Baigi Sabelai, Pemanah Tradisional dari Saibi

Baigi Sabelai Pemanah Tradisional dari Saibi Baigi (berdiri paling kiri) bersiap ikut lomba memanah saat perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-73 di Saibi, Siberut Tengah, Mentawai. (Foto: Rinto Robertus Sanene)

SAIBISAMUKOP—Nama Baigi Sabeilai (52) sudah tidak asing lagi khususnya bagi warga Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Ia terkenal karena ketangkasannya memanah tradisional setiap perayaan Hari Kemerdekaan RI di bulan Agustus.

Meski belum pernah ikut perlombaan tingkat kabupaten atau tingkat lebih tinggi, namun Baigi sudah empat kali juara lomba memanah tingkat Kecamatan SIberut Tengah.

Selain populer dalam ketangkasannya memanah di tiap lomba, Baigi juga tangkas berburu hewan seperti babi, monyet dan hewan lainnya untuk keluarga, suku dan orang lain yang masih kerabat.

Baigi sudah belajar memanah sejak kecil, saat masih SD. Ia tinggal di Saibi hulu, di Dusun Sirisurak. Kegemaran memanah diawali permainan panah bersama teman-temannya di waktu kecil.

"Karena orangtua kami dulu mau ke ladang bawa panah, tanpa diajarkan atau disuruh kami buatlah rourou dan panah dari bambu dan kami mubea (latihan memanah dengan target tempurung kelapa), itulah permainan kami dulu," katanya,21 agustus.

Semakin besar, keahlian memanah Baigi makin terasah dan orangtuanya membuatkan rourou dan panah sebenarnya untuk berburu di hutan. "Mau cari manau atau ke ladang harus bawa rourou dan panah dari situlah kami memburu hewan seperti babi hutan, monyet ataupun hewan hutan yang dapat dimakan dagingnya dan hingga sekarang ini bisa memanah," ujarnya.

Saat ini, permainan memanah tidak lagi menjadi permainan anak-anak di Mentawai. Baigi khawatir, tradisi memanah tradisional akan semakin hilang jika tidak diajarkan kepada anak-anak. Ke depan, tidak ada lagi anak-anak Mentawai yang terampil memanah.

"Di Saibi Samukop ini tidak ada lagi sekarang yang saya lihat di kalangan anak-anak muda bisa memanah, mungkin ada juga satu-satu dari Saibi hulu dan itupun sudah sangat jarang, bahkan saya juga punya anak-anak tapi tidak punya minat untuk bisa memanah," ujarnya.

Solusinya agar budaya memanah tidak hilang, Pemerintah harus mengambil peran dalam memunculkan kembali generasi memanah ke depan agar tidak punah."Harapan kita memanah ini harus diajarkan semacam olah raga memanah melalui sekolah, jika tidak ini akan punah, bila perlu bantuan, kami yang bisa memanah tradisional ini dapat membantu untuk mengajarkan cara memanah dan saya sendiri siap untuk itu demi generasi kita ke depannya," ujarnya.

BACA JUGA