Menaklukkan Air Terjun Singunung

Menaklukkan Air Terjun Singunung Air terjun Singunung di Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara. (Foto : Dok.mentawaikita.com)

Berkunjung ke Gonggang Singunung atau air terjun Singunung sudah pernah saya lakukan dua kali. Untuk perjalanan yang kedua, tiga tingkat air terjun itu berhasil saya taklukkan. Kali ketiga ini, saya kembali ke sana bersama Riki Hendra, bagian rancangan dan desain wisata Yayasan Citra Mandiri (YCM) Mentawai bersama Jeki, Renatus dan Barnabas. Ketiganya dari Suku Saerejen.

Kami berangkat dari Dusun Sirilanggai, Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara pada pukul 10.00 wib. Cuaca bersahabat pada waktu itu sehingga perjalanan kami akan terlihat lancar. "Kita santai saja karena cuaca bagus dan tidak perlu tergesa-gesa karena kita akan bermalam di sana, " kata Barnabas pada kami.

Sebelum berangkat kami membawa bekal yang diperlukan selama satu hari di Singunung. Misalnya beras, gula, mie instan, kopi, rokok dan perlengkapan pribadi. Tak lupa kami membawa anti nyamuk semprot untuk menangkal gigitan nyamuk serta pacet.

Dari Sirilanggai hingga ujung Dusun Sibeuotcun, badan jalan sudah dirabat beton. Rumah masyarakat tertata rapi. "Tata ruangnya sudah bagus, rumah masyarakat bisa dijadikan tempat penginapan bagi tamu yang datang untuk berkunjung kalau mereka memilih tinggal di rumah masyarakat. Yang penting ada sumur dan jamban yang bagus serta kebersihan, " kata Riki Hendra berpromosi.

Sepanjang perjalanan kami mengamati satwa yang ada, tanaman, jalur tracking serta pondok kandang babi masyarakat. Ini nantinya akan dipandu ketika membuat rancangan dan desain wisata. Terdapat tanaman pisang, kelapa, durian, nangka, pinang, sagu, jengkol keladi dan tanaman lainnya.

"Kita akan ambil data musim buah kapan saja karena ini berkaitan dengan satwa yang muncul saat musim buah serta musim buah ini juga mendukung ketika wisatawan datang," katanya.

Kondisi jalan yang kami lewati tidak begitu berlumpur seperti kedatangan saya pada dua kali perjalanan sebelumnya. Pada bagian badan jalan yang berlumpur sudah dipasang kayu atau dibuatkan jembatan kayu sederhana atau dengan memakai batang bambu dan sagu. Rumput dan semak yang menutupi badan jalan sudah dibersihkan.

"Sejak kandang babi saya di dekat air terjun selesai, tiap hari saya ke sini sambil membersihkan jalan yang kita lewati. Kita juga akan ajak masyarakat yang punya kandang dan ladang di sini supaya setiap lewat membersihkan dan memasang kayu pada tanah yang berlumpur," kata Barnabas.

Dalam perjalanan, kami juga melihat jejak kaki rusa menuju sungai. Dan pada beberapa meter ke depan kami melihat jejak rusa lagi menuju arah hutan. "Dia sepertinya ke sungai untuk minum. Kalau dilihat dari jejak kakinya, sepertinya rusa ini besar," kata Jeki.

Satu jam perjalanan kami sampai di pondok kandang babi milik Barnabas. Kami lalu berbagi tugas. Ada yang masak nasi, giling cabai dari buah tanaman cabai milik Barnabas yang ditanam di dekat pondok kandang babi. Tak lupa kami membuat kopi dan teh manis untuk mengganjal perut menjelang makanan masak.

"Setelah makan, perjalanan kita lanjutkan. Untuk perlengkapan makan dan keperluan lainnya ditinggal di sini saja. Kita bermalam di sini saja," kata Barnabas.

Sekira pukul 14.00 WIB, perjalanan kami lanjutkan setelah makan nasi dengan mi instan rebus sebagai pengganti ikan. Luar biasa pedas, karena mi kami campur dengan cabai keriting. "Air mata menetes bukan karena menangisi perjalanan, tapi karena pedasnya makanan yang kita makan," kata Renatus berkelakar dengan nada menyindir.

Dari pondok kandang babi Barnabas yang didirikan 1 Februari 2018, kami melakukan perjalanan menuju Gonggang Singunung. Satu jam kami membutuhkan waktu untuk tiba di Singunung.

Udara di lokasi terasa sejuk. Di bagian samping kiri air terjun Singunung, terdapat dinding batu yang memiliki sela. Di sana bersarang ratusan bahkan ribuan ekor burung walet.

"Tidak ada yang berani masuk. Katanya ada ular di dalamnya," kata Jeki.

Setelah kami mengambil gambar, perjalanan kami lanjutkan untuk ke tingkat dua. Untuk menuju tingkat dua, kami naik dari arah kanan. Tanjakan naik cukup terjal dan panjang hingga sampai di punggung bukit. Untuk naik, kita harus memastikan kalau tempat pijakan kita kuat, serta akar atau kayu yang kita pegang sebagai pegangan kuat. Konsentrasi penuh untuk melalui tanjakan ini diperlukan agar tidak terjadi apa-apa.

Setelah kami sampai di punggung bukit, kami berjalan beberapa meter untuk kembali berada pada turunan tajam.

"Kalau jadi besok ini tempat wisata, perlu dibuat jalur lain selain lewat ini karena tanjakan dan turunannya terlalu sulit," kata Renatus.

