Pendiri Salam Yogyakarta: Pendidikan Itu Harus Memanusiakan Manusia

Pendiri Salam Yogyakarta Pendidikan Itu Harus Memanusiakan Manusia Sri Wahyaningsih, Pendiri Sanggar Anak Alam Yogyakarta (Foto: Zulfikar / www.mentawaikita.com)

Anak-anak harus menemukan sendiri jawaban dari sebuah kejadian yang dilihatnya dan mampu memberikan argumentasi menurut cara pandang dia. Dengan cara itu, sedari kecil anak-anak sudah dididik berpikir kritis dan mampu menemukan solusi terhadap sesuatu hal yang mereka alami.

SALAM merupakan sekolah alternatif yang digagas dan didirikan oleh Sri Wahyaningsih dan Toto Rahardjo di Kampung Nitiprayan, Kelurahan Ngestiharjo, Bantul, Provinsi Yogyakarta pada 20 Juni tahun 2000.

Sekolah yang didirikan perempuan kelahiran Klaten, 19 Desember 1961 ini menggagas dan mengembangkan model sekolah kehidupan yang menaruh fokus pada kemerdekaan belajar serta sikap sosial anak sejak dini.

Kurikulum yang diterapkan di SALAM berbeda dengan yang dipakai di sekolah formal. Anak-anak tersebut belajar tanpa seragam. Tempat belajar mereka berada di tengah hamparan sawah. Di SALAM tidak dikenal istilah guru, sanggar ini lebih suka memakai istilah fasilitator yang memfasilitasi anak-anak belajar dari realita yang dekat dengan mereka, belajar dari apa yang mereka sukai.

Wahya mengatakan, dengan belajar di alam anak-anak dapat belajar banyak hal, menemukan jati diri dari akar sosial budayanya sendiri. Menurutnya, untuk menciptakan manusia yang memahami potensi dan persoalan serta realitas kehidupan untuk bekal di masa mendatang tidak hanya sekadar memindahkan pengetahuan dari buku melalui guru yang mengajar kemudian didiktekan kepada murid.

Guru yang baik itu adalah guru yang mampu memfasilitasi si anak melakukan eksplorasi dari sesuatu hal sampai ia menemukan jawabannya sendiri. Pendidikan menurut dia harus memerdekakan, tidak terperintah, mampu berdikari dan memiliki disiplin.

Berikut wawancara wartawan Mentawai Kita, Gerson Merari Saleleubaja dengan Sri Wahyaningsih di Padang, Senin, 21 Mei.

Bagaimana ide awal pendirian Sanggar Anak Alam ini muncul?

Dulu awalnya saya di Banjarnegara, banyak anak putus sekolah dan pernikahan dini, kemudian saya juga melihat bahwa daerah subur kenapa kok masyarakatnya hidup miskin. Nah, karena tidak ada itikad baik dari pemerintah bagaimana sih mengolah pertanian, memajukan pertanian kek gitu ya, infrastrukturnya juga jelek, jalan dan listrik juga belum ada.

Kemudian hasil pertanian itu dinilai sangat rendah sehingga orang tidak termotivasi untuk bertani sehingga angkatan kerja itu lari ke kota-kota besar, mereka jadi buruh-buruh pabrik, jadi buruh-buruh bangunan seperti itu.

Nah, kemudian ketika saya di Yogyakarta saya bersama Romo YB Mangunwijaya dan di sana itu banyak orang urbanisasi yang dulu gagal transmigrasi dan kemudian tak bisa pulang terdampar di kota dan jadi gelandangan.

Di kota mereka jadi gelandangan, di kota sendiri mereka ga bisa mengolah atau bekerja, tidak bisa cari uang di sana, kalau tidak lari transmigrasi ya ke Jakarta.

Saya kemudian berpikir, ini pasti ada yang salah loh, kenapa sih daerah yang sangat subur dan sekolah itu mestinya sekolah itu menjawab kebutuhan hidup mereka. Tetapi kenapa sekolah tidak menjawab kebutuhan hidup mereka mereka? Berarti ini ada yang salah.

Akhirnya saya memutuskan pulang ke kampung dan menetap di sana. Saya sebagai pribadi gitu. Ketika saya di sana, saya menyelami kehidupan mereka, nah dan saya keliling ke SD-SD dan SD itu kelas I sampai kelas III itu masih banyak, 60-50 orang namun sampai kelas VI itu paling yang tinggal itu delapan orang, paling banyak itu 15 orang.

Penyebabnya apa?

