Hutan Penopang Eksistensi Budaya Mentawai

Hutan Penopang Eksistensi Budaya Mentawai Aman Boroi Ogok berbicara dalam FGD Gerakan Nasional Revolusi Mental, Hutan adat dan eksistensi budaya Mentawai. (Foto : Bambang/mentawaikita.com)

TUAPEIJAT—Eksistensi budaya Mentawai tidak lepas dari keberadaan hutan yang ada di lingkungan sekitar masyarakat Mentawai tinggal. Bila hutan habis maka masyarakat akan kehilangan budaya dan kehilangan jati diri. Hal ini menjadi pokok bahasan dalam Fokus Group Discucssion (FGD) Gerakan Nasional Revolusi Mental, Hutan adat dan eksistensi budaya Mentawai di Aula Kantor Bupati Mentawai, KM. 5 Tuapeijat, Sipora Utara, Kamis (20/9/2018).

"Kalau kita lihat masyarakat adat Mentawai seperti sikerei tanpa hutan mereka tidak akan bisa melakukam ritual dan aktifitas lainnya. Termasuk soal seni lainnya bagi masyarakat Mentawai yang berkaitan dengan hutan," kata Direktur Yayasan Citra Mandiri (YCM) Mentawai, Rifai.

FGD yang masuk dalam rangkaian Festival Masyarakat Adat 2018 yang dilaksanakan YCM Mentawai dalam Program Peduli-Kemitraan Partnership bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sanggar Uma Jaraik Sikerei, Muntei Kecamatan Siberut Selatan dibuka secara resmi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Mentawai, Nikolaus Sorot Ogok.

Aman Boroi Ogok Sakaliou, salah seorang sikerei dan juga tokoh budaya Mentawai mengatakan keberadaan hutan sangat penting bagi masyarakat adat Mentawai, terutama dalam kehidupan budaya.

"Arat Sabulungan, hutan tidak mau kami lepaskan karena di sana sumber kehidupan kami," katanya.

Aman Boroi menyebutkan, kabit (cawat), sampan, daun sikerei tidak ada di sungai, semua ada di hutan sehingga kelestarian hutan harus dijaga.

"Kemajuan tanpa adanya budaya tidak ada artinya, karena hutan adalah lambang kemandirian masyarakat adat Mentawai," katanya.

Nikolaus Sorot Ogok mengatakan, soal dukungan terhadap eksistensi budaya, pihak pemerintah Mentawai telah menambah satu lagi bidang yang menangani soal budaya.

"Pemda Mentawai saat ini sudah memiliki bidang yang menangani soal budaya, kita berharap kepada masyarakat memberikan masukan terkait budaya agar budaya Mentawai dapat terdokumentasikan dan terjaga," katanya.

Sementara Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial-Budaya Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Susilawati mengatakan dalam gerakan nasional revolusi mental, Presiden Joko Widodo menekankan soal gotong-royong.

"Revolusi Mental itu soal gotong-royong karena itu adalah nilai dan budaya Indonesia, " katanya.

FGD itu dihadiri oleh staf Badan Perencanaan Daerah, Staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta staf organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.

BACA JUGA