Setelah turun dan berjalan di atas batu besar dan merayap di bagian kiri-kanan aliran sigonggang, kami sampai pada tingkat dua air terjun Singunung. Di bagian kiri tingkat dua, terdapat dua utas tali rotan panjang yang diikat pada bagian pohon di punggung bukit tempat munculnya air. Ini jalur dakian yang akan dilewati bila ingin naik untuk melihat air terjun tingkat terakhir.

Saya melihat Jeki dan Renatus naik memanjat tebing menggunakan tali dari rotan panjang. Sebelum naik, saya memastikan kembali apakah tali rotan itu kuat atau tidak. Butuh nyali kuat untuk melewati tebing ini karena kondisinya licin. Namun terbayar, setelah kami sampai pada lantai terakhir air terjun Singunung. Hutannya masih perawan.

Saat duduk bersantai melepas lelah di atas batu yang ada di dekat telaga air terjun. Jeki terkejut melihat ada pacet yang menempel di badan saya. Dengan sigap, saya mengambil rokok dan mengeluarkan tembakau untuk melepas mereka.

"Mereka lagi reunian," kata Riki Hendra sambil tertawa. Ia malah mengambil kamera untuk mendokumentasikan pacet itu.

"Biar aman, anti nyamuk oles atau semprot itu dioles pada bagian baju dan celana karena baunya tidak hilang. Kalau dioles bagian badan akan habis ketika kita berkeringat," kata Riki Hendra membuka rahasia.

Kami berada di atas hanya sekira satu jam, karena harus turun sebelum gelap atau sebelum hujan lebat. Tujuannya agar bisa melihat jalur turun yang ekstrim dari lantai tiga ke lantai dua dan dari lantai dua ke lantai satu. Juga bila hujan turun, maka air terjun akan meluap dan deras membuat penyeberangan di beberapa bagian akan sulit dilewati.

Kami sampai di pondok babi Barnabas sekira pukul 18.00 WIB. Untuk menuju air terjun dari pondok Barnabas hingga tingkat terakhir butuh waktu 1,5 jam. Di pondok, Barnabas terlihat sedang mempersiapkan makanan babinya dari batang sagu yang ditebangnya. Memang betul. Sekira 15 menit kami sampai, gerombolan babi datang menuju kandang satu persatu. Ada yang berukuran berat 100 kg dan ada juga yang masih kecil.

"Ini seakan tabungan saya untuk dua anak saya yang sedang kuliah," kata Barnabas.

Sekira pukul 20.00 sambil menunggu waktu makan, Jeki muncul sambil dari dapur sambil menjinjing Sirauma. Sirauma merupakan istilah monyet yang berhasil diburu. "Simaata paipai iate joja (yang panjang ekor adalah joja).......," kata Barnabas sambil menyanyi menjelaskan jenis buruan yang didapat.

Setelah dibakar dan dibersihkan, Jeki memasaknya dalam periuk dengan memakai bumbu sup sederhana yang ada di sekitar pondok kandang babi. Tercium aroma sedap ketika masakan matang. Saat bersiap untuk makan malam, tim pemetaan partisipatif suku Saleleu bersama YCM Mentawai sampai.

"Kami tersesat sehingga sampai malam begini," kata Rinus Parumba, staf YCM Mentawai yang ikut mendampingi masyarakat dalam melakukan pemetaan.

Malam itu, kami makan bersama dengan laukpauk sirauma. Tim pemetaan juga mendapat hasil tangkapan udang sungai yang seukuran ibu jari kaki orang dewasa. Makan malam kami terlihat lahap.

Keesokan harinya kami turun dan melakukan diskusi dengan perwakilan suku Saleleu pemilik lahan Gonggang Singunung, Saerejen dan Sautek Uleu dan Samongilailai. Tiga suku selain Saleleu merupakan suku pemilik lahan yang ada di sepanjang jalan menuju Singunung. Malam itu kami mendiskusikan soal rencana membuat Singunung jadi tempat wisata yang menarik.

"Yang dipersiapkan saat ini soal manusianya, bukan fisiknya. Kalau manusianya siap maka fisik akan menyusul kemudian," kata Riki Hendra.

Terkait dengan infrastruktur, dikatakan Riki tidak mesti harus dibuat jalan rabat beton. Namun dengan jalan setapak dan titian yang menarik akan membuat pesona Singunung lebih menarik. Juga akan dibuat lokasi pusat informasi, titik peristirahatan dan penginapan sederhana.

"Tempat beristirahat bisa dibuat dalam bentuk rumah pohon yang bisa memantau primata dan binatang yang ada di jalur Singunung," katanya.

Untuk mendiskusikan rancangan dan desain serta pelaksanaannya, masyarakat meminta adanya pertemuan besar dengan masyarakat Sirilanggai, Sibeuotcun dan Ukra agar mendapat dukungan semua pihak.

"Kita menyambut baik rencana ini, agar disambut baik dan terlaksana dengan baik oleh semua pihak maka perlu ada pertemuan besar bersama masyarakat, " kata Ajuar Anas Saleleu, tokoh muda Sirilanggai.

Riki mengatakan, modal utama yang dimiliki masyarakat saat ini yaitu kegotongroyongan dan kekeluargaan. "Dengan nilai kebersamaan dan kekeluargaan ini dapat menjadi modal utama, karena sulit ditemukan di tempat lain, " kata Riki yang ikut merancang dan mendesain wisata Wonorejo Solok Selatan

BACA JUGA