Karena hilang satu-satu (putus sekolah) di jalan karena sudah pada ada yang dinikahkan, karena ada yang ndak naik kelas kemudian orang tuanya tidak mau melanjutkan. Sementara di rumah, karena sekolahnya sekolah hafalan yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan, sementara di rumah itu mereka juga dibebani harus nyari rumput, harus apa. Sehingga di sekolah itu mereka ngantuk, tidur akhirnya dia tidak naik kelas. Karena tidak naik kelas kemudian orang tua bilang udahlah ga usah sekolah aja.

Yang penting sudah bisa baca, bisa menulis, ijazah juga untuk apa, palingan cuma jadi buruh lagi, tidak ada motivasi untuk menyekolahkan, tetapi saya dengan apa yang mereka paparkan itu dan apa yang saya lihat, saya juga ga nyalahkan juga kalau mereka ga mau menyekolahkan.

Kemudian kalau yang sudah lulus itu, lulus SD kemudian tidak mau bantu orangtuanya lagi karena mereka sudah terbiasa pakai seragam, biasa pakai sepatu, tiba-tiba pekerjaan petani kan harus ke ladang, harus bawa cangkul, harus berkotor-kotor kayak gitu ya, cari rumput. Ini orang tuanya jadi dilematis, tak sekolahin akhirnya tak jadi bertani akhirnya lari jadi buruh, ndak sekolah juga larinya jadi buruh, ngapain sekolah.

Trus, apa yang pas ya? Kenapa sih lahan sebegitu luas dan hasil pertanian juga melimpah kenapa tidak ada sentuhan sama sekali ya. Kayu bambu itu juga melimpah tapi cuma sekadar kayu bakar aja, pinus itu banyak dan itu juga hanya untuk kayu bakar aja. Padahal saya lihat cantik banget itu, mata-matanya itu untuk mebel cantik sekali itu. Itu terjadi sekitar tahun 1980-an.

Trus saya mencoba mendekati, anak-anak itu diajak ke rumah, ternyata anak-anak itu senang banget itu, kumpul di tempat saya waktu itu sekitar 160-an orang anak.

Namun saat itu saya baru nyari model pendidikannya, tapi Saya yakin pendidikan itu sebagai pintu masuk kebangkitan mereka, saya yakin, cuma bentuknya seperti apa gitu, kalau sekolah pada umumnya susah gitu ga bisa. Kemudian saya baca buku seperti sekolah yang membebaskan. Belajar dari masalah kayak gitu, itu kan ada permasalahan di kampung itu.

Akhirnya anak-anak itu tak bikin kelompok seperti itu kemudian suruh mengamati di pasar, ngamati di ladang, ngamati masyarakat setempat. Trus kemudian datang, kumpul kami diskusi, nah di situ muncul, masalah-masalah yang ada, ternyata kita punya pasar ternyata kok orangnya bukan, eh kita tidak bisa memanfaatkan justru orang luar yang memanfaatkan. Dan ada lahan-lahan masih kosong tidak dikerjakan.

Ada hasil pertanian tapi tidak diolah dan itu hasilnya dijual sangat murah. Nah dari situ akhirnya muncul, oh langkah-langkah misalnya dengan riset, dengan apa, di situ saya menemukan di sana seperti isu pangan, isu kesehatan, sosial budaya dan lingkungan hidup, itu muncul dari pengalaman-pengalaman nyata.

Saya kemudian berinisiatif membuat sebuah kelompok belajar (sekolah sore) dengan kegiatan pertukangan, perkebunan, peternakan, dan sebagainya.

Setelah dari Banjarnegara kemudian di mana lagi?

Saat pindah ke Bantul, saya mencoba untuk memfasilitasi masalah yang dihadapi keluarga-keluarga di sekitar. Ternyata yang menjadi masalah adalah pendidikan seperti yang terjadi di Banjarnegara. Itu istilahnya pra sekolah dan ketika saya pindah ke Jogya itu saya terapkan.

Kemudian saya mencoba memulai apa yang pernah saya lakukan di Banjarnegara yakni membuka pendidikan kepada anak-anak.

Pada tahun 2000 saya kemudian mencoba merintis sekolah seperti yang pernah lakukan di Banjarnegara. Perspektif Sanggar Anak Alam di Nitiprayan dibangun ke arah menciptakan ruang riang untuk belajar. Kegiatan awal yang saya inisiasi adalah pendampingan remaja. Bersama beberapa kawan, sebuah komunitas dan beberapa relawan mahasiswa.

Bagaimana konsep pendidikan ini?

