) seseorang, karena itu di tiap ritual pengobatan, penyembuhan tidak hanya meliputi fisik namun juga rohani yang melibatkan para roh/jiwa-jiwa yang dipercayai dapat dilihat sikerei dan berkomunikasi dengannya.

https://image.ibb.co/nEgWgp/08.jpg

Posisi sikerei sangat penting dan terhormat dalam tatanan kehidupan orang Mentawai terutama di Pulau Siberut dimana para sikerei masih ada. Karena itu, menjadi seorang sikerei tidaklah mudah, harus melalui beberapa tahapan belajar oleh guru atau pembimbing yang disebut sipaumat serta memiliki sejumlah pantangan sepanjang hidupnya. Belum lagi, upacara penobatan sikerei yang membutuhkan biaya besar.

Oleh karena beratnya, tak banyak lagi orang yang mau menjadi sikerei. Di Rogdok, sikerei hanya tinggal 11 orang saja, dan hanya lima diantaranya yang masih kuat melakukan ritual penyembuhan. Sisanya sudah tua, tidak kuat lagi menari, menyanyi dan merapalkan mantera serta mencari tanaman obat.

"Tidak ada yang mau lagi menjadi sikerei karena syaratnya berat, lagipula banyak generasi muda yang sudah sekolah, mereka sudah punya cita-cita sendiri," jelas Aman Jairo.

Agar profesi sikerei bisa bertahan, Aman Jairo hanya bisa berharap kepada orang yang memang ditakdirkan menjadi sikerei, menjadi semacam panggilan jiwa atau mengalami sakit berkepanjangan sehingga obatnya harus menjadi kerei.

Seperti yang dialami Walter, ibunya yang sakit bertahun-tahun baru bisa sembuh setelah dia menjadi kerei. Namun keluarganya harus mengeluarkan biaya tak sedikit saat pengobatan menjadi sikerei, diantaranya babi, ayam, pohon durian, pohon kelapa, ladang keladi, pohon rambutan hutan, kain lakka (kain merah khas sikerei), tangguk udang, termasuk tiga bidang tinungglu (ladang campuran). Selain itu, ia harus melewati 7 kali punen/pesta selama sebulan yang tentu membutuhkan biaya konsumsi yang tidak sedikit.

"Hal itu yang membuat berat, selain berbagai pantangannya, bisa-bisa 20 tahun lagi tidak ada lagi sikerei di Rogdok," kata Aman Jairo.

Di dalam tiap ritualnya, sikerei membutuhkan berbagai daun-daun dalam hutan, baik untuk obat ataupun sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan roh-roh (simagre) maupun asesoris/hiasan. Karena itu, hutan serta isi di dalamnya memiliki arti penting bagi para sikerei karena menyediakan daun-daun kehidupan.

Diakui Walter, pembukaan hutan baik untuk perusahaan, perladangan atau pemukiman telah menjauhkan para sikerei dari sumber tanaman obat. Kini mereka harus berjalan kaki jauh mencari daun-daun kehidupan.

Agar dapat mempertahankan sumber tanaman obat, ada hutan-hutan tertentu yang dirahasiakan lokasinya terutama yang memiliki tanaman obat untuk empat penyakit penting yakni obat untuk digigit ular, obat kena panah racun, obat ibu melahirkan dan obat digigit ular kobra.

"Untuk lokasi-lokasi hutan rahasia ini, jika ada perusahaan mau masuk, biasanya kami larang, kami ingatkan bahwa di situ kawasan rahasia dan penting untuk sikerei," kata Aman Jairo.

"Bagi kami, hutan tidak sekedar untuk mencari tanaman obat, tapi hutan juga menyediakan kayu untuk membuat perahu, panah, rumah bahkan bahan membuat tuddukat (kentongan besar kayu di uma yang digunakan untuk sarana komunikasi), membuat panah berburu dan segala macam," tambah Walter.

Sikerei dengan segala perannya bagi kehidupan spiritual orang Mentawai sejatinya adalah penjaga hutan atau rimba di Mentawai karena bagi mereka, kehilangan hutan berarti akan kehilangan daun-daun kehidupan sebagai sarana komunikasi kepada para roh leluhur dan sebagai sarana penyembuhan.

Mempertahankan Rimba Mentawai

Kepulauan Mentawai menghadapi eksploitasi sumber daya hutan sejak tahun 1970-an melalui skema perizinan HPH. Tercatat setidaknya sudah 9 izin HPH yang dikeluarkan, lima diantaranya berada di Pulau Siberut. Dari waktu ke waktu, hutan di Mentawai senantiasa menghadapi kerusakan, entah oleh eksploitasi yang massif oleh perusahaan maupun karena pembukaan pemukiman. Terakhir, hutan di Pulau Siberut terancam izin Hutan Tanaman Industri seluas 20.110 hektar.

https://image.ibb.co/f1He1p/10.jpg

Ancaman terhadap Mentawai secara umum dan Pulau Siberut secara khusus membuat Walhi dan Yayasan Citra Mandiri Mentawai melakukan advokasi pelestarian dan penyelamatan hutan Mentawai melalui kampanye bertajuk Rimba Terakhir.

Kampanye Rimba Terakhir Mentawai ini diwujudkan dalam kampanye kreatif yang mengajak para musisi, pelukis, penulis dan desain grafis termasuk fotografer dan videografer menciptakan karya seni yang mengkampanyekan hutan Mentawai atau Siberut.

"Melalui kreativitas kawan-kawan seniman yang kita ajak berkolaborasi, kita ingin memperlihatkan bagaimana sesungguhkan arti penting hutan bagi orang Mentawai baik untuk keberlanjutan ekonomi dan kehidupan seni maupun budayanya, kita ingin menceritakan bagaimana keselarasan hidup orang Mentawai dengan hutan," kata Ferdinand Rachim, Kampanye Kreatif Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Walhi.

Semua karya seni para seniman tersebut akan ditampilkan dalam Festival Rimba Terakhir di Kota Padang, Oktober nanti.

BACA JUGA