Saya mulainya belajar dari pengalaman, kebetulan saya baca-baca buku seperti bukunya Ki Hajar Dewantara yang ada Tri Sentra bahwa pendidikan itu tidak lepas dari keluarga, sekolah atau perguruan, dan masyarakat. Pendidikan tidak bisa bertepuk. Bahwa semua orang itu punya kodratnya masing-masing, nah dari situ akhirnya saya memulai. Ya, kami punya metode among gitu ya, Tut Wuri Handayani. Dari perkembangan-perkembangan itu kami memulai merumuskan kembali.

Lalu metode belajar apa yang SALAM gunakan?

SALAM punya motto Mendengar, saya lupa; Melihat, saya ingat; Melakukan, saya paham; Menemukan sendiri, saya kuasai". Metode Pendidikan harus keluar dari sekolah hafalan. Metode riset merupakan cara membuat anak tahu. Dengan riset anak-anak menemukan jawaban.

Dari riset yang dilakukan, fasilitator melalui diskusi bersama di kelas mengarahkan mana yang ke matematika, mana yang ke IPS, mana yang ke IPA.

Riset belajar. Menurut saya sekolah hafalan adalah tingkat intelektual yang paling rendah. Sehingga pada kelas I-III misalnya fokus berhitung dan membaca dengan menerapkan metode belajar riset bersama di lapangan terhadap suatu perisitwa atau kejadian yang riil di lingkungan anak. Dengan riset ini mereka mampu menemukan pengetahuannya sendiri. Mereka mampu menemukan kesimpulan dari eksplorasi yang mereka lakukan.

Kita tidak membelenggu anak soal apa yang harus dipelajari namun difasilitasi apa menurut dia yang menarik, bakat apa yang dia miliki. Metode pendidikan yang kami terapkan berorientasi pada aksi nyata dengan menjadikan alam lingkungannya sebagai laboratorium belajar.

Misalnya si anak menyukai musik gitar, anak tersebut diberi kebebasan memainkan alat musik tersebut sampai ia menemukan nada yang pas buat dirinya sehingga anak menikmati prosesnya.

Kelas bagi kami hanya menjadi tempat mendiskusikan hasil riset yang dilakukan oleh anak-anak yang dibantu fasilitator.

Pada sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah yang diambil itu kompetensi dasarnya, misalnya kelas I itu harus mampu apa, tetapi metode riset harus lanjut. Contoh anak SALAM diminta melakukan riset tentang ikan di pasar, dari sana ia belajar berhitung berapa jumlah ikan yang ada secara sederhana, meski belum mampu menuliskan angka satu, dua atau tiga namun dia sudah mulai belajar hitungan dengan menggunakan media yang ada di lingkunganya. Bisa saja dengan menghitung jumlah temannya.

Pendidikan itu harus kritis jika tidak sama dengan sekolah gajah, kenapa sekolah gajah saat lingkungannya dirusak maka dia mengamuk, namun ketika disekolahkan yang terjadi apa, dia disuruh apa saja mau seperti mengangkat kayu dan sebagainya.

Pendidikan itu untuk memanusiakan manusia, pendidikan yang memerdekakan, tidak terperintah, mampu berdiri di atas kaki sendiri dan disiplin.

Sehingga untuk mencapai itu guru harus berfungsi sebagai fasilitator, di SALAM tidak ada guru yang ada fasilitator yang mendampingi riset yang dilakukan anak-anak. Guru yang baik adalah guru yang memfasilitasi sianak sampai dia menemukan jawabannya sendiri. Contoh ketika sianak melakukan riset belajar soal bayam dia harus menemukan jawabannya, berapa lama bayam itu tumbuh hingga apa saja guna bayam itu.

Semua proses pertumbuhan bayam itu ia amati dan kemudian dituliskan, dari sana ia belajar berhitung, lama pertumbuhan. Guru di SALAM hanya memfasilitasi, bagaimana kelas itu berjalan sesuai dengan kesepakatan anak-anak. Hal yang difasilitasi oleh fasilitator hanya berupa topik riset saja.

Apa prinsip Sanggar Anak Alam?

Awal nama sekolah anak alam ini dari anak-anak sendiri, waktu kami di Lawen masih di pegunungan dan kemudian anak-anak sudah pada kumpul kemudian disebutkan kita ini kan anak alam, sanggar anak alam, kita sudah kumpul, kita punya kegiatan tapi ndak punya nama akhirnya ngobrol-ngobol dan sampai ketemu nama Sanggar Anak Alam. Kenapa nama itu sebab mengandung nilai originilitas

SALAM menitikberatkan pendidikan pada empat prinsip berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia yakni: pangan, kesehatan, lingkungan hidup dan sosial budaya. Maka SALAM mengambil tema itu sebagai perspektif yang bisa dikembangkan dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Kenapa memilih empat hal itu? sebab itu masalah yang sangat mendasar, ini kan pendidikan dasar, kalau pangan, kesehatan, lingkungan hidup sosial budaya. Menurut saya ini masalah yang sangat mendasar, dan itu mestinya pendidikan dasar ya kita bicara hal-hal yang sangat mendasar.

Bagaimana cara memformulasikan konsep itu menjadi sebuah pelajaran?

Misalnya mereka punya kompetensi dasar yang di pemerintah misalnya anak mampu mengenal wilayah, nah inikan tinggal buka aja, tadi kan anak-anak sudah belajar tentang peta, tadi risetnya tentang rendang, rendang itu darimana, makanan khas dari mana, oh Padang, Padang itu ada dimana, ya kita buka peta aja, oh Padang ada di Sumatera Barat, Sumatera Barat itu selain Padang mana saja, trus kalau di seluruh Indonesia ini ada berapa provinsi. Nah, inikan sudah masuk geografi, jadi satu tema diperluas.

Kalau kita omongin sejarah, oke belajar dari rendang tadi, rendang di Padang, sejarah kita melihat yang Padang itu apa saja, banyak tokoh-tokoh dari sini, kita cari.

Pelajaran sejarah juga bisa dimulai dari sejarah mereka sendiri dari silsilah dari keluarga mereka sendiri jadi banyak hal yang bisa ditentukan.

Ya, empat hal ini sangat berhubungan, manusia hidup tidak bisa dilepaskan dari itu, pangan sejak lahir kita berhubungan dengan pangan, kesehatan otomatis kita berhubungan dengan kesehatan. Lingkungan dimana kita tinggal ya kita harus ciptakan lingkungan hidup yang baik dan alami, dan budaya itu salah satu upaya bagaimana mempertahankan hidup kan dari kebudayaan.

Jadi kebudayaan bukan hanya seni aja namun masalah equal masalah kehidupan.

Dengan belajar di alam menumbuhkan kecintaan kepada anak tentang penghargaan terhadap nilai cinta kepada alam. Anak-anak diajak belajar dari sesuatu yang nyata dan yang mereka temui sehari-hari. Kebetulan sekolah berada di lingkungan persawahan maka mereka belajar bagaimana cara mengolah tanah, merawat tanaman, panen sampai ke pengolahan hasil panen yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan ataupun usianya.

Jika anak-anak belajar dari yang mereka sukai membuat mereka senang sehingga mereka tidak terbebani. Riset dengan lingkungan sekitarnya menimbulkan kepekaan terhadap diri sianak terhadap lingkungan. Mereka menghargai apa yang mereka hasilkan dan bekerja sama dan mempunyai rasa percaya diri kuat karena diajarkan berargumen dengan teman-temannya terhadap sesuatu yang mereka hasilkan dari riset.

Begitu juga dengan halnya kesehatan, diajarkan dengan cara menyiapkan alat makan sendiri dan mencucinya setelah dipakai ketika makan di sekolah. Tak lupa bersama fasilitator mereka membahas apa saja kandungan makanan yang mereka makan.

Anak-anak dilatih selektif terhadap makanan yang beredar di pasar, mereka diajak mendiskusikan makanan yang banyak dijajakan dan diiklankan secara gencar di televisi, seperti kandungannya, sejauh mana bahayanya jika dikonsumsi terus-menerus, dan akibatnya terhadap kesehatan. Contoh mie, apa isi kandungan mie, berapa jarak tempuh distribusi mie yang mereka makan hingga sampai di tempat mereka, kemudian bahayanya apa jika dimakan terus menerus.

Melalui proses itu anak-anak secara tidak langsung sedang belajar satuan jarak, kemudian kandungannya apa saja. Penekanan dalam pembahasan disesuaikan dengan tema saat itu.

Sehingga mereka sadar dan mengambil keputusan sendiri untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut, bukan karena mereka dilarang memakannya.

Lalu bagaimana cara menilai kemajuan pendidikan anak di rapor?

Penilaian tetap ada, namun tidak memakai angka namun narasi. Pada akhir semester, hasil riset dipresentasikan dalam berbagai bentuk seperti pameran atau pertunjukan. Dengan metode seperti ini, anak-anak dilatih untuk memerdekakan diri mereka. Belajar apa yang mereka sukai.

Bagaimana dengan peran orang tua sendiri di SALAM?

Di SALAM untuk kelas IV-Kelas VI melakukan riset Mandiri, di sini melibatkan ada tiga unsur yakni peran anak-anak, fasilitator dan orang tua. Riset mandiri harus dibantu oleh orang tua menemukan jawaban sesuai dengan kompetensinya. Saat melakukan ini diperlukan keterbukaan orang tua dan fasilitator, biarkan anak menentukan apa yang perlu ia ketahui agar saat melakukan riset ia menyenanginya.

Memang orangtua awalnya menolak mereka komentar ini kan jadi tanggung jawab sekolah kami bayar sudah selesai. Namun pertanyaannnya adalah siapa yang punya hak asuh sebenarnya terhadap anak, tentu orang tua mereka harus ikut. Namun setelah lama kelamaan orangtua justru menikmati riset yang dilakukan anak-anaknya.

Orangtua sangat dilibatkan, artinya jika di sekolah anak belajar tentang kejujuran maka nilai itu juga harus dipraktikkan oleh orangtuanya di rumah karena akan dicontoh oleh sianak.

Untuk menciptakan suasana kekeluargaan, SALAM melakukan sekolah ke rumah-rumah warga, misalnya meriset soal masakan, atau soal batik. Di situ anak-anak akan saling kenal begitu juga orang tua saling kenal.

Apakah ada kendala lulusan sekolah SALAM melanjut di sekolah umum dengan adanya perbedaan metode pendidikan itu?

Tidak, tidak terkendala, dan memang sangat mungkin, sebab yang kami bangun itu logika berpikir dan kemudian kalau IPA, IPS, Matematika inikan pembagian parsial itu, kami mempelajari itu.

Cuma kami tidak memulai dari pendekatan mata pelajaran tetapi dari peristiwa gitu. Kami membangun peristiwa, Kemudian peristiwa itu akan dibawa kemana matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Pendidikan Kewarganegaran, Pancasila ya dari materi itu, materi yang ditemukan oleh anak-anak itu sendiri.

Bagaimana pendapat Anda terhadap sistem pendidikan nasional seperti Kurikulum 2013 saat ini?

Sudah macet, itu kan yang diubah kan bukan hal yang mendasar, itu hanya polesan-polesan saja. Metode, saya bicara bukan pada tataran metode, tetapi saya bicara pada tataran paradigma.

Lebih kepada perspektifnya, ya ini ada bahasa yang lebih sulit ya, dari sistematik menjadi sistemik. Kalau sistemik apa yang dibicarakan itu ada yang misalnya siapa peserta didik, apa yang didikkan, siapa yang mendidik dan, nah ini hal-hal yang sangat mendasar dan lingkungan pendidikan pelaksanaannya, waktunya.

Ini harus nampak dan sebetulnya di Indonesia ini kan yang membuat macet pendidikan itu karena upaya penyeragaman itu sementara kita sadar ini tidak seragam, masing-masing wilayah itu kita punya karakter sendiri-sendiri, punya potensi masing-masing.

Ini aja cara pandang pemerintah itu berbeda ketika kita memandang orang Mentawai dengan pemerintah kan berbeda.

Kenapa upaya pemerintah yang mau memanusiakan manusia berarti harus mengembalikan orang Mentawai jadi orang Mentawai dan mereka hidup dengan segala kehidupannya. Tapi ini keputusannya direlokasi, apakah di lokasi yang baru mereka bisa hidup? Mereka bisa melangsungkan kehidupannya? Kan malah akan punah bahkan.

Mestinya pendidikan itu upaya manusia untuk memanusiakan manusia, pendidikan yang menyeragamkan itu pendidikan yang sangat tidak pas dan ini kecelakaan peradaban.

Pendidikan itu harus didesain sedemikian rupa yang mampu mengakomodir keberagaman bukan menyeragamkan. Banyak keberagaman di Indonesia tapi tidak boleh diseragamkan.

Seperti contoh program pemberantasan buta huruf, menurut saya buta huruf itu bukan tidak tahu apa-apa namun tiap daerah punya aksara yang dikenal oleh orang lokal.

Membaca bukan hanya huruf latin tapi suasana atau kepekaan hidup itu yang penting. Contoh orang hidup di daerah pesisir dan orang yang hidup di bukit mereka memiliki kemampuan membaca tanda-tanda alam di sekitarnya.

Pendidikan yang mengindonesia harus memiliki syarat yakni menyadari keberagaman sumber daya alam, kepercayaan dan budaya.

Akibatnya?

Akibatnya kita sebagai bangsa yang besar tidak bisa membuktikan apa-apa, kita jadi follower aja, kita membandingkan pendidikan kita dengan Amerika dengan Finlandia, ya ga bisa wong ini negara Indonesia, emang sama kita dengan Finlandia? Itu namanya pengingkaran diri.

BACA JUGA